Konten dari Pengguna

Saat Keluarga Jadi Beban: Menatap Realita Home Sweet Loan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Aidil Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di kota-kota besar seperti Jakarta, makna rumah bagi pekerja kelas menengah telah bergeser jauh. Rumah tak lagi hanya soal perlindungan dari hujan dan terik, tetapi juga soal ruang privat, ukuran keberhasilan hidup, dan aset yang harganya terasa makin tak terjangkau. Realitas tentang upaya mandiri secara finansial demi memiliki hunian ini diangkat Almira Bastari dalam novel Home Sweet Loan (2022).

Di dunia sastra populer Indonesia, terutama di jalur metropop, novel ini terasa berbeda dari kebanyakan. Selama ini metropop identik dengan cerita cinta yang berlatar kehidupan orang-orang berduit dan gaya hidup mewah. Almira memilih arah lain: ia justru menyorot keseharian kelas menengah bawah (lower-middle class) yang harus berjuang keras untuk bertahan.

Ilustrasi rumah di jakarta.pexels.Foto oleh just a hobby: https://www.pexels.com/id-id/foto/pemandangan-udara-desa-pedesaan-dengan-ladang-hijau-34438792/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi rumah di jakarta.pexels.Foto oleh just a hobby: https://www.pexels.com/id-id/foto/pemandangan-udara-desa-pedesaan-dengan-ladang-hijau-34438792/

Melalui kacamata analisis sosiologi sastra, Home Sweet Loan bukan sekadar bacaan hiburan, melainkan cermin kritis atas realitas sosial generasi milenial dan Gen Z hari ini.

Kaluna dan Realita Pahit Generasi Sandwich

Narasi Home Sweet Loan bertumpu pada tokoh Kaluna, seorang pegawai general affair di kawasan Sudirman, Jakarta, yang berpenghasilan kurang dari sepuluh juta rupiah per bulan. Ia memiliki satu cita-cita yang tampak sederhana namun sulit diwujudkan, yakni memiliki rumah sendiri agar dapat meninggalkan rumah orang tuanya yang dihuni tiga keluarga sekaligus.Tokoh Kaluna mewakili fenomena sosial yang dikenal luas sebagai sandwich generation sebuah posisi terhimpit di mana seseorang harus menopang kebutuhan ekonomi orang tua sekaligus saudaranya.

Permasalahan mencapai puncaknya saat tabungan Kaluna, yang ia kumpulkan susah payah, termasuk lewat kerja sampingan sebagai model bibir, terancam habis gara-gara masalah keuangan yang ditimbulkan keluarganya sendiri. Lewat bagian ini, Almira Bastari mempertanyakan cara pandang kita yang biasa tentang “keluarga”. Keluarga yang seharusnya jadi tempat paling aman (safe space) ternyata, dalam kondisi sosial tertentu, bisa berubah menjadi sumber beban perasaan sekaligus beban uang yang menghambat seseorang untuk maju.

KPR vs Tabungan: Misi Hampir Mustahil Generasi Milenial

Salah satu kekuatan Home Sweet Loan ada pada riset yang dalam dan keberanian penulisnya membahas hal-hal teknis soal literasi finansial, mulai dari cara kerja KPR, simulasi menabung, sampai klaim promosi properti yang sering menyesatkan. Persoalan gaji yang naik pelan sementara harga rumah melesat disampaikan tanpa terasa menggurui, lewat obrolan Kaluna dengan tiga sahabatnya. Tanisha berusaha menjaga kenyamanan rumah tangganya di tengah pernikahan jarak jauh, Miya terjebak tuntutan gaya hidup dan citra di mata orang lain, dan Danan yang awalnya santai akhirnya sadar bahwa aset jangka panjang itu penting. Dari semua itu, novel ini diam-diam merekam rasa putus asa generasi muda, yang kini tidak lagi bertanya “mau atau tidak”, tetapi “mampu atau tidak” membeli rumah.

Humor di Tengah Tekanan Hidup: Cara Home Sweet Loan Menertawakan Realita Pahit

Ketegangan dalam Home Sweet Loan bisa terjaga berkat kepiawaian Almira Bastari memainkan gaya bahasa khas metropop. Soal krisis keuangan, beban keluarga, dan rasa putus asa pekerja kota besar, ia tidak menulisnya dengan nada menyeramkan atau terlalu melankolis. Semua itu justru dibalut humor satir, percakapan yang cepat dan terasa seperti obrolan anak muda kota, serta celetukan reflektif yang dekat sekali dengan hidup pembacanya sehari-hari.

Di kehidupan nyata, bercanda sering jadi cara paling ampuh bagi para pekerja untuk bertahan saat uang terasa serba kurang. Novel ini menangkap kebiasaan itu dengan pas. Lewat persahabatan Kaluna, Tanisha, Miya, dan Danan, kita melihat empat orang dengan kondisi ekonomi berbeda-beda yang saling menguatkan di tengah tumpukan masalah hidup.