Konten dari Pengguna

Lomba Cerdas Cermat, Josepha dan Kebenaran yang Dibungkam

Gandazon H Turnip

Gandazon H Turnip

Mahasiswa Fisika di Universitas Sumatera Utara

ยทwaktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gandazon H Turnip tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi kemenangan by pixels
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi kemenangan by pixels

Josepha Alexandra namanya, suaranya kecil dan sunyi namun dari suara yang kecil dan sunyi itu beralih menjadi suara yang tak mampu dibendung oleh tembok besar kekuasaan dan seluruh seantero negeri akhirnya mendengar suara yang tak terlalu keras dan lantang itu, suara itu kini tak hanya terdengar di gedung pertandingan itu saja namun telah sampai ke telinga seantero Nusantara, keteguhan hati dan pikirannya membuat suara itu didengar hingga ke ujung bumi Pertiwi pun menjadi simbol perlawanan pada negeri yang seolah bungkam terhadap segala kebenaran. Dan menjadi tanda perlawanan terhadap kekuasaan yang semena-mena. Suara itu memekikkan telinga pemimpin di negeri ini yang abai terhadap keadilan pun suara itu membuka tabir dengan jelas bagaimana negara ini dikelola dengan cara yang serampangan.

Lomba cerdas cermat empat pilar MPR RI yang baru saja dilaksanakan di tingkat provinsi kalimantan Barat seharusnya menjadi panggung untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, namun nyatanya panggung itu menjadi arena yang menunjukkan betapa bobroknya kekuasaan hari ini. Kekuasaan yang antikritik, kekuasaan yang tidak mau dikoreksi pun kekuasaan yang dipenuhi dengan manusia-manusia politik yang hipokrit serta mendewakan hidup yang pragmatis. Hari demi hari pembungkaman demokrasi semakin nyata dan terpampang jelas di hadapan dan ditelinga kita.

Dalam kutipannya salah seorang filsuf terkenal Derrida pernah berujar "apa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata diatas segalanya janganlah dibungkam, melainkan harus dituliskan"

Dewan juri seharusnya memberikan telinganya pada Josepha dan mendengarkan dengan baik, sebab panggung itu bukan untuk bungkam membungkam, namun untuk menguji nalar anak bangsa sebagai bagian dari upaya menciptakan semangat berpendidikan di negeri ini.

Dewan juri tidak seharusnya memberikan alasan yang tidak masuk akal untuk hal-hal yang dimana peserta menyikapinya dengan serius.

Banyak anggapan setelahnya yang menyebut bahwa Dewan juri dan MC telah bersekongkol untuk memenangkan salah satu sekolah karena telah diberikan pelicin sebelum pertandingan dimulai, dan anggapan ini wajar-wajar saja mengingat budaya dan kebiasaan setiap instansi di negeri ini. Jikapun anggapan ini nantinya keliru dan saya berharap LCC ini murni dan bukan ditunggangi, telah menegaskan bahwa sebegitu rendahnya kepercayaan masyarakat kepada para pengelola dan pemangku kebijakan penting di negara ini.

Pembiaran yang dilakukan oleh negara ini kini telah melukai dan merusak sebuah instansi dengan terang terangan, instansi yang digadang-gadang menjadi ladang untuk menghasilkan bibit-bibit unggul yang akan meneruskan perjuangan bangsa ini telah dirusak perlahan-lahan oleh kekuasaan yang arogan.

Kasus penyiraman air keras, pembubaran nonton bareng pesta babi, menggandeng media-media homeless pun LCC yang penuh kontroversi telah melukai bangsa ini dan semakin memberikan bukti bahwa pembungkaman itu sudah semakin nyata dan ada di depan mata. Siapa yang tidak sejalan dan ikut arus dengan gerbong yang ingin merusak negara ini, maka ia harus sudah siap sedia untuk mengalami alienasi.

Kemudian skeptisisme baru kembali muncul dari penulis, apakah ini disengaja untuk mengaburkan seluruh penyelidikan peristiwa penting yang terjadi di negeri ini? Sebab sebelum kontroversi di LCC ini banyak kasus yang mencoreng nama baik pemerintah terutama seperti penyiraman air keras pun nobar pesta babi yang digeruduk paksa.

Negeri ini tidak sedang baik-baik saja, negeri ini seperti mengalami kemunduran dalam hal berdemokrasi, TNI hadir untuk mengurus perut rakyat, Polri hadir menjadi juru masak dapur

Sementara anak-anak yang pintar dibungkam dengan pernyataan "juri sudah kompeten di bidangnya" Seolah juri adalah Tuhan yang tak mungkin salah.

Berita baiknya adalah juri dan MC Lomba Cerdas Cermat langsung diberikan tindakan oleh MPR dengan cepat pun berita terbaru ketua komisi di MPR sudah berbicara melalui handphone dengan Josepha perihal permintaan maaf plus pemberian beasiswa kepadanya jika kelak Josepha sudah tamat SMA.

Dari Josepha kita belajar bahwa suara kebenaran itu harus terus dibunyikan sampai ia menemukan kebenarannya seperti slogan dalam bahasa Sanskerta yang sering dikutip oleh Megawati Soekarno Putri "Satyam Eva Jayate" bahwa Kebenaran akan selalu menang.

Dalam tradisi Indonesia memang sulit untuk bersikap seperti Josepha, sebab mental kolonialisme itu masih mendarah daging dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kebenaran itu masih subjektif dan eksklusif hanya milik orang-orang berduit dan berkuasa, engkau berduit engkau berkuasa, engkau berkuasa engkau punya segalanya. Dan itu harus diubahkan secepatnya

Namun sekali lagi Josepha telah menunjukkan bahwa perjuangan dan keteguhan pada kebenaran pada akhirnya akan mendatangkan kemenangan, semesta akan bahu membahu untuk mewujudkan kemenangan jika kita mengusahakannya. Pun berbagai catatan Sejarah mendukung dan menyediakan buktinya.

Suara Josepha telah menjadi tameng bagi suara-suara anak negeri yang takut bersuara, yang tertindas dan mengalami intimidasi dikemudian hari, bahwa suara kecil yang penuh dengan makna dan kebenaran akan menemukan tempat yang seharusnya, maka dari itu bersuaralah untuk kebenaran dan keadilan, mungkin kalimat itu sederhana dan kecil, seperti kata yang keluar dari mulut Josepha yang menolak tunduk pada kekuasaan "izin pak" Hanya dua kata, namun dari dua kata mungil itu perlawanan itu dimulai dan pada akhirnya menemukan singgasananya. Pelajarannya adalah jika dilihat dari sudut pandang demokrasi maka Josepha kalah, namun dalam hal substansi Josepha menang.

Teruntuk negeri tercinta Indonesia cepatlah pulih dan bangkit kembali sebab walau banyak yang ingin melukaimu tidak sedikit juga yang peduli dan mencintaimu serta akan merawatmu sampai masanya tiba.