Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.99.0
Konten dari Pengguna
Mencintai Empirisme, Mengimani Transenden
28 Februari 2025 11:49 WIB
·
waktu baca 4 menitTulisan dari Gandazon H Turnip tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Para pemikir modern terbagi dalam dua sudut pandang mengenai pemaknaan hidup, antara empirisme dan transenden. Sains dan filsafat akan cenderung lebih condong kepada sifat empirisme untuk memahami dunia melalui logika dan pengetahuan, sementara penganut transenden berkeyakinan bahwa ada hal-hal yang tidak dapat sepenuhnya dijangkau oleh sains dan filsafat, seperti nilai dan norma serta makna kehidupan.
ADVERTISEMENT
Para penganut pandangan transenden akan mengutamakan tradisi spiritual yang telah berlangsung selama berabad-abad, sementara penganut empirisme akan menggunakan akal dan logika untuk memahami dunia secara utuh. Menariknya dialog antara sains, filsafat dan agama akan memberikan kita sebuah pemahaman baru, untuk menyikapi dunia secara utuh dan mempertanyakan tentang makna dan nilai hidup yang tidak selalu harus diukur dari realitas fisik semata.
Salah satu filsuf ateisme Sigmund Freud yang mendalami bidang psikologi serta mendirikan aliran psikoanalisis mengungkapkan dalam teori kepribadiannya, bahwa praktik beragama dan spritualitas merupakan fenomena yang menyatakan ketidakmampuan manusia di dalam menyelesaikan berbagai persoalan hidup. Lebih lagi menurut Freud, keyakinan spiritualitas merupakan bentuk pertahanan diri untuk mengurangi beban hidup.
Dalam buku-buku yang diterbitkannya seperti Totem and Tabu, Moses and Monotheisme dan Nine Theories of Religion, Freud menyatakan bahwa agama adalah ilusi, neurosis serta menghambat daya berfikir kritis. Freud melihat agama sebagai reaksi manusia atas ketakutannya sendiri, bahkan dalam bukunya Totem and Tabu (1913), Freud mengungkapkan bahwa Tuhan merupakan refleksi dari Oedipus complex, yakni kebencian terhadap ayah yang dimanifestasikan sebagai ketakutan kepada Tuhan.
ADVERTISEMENT
Bagi Sigmon Freud beserta penganut paham sealirannya, dunia itu dapat dipahami secara logika dengan memanfaatkan sains dan filsafat untuk mencari kebenaran tentang kehidupan. Namun di saat sains dan filsafat mampu menjelaskan segala sesuatu yang berbentuk empiris dengan baik, serta berhasil mempercepat laju ilmu pengetahuan dengan terlepas dari mitos dan kepercayaan. Pandangan ini menemui kebuntuan ketika dihadapkan dengan sesuatu yang transenden mengenai fenomena kesadaran manusia yang sangat kompleks, pengalaman subjektif seperti makna hidup, etika dan moralitas serta pengalaman spritualitas.
Sementara Thomas Aquinas seorang teolog kitab suci yang juga seorang pendeta, mengemukakan pandangannya bahwa iman dan pengetahuan ilmiah sama-sama memiliki kepastian subjektif. Thomas juga percaya bahwa iman dan akal budi dapat digunakan untuk memahami seluruh alam semesta serta makna kehidupan yang berpusat pada pengetahuan transenden. Thomas Aquinas juga berpendapat bahwa harus ada yang benar-benar satu dan awal dan ia menyebutnya sebagai Tuhan. Thomas menggunakan argumen kosmologis, antologis, dan teologis untuk membuktikan keberadaan Allah. Thomas Aquinas juga berpendapat bahwa Tuhan adalah sebab efisiensi utama dari seluruh alam semesta, serta eksistensi murni yang ada pada diriNya sendiri tanpa bergantung terhadap faktor eksternal.
ADVERTISEMENT
Sains dan filsafat harus menyadari keterbatasan yang mereka berikan, terlebih lagi menyangkut realitas transenden tentang pemaknaan hidup serta moralitas. Sehingga keterbukaan penerimaan terhadap iman tidak dianggap sebagai pelarian dari realitas, namun untuk melengkapi rasionalitas manusia. Keberadaan Tuhan bukan hanya hipotesis ilmiah belaka, namun keyakinan dasar rasionalitas manusia. Oleh karena itu perlu untuk membahas iman dan sains secara berdampingan di dalam pencarian kebenaran dan pemaknaan akan hidup.
Di dalam pendekatan epistemologi modern, iman terhadap Tuhan sering dianggap sebagai sumber yang mempercepat laju perkembangan sains. John Polkinghorne seorang fisikawan teoretikal dan teolog, memiliki pandangan bahwa iman dan agama dapat dipertimbangkan secara rasional dan tidak perlu ada pihak yang takut karena keduanya sama-sama berpusat pada pencarian tentang kebenaran.
ADVERTISEMENT
Bahkan dalam pengamatan Paus St. Yohanes Paulus II, “Sains dapat memurnikan agama dari mitos dan takhayul, sebaliknya agama dapat memurnikan sains dari penyembahan berhala dan kepalsuan yang mutlak”.
Kepercayaan terhadap dimensi spiritual tidak selalu berarti tunduk pada dogma, melainkan menjadi respons terhadap bukti yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan dengan pendekatan empiris. Dalam hal ini, sains dianggap mampu mengungkap hukum-hukum alam, tetapi jawaban tentang makna akhir, tujuan hidup, atau asal-usul nilai moral yang mendalam, berada di luar jangkauan sains. Oleh karena itu, diperlukan keterbukaan terhadap pemahaman mengenai realitas transenden yang melampaui sekadar proses fisik, tanpa mengorbankan prinsip rasionalitas dan kebebasan berpikir.
Empirisme maupun transenden harus kita pahami sebagai sebuah pemikiran yang pada akhirnya memiliki satu tujuan yang sama, untuk menemukan makna dan tujuan hidup. Sebab kemegahan sains dan filsafat dengan empirismenya yang mampu mengungkap misteri alam seperti hukum gravitasi hingga mekanika kuantum, akan kelihatan tidak berdaya saat diperhadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial tentang “tujuan hidup manusia”, “apa yang menjadi nilai-nilai moral?”, “mengapa ada kehidupan dari ketiadaan”. Namun pendekatan terhadap realitas transenden akan membawa kita terhadap pengalaman-pengalaman spiritual tersebut.
ADVERTISEMENT
Kolaborasi dan integrasi di antara iman, sains dan filsafat menjadi sangat penting. Saat sains memberikan pengetahuan faktual mengenai alam dan keteraturannya, iman dan filsafat memberikan nilai serta makna dari apa yang telah ditemukan oleh sains. Integrasi ketiga pendekatan ini memungkinkan kita untuk tidak hanya sekedar hidup saja, namun juga memiliki arti makna semasa hidup. Sehingga pada akhirnya kita dapat memahami realita, makna dan tujuan hidup di alam semesta ini.