Kampus dan Ilusi Masa Depan

Human Resource General Affair. Sarjana Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surabaya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ganda Fidi Styawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada realita pahit yang jarang dibicarakan secara jujur: tidak semua kampus menyiapkan mahasiswanya untuk menang di dunia kerja. Bahkan tidak sedikit yang justru “meluluskan” mahasiswa tanpa benar-benar membekali mereka dengan skill yang dibutuhkan industri.
Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka di Indonesia masih didominasi oleh lulusan pendidikan menengah dan tinggi. Ironisnya, semakin tinggi pendidikan seseorang, ekspektasinya meningkat tetapi tidak selalu diimbangi dengan kesiapan kerja yang nyata.

Masalah utamanya bukan sekadar jumlah lapangan kerja. Ada “gap” besar antara apa yang diajarkan di kampus dengan apa yang dibutuhkan di dunia industri. Banyak perusahaan saat ini tidak lagi mencari lulusan dengan IPK tinggi semata tetapi mereka mencari kandidat yang siap kerja punya pengalaman, punya skill praktis, dan mampu beradaptasi dengan cepat.
Sayangnya, banyak kampus masih berjalan dengan pola lama. Kurikulum cenderung teoritis, minim praktik, dan seringkali tidak mengikuti perkembangan industri. Mahasiswa didorong untuk lulus cepat, bukan untuk siap kerja. Akhirnya lahirlah lulusan yang “rapi di atas kertas” tetapi kosong dalam pengalaman.
Hal ini juga diperkuat oleh berbagai laporan ketenagakerjaan dari World Bank yang menyoroti adanya skills mismatch di Indonesia ketidaksesuaian antara keterampilan lulusan dengan kebutuhan pasar kerja. Ini bukan masalah individu semata, tetapi masalah sistem pendidikan yang belum sepenuhnya adaptif.
Di sisi lain mereka yang sadar akan kekurangan ini biasanya mengambil jalan berbeda. Mereka tidak hanya bergantung pada kampus. Mereka mencari pengalaman lewat magang, belajar mandiri, mengikuti pelatihan, bahkan membangun skill dari nol di luar kurikulum. Dan seringkali, justru mereka yang “berjuang sendiri” inilah yang akhirnya lebih unggul.
Ini menjadi tamparan keras apakah kampus benar-benar menjadi tempat belajar, atau hanya tempat formalitas untuk mendapatkan gelar?
Kampus seharusnya menjadi jembatan menuju dunia kerja, bukan sekadar tempat singgah selama empat tahun. Namun, jika kampus tidak mampu mengikuti kebutuhan zaman, maka mahasiswa yang harus mengambil alih kendali.
Calon mahasiswa hari ini harus lebih kritis. Jangan lagi memilih kampus hanya karena “yang penting kuliah”. Pertimbangkan hal-hal yang benar-benar berdampak:
- Apakah kampus punya koneksi industri?
- Apakah ada program magang yang nyata, bukan formalitas?
- Apakah lulusannya terserap kerja atau justru banyak menganggur?
- Apakah diajarkan skill yang relevan dengan kebutuhan zaman?
Karena kenyataannya sederhana: dunia kerja tidak peduli dari mana kamu lulus, kalau kamu tidak bisa memberikan value. Dan bagi mereka yang sudah terlanjur berada di kampus yang “tidak siap” kabar baiknya masih ada. Masa depan tidak sepenuhnya ditentukan oleh kampus, tetapi oleh keputusan untuk belajar lebih dari yang diwajibkan.
Namun satu hal yang tidak bisa dipungkiri start yang salah seringkali membuat perjalanan jadi lebih berat. Dan di dunia yang kompetitif ini yang terlambat sadar biasanya akan tertinggal lebih jauh.
