Muktamar ke-35 NU dan Refleksi bagi HMI: Antara Tradisi Keilmuan dan Pengabdian

Human Resource General Affair. Sarjana Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surabaya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ganda Fidi Styawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, telah selesai. Forum permusyawaratan tertinggi NU tersebut tidak hanya menjadi momentum pergantian kepemimpinan organisasi, tetapi juga menjadi ruang untuk melihat kembali bagaimana sebuah organisasi keagamaan membaca perubahan zaman dan menentukan arah pengabdiannya bagi masyarakat dan bangsa.

Tema yang diangkat, “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa,” menurut saya memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar slogan organisasi. Di dalamnya terdapat dua kata penting yang seharusnya menjadi perhatian setiap organisasi kader dan gerakan mahasiswa: marwah dan khidmah.
Marwah berbicara tentang menjaga nilai, identitas, dan kehormatan organisasi. Sementara khidmah berbicara tentang bagaimana nilai tersebut diterjemahkan menjadi pengabdian nyata.
Pada titik inilah Muktamar NU menarik untuk direfleksikan dari perspektif Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
HMI dan NU memang lahir dari ruang sejarah dan karakter organisasi yang berbeda. NU merupakan organisasi keagamaan yang memiliki akar kuat pada tradisi pesantren, sementara HMI merupakan organisasi mahasiswa yang sejak awal membawa misi keumatan dan kebangsaan melalui tradisi intelektual serta kaderisasi.
Namun, keduanya memiliki satu titik temu yang penting: organisasi tidak seharusnya berhenti pada kebesaran nama, struktur, ataupun romantisme sejarah. Organisasi harus mampu menghadirkan manfaat.
Dari Tradisi Keilmuan Menuju Pengabdian
Salah satu hal menarik dari Muktamar NU adalah kuatnya tradisi musyawarah dan keilmuan. Muktamar tidak hanya membicarakan siapa yang akan memimpin organisasi, tetapi juga membahas persoalan keagamaan, organisasi, program, serta rekomendasi untuk kehidupan masyarakat dan bangsa. (MUI - Majelis Ulama Indonesia) Tradisi semacam ini semestinya menjadi refleksi bagi HMI.
Sebagai organisasi mahasiswa yang memiliki tradisi intelektual, HMI tidak cukup hanya menghasilkan kader yang pandai berbicara. HMI harus mampu menghasilkan kader yang mampu membaca persoalan, melakukan kajian, menyusun gagasan, kemudian menerjemahkannya menjadi tindakan.
Kita sering berbicara mengenai intelektualitas, tetapi terkadang lupa bertanya: untuk apa intelektualitas itu digunakan?
Pengetahuan yang tidak pernah turun menjadi kebermanfaatan hanya akan berhenti sebagai pengetahuan. Gagasan yang tidak pernah diperjuangkan hanya akan menjadi tulisan. Dan kaderisasi yang tidak melahirkan keberanian untuk mengabdi pada masyarakat pada akhirnya hanya menghasilkan manusia yang sibuk dengan dirinya sendiri. Di sinilah konsep khidmah menjadi relevan.
Organisasi Bukan Sekadar Tempat Berproses
Bagi sebagian kader, organisasi terkadang dipahami sebagai tempat untuk belajar kepemimpinan, memperluas jaringan, atau membangun pengalaman. Semua itu memang penting.
Tetapi organisasi seharusnya tidak berhenti sebagai ruang pembentukan individu.
Ada masyarakat yang harus diperjuangkan. Ada persoalan pendidikan yang harus dipikirkan. Ada ketimpangan sosial yang harus dikritisi. Ada kebijakan publik yang harus diawasi. Ada generasi muda yang membutuhkan ruang untuk berkembang.
Karena itu, ukuran keberhasilan sebuah organisasi tidak semata-mata dapat dilihat dari seberapa banyak kader yang pernah menduduki jabatan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah kader tersebut keluar dari organisasi, apa yang ia lakukan untuk masyarakat?
Muktamar NU memberikan pelajaran bahwa keberlanjutan organisasi membutuhkan kemampuan untuk menjaga identitas sekaligus merespons perubahan. NU bahkan membawa transformasi teknologi dan pemanfaatan kecerdasan buatan dalam penyelenggaraan Muktamar sebagai bagian dari adaptasi organisasi terhadap perkembangan zaman. (MUI - Majelis Ulama Indonesia)
Hal ini juga menjadi pekerjaan rumah bagi HMI.
HMI tidak boleh hanya menjadi organisasi yang memiliki sejarah panjang, tetapi gagap menghadapi persoalan baru.
Artificial intelligence, perubahan dunia kerja, disrupsi pendidikan, ekonomi digital, krisis lingkungan, hingga perubahan karakter generasi muda merupakan persoalan yang membutuhkan jawaban intelektual sekaligus gerakan nyata.
Menjaga Marwah, Bukan Membekukan Organisasi
Menjaga marwah organisasi bukan berarti mempertahankan segala sesuatu sebagaimana adanya. Justru menjaga marwah berarti memastikan nilai dasar organisasi tetap hidup meskipun zaman berubah.
HMI memiliki sejarah panjang dalam melahirkan kader yang kemudian berkiprah di berbagai sektor kehidupan bangsa. Namun sejarah tersebut tidak boleh hanya menjadi kebanggaan yang terus diceritakan. Sejarah seharusnya menjadi tanggung jawab.
Jika generasi terdahulu mampu melahirkan gagasan pada zamannya, maka generasi hari ini harus mampu menjawab persoalan zamannya sendiri.
Kader HMI hari ini tidak hidup dalam persoalan yang sama dengan kader HMI beberapa dekade lalu. Dunia berubah. Teknologi berubah. Pola komunikasi berubah. Tantangan sosial berubah. Maka cara berpikir kader juga harus berkembang.
Mempertahankan nilai tidak berarti menolak perubahan. Sebaliknya, perubahan harus diarahkan agar tetap berpijak pada nilai.
Dari Jombang untuk Gerakan Mahasiswa
Muktamar ke-35 NU pada akhirnya bukan hanya milik warga Nahdliyin. Ada banyak pelajaran yang dapat dibaca oleh organisasi lain, termasuk HMI.
Pertama, organisasi membutuhkan tradisi intelektual yang kuat agar keputusan tidak lahir hanya dari kepentingan jangka pendek.
Kedua, organisasi membutuhkan regenerasi agar nilai dan gagasan tidak berhenti pada satu generasi.
Ketiga, organisasi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya.
Dan yang paling penting, organisasi harus kembali kepada tujuan utamanya: memberikan manfaat.
HMI memiliki tantangan yang sama.
Kader HMI harus mampu menjadi manusia yang memiliki kedalaman intelektual sekaligus kepekaan sosial. Tidak hanya mampu mengkritik, tetapi juga mampu menawarkan solusi. Tidak hanya mampu berbicara mengenai keumatan dan kebangsaan, tetapi juga bersedia turun tangan ketika masyarakat membutuhkan.
Sebab pada akhirnya, ukuran seorang kader bukan hanya seberapa tinggi jabatan yang pernah ia duduki, tetapi seberapa besar manfaat yang mampu ia berikan setelah mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berproses.
Muktamar NU telah selesai. Kepemimpinan baru telah lahir. Arah baru telah dirumuskan.
Kini pertanyaannya bukan lagi tentang siapa yang menang dalam sebuah forum organisasi.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang akan kita lakukan setelah forum selesai?
Bagi HMI, mungkin inilah saatnya kembali menghidupkan satu kesadaran sederhana: bahwa intelektualitas harus melahirkan pengabdian, kaderisasi harus melahirkan kebermanfaatan, dan organisasi harus selalu memiliki keberanian untuk hadir di tengah persoalan masyarakat.
Sebab organisasi yang besar bukan hanya organisasi yang memiliki sejarah panjang.
Organisasi yang besar adalah organisasi yang mampu membuat sejarah baru melalui kerja dan pengabdiannya.
