Tan Malaka dan Psikologi Perlawanan: Mengapa Manusia Menolak Penindasan?

Human Resource General Affair. Sarjana Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surabaya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ganda Fidi Styawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tan Malaka sering muncul dalam diskusi sejarah Indonesia sebagai sosok revolusioner yang hidup dalam pengasingan, penjara, dan pelarian. Namun, di balik kisah politiknya, terdapat pertanyaan yang menarik untuk diajukan: mengapa seseorang tetap memilih melawan ketika risiko yang dihadapi begitu besar? Mengapa sebagian manusia menolak tunduk pada penindasan, sementara sebagian lainnya memilih beradaptasi dengan keadaan?
Pertanyaan tersebut tidak hanya dapat dijawab melalui sejarah atau politik, tetapi juga melalui psikologi.

Dalam psikologi sosial, manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk merasa memiliki kendali atas hidupnya. Ketika kebebasan itu dirampas, muncul dorongan untuk merebutnya kembali. Fenomena ini dikenal sebagai psychological reactance, yaitu kecenderungan seseorang untuk menolak ketika hak atau kebebasannya dibatasi.
Jika ditinjau dari sudut pandang tersebut, perlawanan terhadap kolonialisme bukan sekadar tindakan politik. Ia juga merupakan respons psikologis terhadap situasi yang dianggap tidak adil. Penjajahan tidak hanya mengambil sumber daya ekonomi suatu bangsa, tetapi juga berupaya mengendalikan cara berpikir, menentukan siapa yang berhak memimpin, dan membatasi ruang bagi masyarakat untuk menentukan nasibnya sendiri.
Dalam konteks itulah pemikiran Tan Malaka menjadi menarik. Melalui karya-karyanya, terutama Madilog, ia berupaya mendorong masyarakat untuk berpikir secara rasional dan kritis. Baginya, kemerdekaan bukan hanya soal pergantian kekuasaan, melainkan juga pembebasan cara berpikir dari berbagai bentuk dogma yang membuat masyarakat sulit berkembang.
Psikologi modern menunjukkan bahwa penindasan yang berlangsung lama dapat melahirkan apa yang disebut learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari. Konsep yang diperkenalkan psikolog Martin Seligman ini menjelaskan bagaimana individu yang terus-menerus mengalami kegagalan atau tekanan dapat kehilangan keyakinan bahwa mereka mampu mengubah keadaan.
Dampaknya tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga kelompok sosial. Masyarakat yang terlalu lama hidup dalam situasi subordinat berisiko menganggap ketidakadilan sebagai sesuatu yang normal. Pada titik inilah perlawanan menjadi penting. Bukan hanya untuk mengubah struktur sosial, tetapi juga untuk memulihkan keyakinan bahwa perubahan masih mungkin terjadi.
Tan Malaka tampaknya memahami persoalan tersebut jauh sebelum istilah-istilah psikologi modern berkembang luas. Ia melihat bahwa kemerdekaan membutuhkan keberanian untuk mempertanyakan hal-hal yang dianggap wajar. Ketika banyak orang menerima keadaan sebagai takdir, ia justru mendorong masyarakat untuk berpikir ulang mengenai sumber ketidakadilan yang mereka hadapi.
Meski demikian, perlawanan bukanlah sesuatu yang selalu lahir dari keberanian individual semata. Psikologi sosial menunjukkan bahwa identitas kelompok memiliki peran penting. Seseorang lebih mudah bertindak ketika merasa menjadi bagian dari komunitas yang memiliki tujuan bersama. Oleh karena itu, gerakan sosial sering kali tumbuh bukan karena hadirnya satu tokoh besar, melainkan karena munculnya kesadaran kolektif bahwa suatu keadaan perlu diubah.
Pelajaran tersebut masih relevan hingga hari ini. Bentuk penindasan mungkin telah berubah. Ia tidak selalu hadir dalam wujud kolonialisme atau kekerasan fisik. Penindasan dapat muncul dalam bentuk diskriminasi, ketimpangan kesempatan, perundungan digital, hingga berbagai tekanan sosial yang membatasi kebebasan individu untuk berkembang.
Dalam situasi semacam itu, warisan pemikiran Tan Malaka tidak harus dipahami sebagai ajakan untuk selalu berkonfrontasi. Yang lebih penting adalah semangat untuk mempertahankan kemampuan berpikir kritis. Sebab sejarah menunjukkan bahwa penindasan sering kali bertahan bukan hanya karena kekuatan pihak yang menindas, tetapi juga karena hilangnya keberanian masyarakat untuk mempertanyakan keadaan.
Pada akhirnya, manusia menolak penindasan karena kebebasan bukan sekadar kebutuhan politik, melainkan kebutuhan psikologis. Ketika martabat, pilihan, dan kendali atas hidup dirampas, muncul dorongan alami untuk merebutnya kembali. Dalam konteks tersebut, kisah Tan Malaka mengingatkan bahwa perjuangan terbesar mungkin bukan melawan kekuasaan itu sendiri, melainkan melawan rasa tidak berdaya yang membuat manusia berhenti percaya bahwa perubahan dapat terjadi.
Referensi:
1. Seligman, Martin E.P. (1975). Helplessness: On Depression, Development, and Death.
2. Brehm, Jack W. (1966). A Theory of Psychological Reactance.
3. Madilog, Tan Malaka.
4. Dari Penjara ke Penjara.
