Pandemi, batu uji optimisme Wisata Medis Indonesia
Tulisan dari Ganis Irawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pandemi Covid-19 membawa dua topik kepermukaan secara bersamaan, wisata dan kesehatan. Konteksnya tentu karena pariwisata menjadi sektor yang mengalami dampak negatif terbesar dari pembatasan aktivitas untuk pencegahan penularan Covid-19.
Di sisi lain, kapasitas layanan kesehatan Indonesia juga mendapat sorotan kritis sejak awal terjadinya pandemi. Saya tak ingin membahas aspek ini lebih jauh, Anda bisa membuka-buka kembali pemberitaan sejak Januari 2020.
Dalam beberapa diskusi daring dengan IDI dan Kemkes saya menyampaikan bahwa pandemi Covid-19 menjadi batu uji paling serius terhadap kapasitas layanan kesehatan kita. Ada banyak aspek yang dahulu dianggap sudah dalam performa baik, ternyata "hampir gagal" menghadapi pandemi.
Kesan gagap terlihat dari mulai Puskesmas sampai layanan rujukan tingkat lanjut, terutama di masa awal pandemi hingga sekitar November 2020.
Jadi, kadang saya tergelitik berpikir, kalau di level layanan kesehatan primer saja ternyata kita masih sedemikian unsettled, apakah realistis mendorong wisata medis (medical tourism) saat ini.
Ide pengembangan wisata medis memang bukan barang baru, sudah sejak 2012. Bahkan sejak 2017 ada MoU pengembangan Wisata Medis antara Kemkes dan Kemenpar. Itu sebelum pandemi.
Belakangan ini Kemenpar mendorong pemulihan ekonomi pariwisata dari basis desa wisata, masuk akal menurut saya. Saya membayangkan wisata medis yang paling sederhana adalah menyiapkan puskesmas-puskesmas untuk menangani problem kesehatan wisatawan yang berkunjung ke desa wisata. Tapi siapkah puskesmas-puskesmas itu?
Rasanya ada cukup banyak pertanyaan harus diajukan sebelum kita mengangkat kembali optimisme tentang wisata medis Indonesia. Agar pengembangan sektor ini tidak memunculkan gap dengan layanan kesehatan Indonesia secara umum

