Konten dari Pengguna

Belajar Dibalik Layar: Ketika Magang Pemkot Membawa Saya Menyelami Sejarah Jogja

Garuda Esto

Garuda Esto

Mahasiswa Prodi Manajemen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Garuda Esto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa bilang magang itu cuma duduk di kantor, fotokopi dokumen, dan bikin laporan? Pengalaman magang saya di Bagian Perekonomian dan Kerja Sama Pemerintah Kota Yogyakarta justru membawa saya keliling kota dengan cara yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Minggu yang panjang namun berkesan. Dalam satu pekan, saya mendapat kesempatan meliput dua event besar yang digelar Pemkot Jogja: Jogja Heritage Track dan Jogja Heritage Cycling. Bukan sekadar acara olahraga biasa, tapi perpaduan unik antara pelestarian budaya dan aktivitas fisik yang melibatkan peserta dari berbagai kalangan.

Sejarah, dan Strategi Ekonomi Kreatif

Ini bukan cuma soal olahraga atau wisata, tapi bagaimana kita menggerakkan ekonomi lokal lewat event yang berkelanjutan. Dari sini saya paham, Event seperti Jogja Heritage Track dan Heritage Cycling adalah contoh nyata bagaimana pemerintah daerah merancang strategi ekonomi kreatif. Peserta yang datang tidak hanya berolahraga, tapi juga mengunjungi UMKM lokal, membeli oleh-oleh khas Jogja, bahkan menginap di homestay warga. Ekonomi berputar, masyarakat sejahtera.

Jumat Pagi di JTTC: Naik Bus Panoramic Menelusuri Heritage Jogja

Jogja Heritage Track digelar pada Jumat pagi. Pukil 07.00 WIB, saya sudah tiba di Jogja Tourism and Training Center (JTTC) yang menjadi titik berkumpul peserta. Suasana sudah ramai dengan peserta yang antusias menunggu bus panoramic yang akan membawa mereka berkeliling.

Bus panoramic ini bukan bus biasa. Dengan atap kaca dan desain yang memungkinkan peserta melihat pemandangan kota dengan leluasa, bus ini menjadi kendaraan sempurna untuk wisata heritage. Saya ikut naik di salah satu bus bersama puluhan peserta lainnya.

Bus Panoramic pada Event Jogja Heritage Track

Rute yang dilalui sangat strategis. Dari JTTC, bus melaju melewati Malioboro yang legendaris. Di pagi hari, jalan ikonik ini terlihat berbeda—lebih tenang namun tetap memesona. Pemandu wisata di dalam bus menjelaskan sejarah Malioboro, dari zaman kolonial hingga menjadi pusat perdagangan seperti sekarang.

Perjalanan dilanjutkan ke Museum Sonobudoyo, salah satu museum tertua di Yogyakarta yang menyimpan koleksi budaya Jawa yang sangat lengkap. Bus berhenti sejenak di depan museum, memberikan kesempatan peserta untuk turun, berfoto, dan mendengar penjelasan tentang pentingnya museum ini dalam melestarikan warisan budaya.

Titik terakhir yang saya ingat dengan jelas adalah Panggung Krapyak. Tempat bersejarah yang dulunya menjadi arena berburu pada masa Kesultanan ini kini menjadi ruang terbuka hijau yang asri. Di sini, peserta bisa merasakan atmosfer berbeda dari hiruk pikuk pusat kota ke kawasan yang lebih tenang dan penuh cerita masa lalu.

Sepanjang perjalanan, saya melihat antusiasme peserta yang luar biasa. Mereka tidak hanya menikmati pemandangan, tapi juga aktif bertanya dan berdiskusi tentang setiap lokasi yang dikunjungi. Ada yang mencatat, ada yang sibuk memotret, ada pula yang serius mendengarkan setiap penjelasan pemandu.

Minggu Pagi di Pleret: Gowes Menyusuri Jejak Sejarah

Dua hari setelah Heritage Track, giliran Jogja Heritage Cycling yang digelar pada Minggu pagi. Kali ini, saya harus berangkat lebih pagi menuju Pleret, kawasan di Bantul yang kaya akan situs bersejarah namun jarang terekspos.

Event ini dimulai dari Gerbang Pleret, pintu masuk kawasan yang menjadi penanda wilayah bersejarah ini. Peserta berkumpul dengan sepeda masing-masing. Ada yang membawa sepeda sendiri, ada juga yang menyewa dari warga setempat. Suasana pagi yang sejuk dan udara pedesaan yang segar membuat semangat bersepeda semakin tinggi.

Berbeda dengan Heritage Track yang menggunakan bus panoramic, Heritage Cycling menawarkan pengalaman yang lebih personal dan intim dengan lingkungan sekitar. Peserta gowes santai menyusuri jalan-jalan kampung, melewati sawah, dan mengunjungi berbagai tempat bersejarah di Pleret.

Potret Peserta Jogja Heritage Cycling Sebelum Berangkat

Rute pertama adalah situs-situs bersejarah yang tersebar di kawasan Pleret. Pemandu lokal menjelaskan bahwa Pleret memiliki peran penting dalam sejarah Mataram Islam. Beberapa lokasi yang kami kunjungi adalah bekas kompleks keraton lama dan makam raja-raja Mataram. Bangunan yang tersisa mungkin tidak semegah istana di pusat kota, tapi nilai historisnya sangat tinggi.

Destinasi utama yang paling berkesan adalah Museum Pleret. Museum ini khusus didirikan untuk mendokumentasikan sejarah Pleret sebagai pusat pemerintahan Mataram di masa lampau. Di dalamnya, tersimpan berbagai artefak, foto lama, dan dokumentasi yang menggambarkan kejayaan Pleret di masa silam.

Yang menarik, sepanjang rute peserta melewati kampung-kampung dengan penduduk yang sangat ramah. Ini menciptakan interaksi sosial yang hangat dan menunjukkan bahwa event ini juga membawa dampak positif bagi masyarakat lokal.

Dua Event, Satu Misi Besar

Meskipun berbeda konsep, satu menggunakan bus panoramic dan satu menggunakan sepeda, kedua event ini punya misi yang sama, yaitu mengenalkan warisan budaya Jogja kepada generasi muda dan wisatawan dengan cara yang menyenangkan dan edukatif.

Heritage Track memberikan pengalaman wisata yang nyaman dan komprehensif. Peserta bisa mengunjungi banyak lokasi dalam waktu singkat tanpa kelelahan. Cocok untuk segala usia, termasuk lansia dan anak-anak.

Sementara Heritage Cycling menawarkan petualangan yang lebih menantang dan memberikan kesempatan untuk berinteraksi lebih dekat dengan masyarakat lokal. Peserta merasakan langsung kehidupan pedesaan dan sejarah yang tersembunyi di luar pusat kota.

Keduanya saling melengkapi dan menunjukkan bahwa Jogja punya banyak cara untuk melestarikan budaya sambil mengembangkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Lebih dari Sekadar Magang

Meliput Jogja Heritage Track dan Jogja Heritage Cycling membuka mata saya tentang bagaimana pemerintah daerah bisa berperan aktif dalam menggerakkan ekonomi tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya. Ini bukan sekadar event seremonial, tapi strategi jangka panjang yang melibatkan berbagai sektor, yaitu pariwisata, ekonomi kreatif, pendidikan, hingga pelestarian budaya.

Sebagai mahasiswa yang sedang magang, saya belajar banyak hal praktis yang tidak pernah diajarkan di bangku kuliah. Bagaimana merencanakan event berskala besar, mengkoordinasikan berbagai pihak, melibatkan UMKM lokal, hingga mengukur dampak ekonomi dari sebuah kegiatan. Semua pengalaman berharga yang akan saya bawa ke dunia kerja nanti.

Yang paling berkesan adalah melihat bagaimana satu event bisa memberi manfaat ke banyak pihak. Peserta puas mendapat pengalaman wisata yang edukatif, UMKM meraup untung, masyarakat lokal merasakan dampak ekonomi, dan yang terpenting, warisan budaya Jogja tetap lestari dan dikenal generasi muda.

Penutup: Jogja yang Terus Berinovasi

Jogja Heritage Track dan Jogja Heritage Cycling adalah bukti bahwa inovasi tidak melulu soal teknologi canggih. Kadang, inovasi terbaik adalah bagaimana kita mengemas kearifan lokal dan warisan budaya menjadi sesuatu yang relevan, menarik, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Bagi siapa saja yang berencana magang di instansi pemerintah, jangan remehkan kesempatan ini. Karena di balik meja kerja dan tumpukan dokumen, ada pengalaman lapangan yang akan membentuk pemahaman kita tentang bagaimana sebuah kota dikelola, bagaimana kebijakan diterapkan, dan bagaimana setiap program punya cerita dan dampak nyata di masyarakat.

Jogja memang istimewa. Tidak hanya tempatnya, tapi juga caranya menjaga warisan sambil terus bergerak maju. Dan saya bersyukur bisa menjadi saksi langsung dari upaya tersebut.