Konten dari Pengguna

Magang di Balik Layar Pemkot Jogja: Belajar Kerja Sama Pariwisata

Garuda Esto

Garuda Esto

Mahasiswa Prodi Manajemen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Garuda Esto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Yogyakarta selalu tampak hangat di mata wisatawan. Setiap sudutnya dipenuhi cerita, budaya, dan pengalaman visual yang menarik. Namun selama beberapa bulan terakhir, saya melihat kota ini dari sisi yang berbeda, bukan sebagai pengunjung, tetapi sebagai bagian kecil dari roda pemerintahan di Bagian Perekonomian dan Kerja Sama, Setda Kota Yogyakarta.

Saya ditempatkan di Subbag Kerja Sama, sebuah ruang yang tidak banyak diketahui publik, namun menjadi penghubung penting antara pemerintah kota dan berbagai instansi di dalam maupun luar wilayah. Dari meja itulah, saya pertama kali melihat bagaimana pariwisata Jogja dibangun melalui rangkaian proses administratif dan kolaborasi panjang.

Turun ke Destinasi: Mencari Data Nyata di Lapangan

Salah satu tugas yang paling membuka mata adalah ketika saya diminta membantu pengumpulan data untuk penyusunan dokumen kerja sama terkait pengembangan pariwisata Kota Yogyakarta.

Instruksinya sederhana: cek data fasilitas, kondisi destinasi, alur transportasi, dan kebutuhan kolaborasi antarinstansi. Namun saat turun ke lokasi, pekerjaan itu berubah menjadi proses observasi mendalam.

Saya mengunjungi beberapa titik seperti kawasan wisata budaya, sentra UMKM, dan area publik yang sedang disiapkan sebagai bagian dari rencana pengembangan wisata berstandar internasional. Dari lapangan, saya mencatat hal-hal yang tidak terlihat dalam laporan di meja:

Rute wisata yang ternyata tidak seefektif di dokumen

Kebutuhan fasilitas tambahan yang belum tercatat

Respons pengelola terhadap rencana kolaborasi

Arus pengunjung yang berubah di jam tertentu

Saya juga sempat berbicara dengan beberapa pengelola destinasi yang menceritakan kendala mereka, mulai dari pengaturan alur kunjungan, kebutuhan pendampingan media, hingga permintaan pelatihan pelayanan wisatawan.

Dialog-dialog ini menjadi bahan penting untuk melengkapi dokumen kerja sama yang sedang disusun.

Belajar Wawancara dan Dokumentasi di Lapangan

Turun ke lapangan membuat saya sadar bahwa laporan bukan hanya soal angka, tetapi juga cerita. Untuk pertama kalinya, saya belajar melakukan wawancara singkat versi pemerintahan—lebih terarah, menggunakan bahasa formal, dan memprioritaskan data yang dibutuhkan OPD.

Saya membawa catatan, kamera ponsel, dan instruksi dari pembimbing. Hasil wawancara kemudian saya rangkum menjadi:

Profil singkat lokasi

Daftar kebutuhan kerja sama

Kendala dan peluang yang bisa ditindaklanjuti

Dokumentasi visual sebagai bukti lapangan

proses wawancara di bagian imigrasi YIA

Di titik inilah saya benar-benar merasa terlibat. Bukan sekadar mahasiswa magang, tetapi bagian kecil dari upaya menjaga dan mengembangkan wajah pariwisata kota.

Menghubungkan Dua Dunia: Pemerintahan dan Lapangan

Yang paling berkesan dari magang ini adalah bagaimana saya akhirnya bisa melihat dua dunia sekaligus. Di satu sisi, saya belajar tentang birokrasi aliran surat, penyusunan PKS, hingga komunikasi lintas instansi. Di sisi lain, saya menjadi ‘mata lapangan’ yang melihat situasi secara nyata.

Pengalaman itu memberi saya perspektif baru: pariwisata bukan hanya destinasi dan promosi, tetapi juga kerja sama yang dibangun dari data lapangan yang sebenarnya.

Penutup: Magang yang Membuat Saya Mengenal Jogja Lebih Dekat

Turun ke lapangan membuat saya melihat Yogyakarta dari sudut yang berbeda, bukan sebagai wisatawan, tetapi sebagai bagian dari tim kecil yang mencari apa yang kota ini butuhkan untuk berkembang.

Saya belajar bahwa program pariwisata lahir dari proses panjang: observasi lapangan, analisis, komunikasi antarinstansi, hingga perumusan kerja sama. Dan berada di tengah proses itu membuat magang ini menjadi pengalaman yang tidak hanya bermanfaat, tetapi juga tak terlupakan.