Opera Van Java Tak Lagi Tayang, Apa yang Membuat Program Komedi Ini Berhenti?

mahasiswa universitas pamulang prodi ilmu komunikasi
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari amri aryanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi penonton televisi Indonesia pada akhir 2000-an hingga awal 2010-an, nama Opera Van Java atau OVJ rasanya sulit dipisahkan dari hiburan malam. Program komedi Trans7 ini pernah menjadi salah satu tontonan yang ditunggu karena memiliki konsep yang berbeda dari acara komedi lainnya.
Panggung dibuat layaknya pertunjukan wayang orang. Ada dalang, para pemain yang disebut wayang, sinden, musik pengiring, kostum, hingga berbagai properti panggung. Namun cerita yang seharusnya dimainkan dengan serius justru kerap berantakan karena improvisasi para pemain.
Dari situlah kelucuan OVJ lahir.
Nama seperti Parto, Sule, Andre Taulany, Nunung, dan Azis Gagap menjadi bagian yang sangat melekat dengan masa kejayaan program ini. Mereka tidak hanya membaca naskah, tetapi saling melempar candaan dan merespons situasi secara spontan. Tak jarang jalan cerita berubah total karena improvisasi pemain.
OVJ menjadi salah satu contoh bagaimana chemistry antarpemain bisa menjadi kekuatan utama sebuah program televisi.
Namun seperti banyak program yang pernah berjaya, OVJ akhirnya tidak lagi menjadi bagian dari tayangan reguler televisi seperti dulu. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?
Perubahan Pemain Perlahan Mengubah Identitas OVJ
Salah satu faktor yang cukup terasa dalam perjalanan OVJ adalah perubahan komposisi pemain.
Sule, Andre Taulany, Nunung, Azis Gagap, dan Parto pernah menjadi kombinasi yang sangat dikenal penonton. Masing-masing mempunyai karakter yang berbeda. Parto hadir sebagai dalang yang berusaha mengendalikan cerita, sementara pemain lain justru sering membuat cerita keluar jalur.
Ketika beberapa pemain mulai meninggalkan program, warna OVJ otomatis ikut berubah.
Sule, misalnya, tidak lagi tampil di OVJ setelah kontraknya berakhir pada periode 2014. Setelah itu, komposisi pemain OVJ terus mengalami perubahan. Beberapa tahun kemudian Azis Gagap juga mengumumkan pengunduran dirinya dari program tersebut pada 2020.
Pergantian pemain sebenarnya bukan sesuatu yang aneh dalam industri televisi. Masalahnya, untuk program seperti OVJ, sosok pemain bukan sekadar pengisi acara. Mereka merupakan bagian dari identitas program.
Penonton yang sejak awal terbiasa dengan interaksi Sule, Andre, Parto, Azis dan Nunung tentu memiliki ekspektasi tertentu ketika menonton OVJ.
Ketika formasinya berubah, program tersebut harus membangun chemistry baru dari awal.
Format yang Lama Berjalan Bisa Mengalami Kejenuhan
OVJ memiliki konsep yang sangat kuat. Justru karena konsep itu digunakan selama bertahun-tahun, tantangan berikutnya adalah bagaimana mempertahankan kesegarannya.
Improvisasi, properti yang bisa dihancurkan, kesalahan membaca cerita, pemain yang saling mengganggu, serta dalang yang kesal menjadi ciri khas OVJ.
Pada masa awal, pola tersebut terasa unik dan sulit ditemukan dalam program lain.
Namun sebuah format televisi yang tayang dalam waktu panjang memiliki risiko menjadi mudah ditebak. Penonton mulai mengetahui pola kelucuannya. Apa yang dahulu terasa mengejutkan lambat laun bisa menjadi sesuatu yang sudah diperkirakan.
Pada 2014, ketika OVJ sempat menghilang dari jadwal utama Trans7 dan digantikan program lain, pemberitaan saat itu mengaitkannya dengan penurunan rating.
Ini menunjukkan satu persoalan penting dalam dunia penyiaran. Sebesar apa pun nama sebuah program, televisi tetap harus melihat respons penonton.
Program yang pernah sangat populer tidak otomatis akan terus mendapatkan perhatian yang sama selamanya.
OVJ Sebenarnya Sempat Bertahan dan Berubah
Menariknya, perjalanan OVJ tidak langsung selesai ketika formasi lamanya berpisah.
Program tersebut kemudian kembali hadir dengan sejumlah pemain baru dan beberapa pemain lama. Denny Cagur, Rina Nose, Mpok Alpa, Billy Syahputra, hingga sejumlah komedian lain pernah ikut mengisi generasi berikutnya.
Bahkan pada Januari 2021, kanal resmi Trans7 masih mempromosikan Opera Van Java sebagai program yang tayang setiap hari pukul 20.00 WIB. Pada November 2021, program ini juga masih disebut sebagai salah satu program komedi Trans7 yang berada di jam utama.
Artinya, mengatakan OVJ langsung berhenti hanya karena pemain lamanya pergi juga kurang tepat.
Program tersebut sempat mencoba melakukan regenerasi.
Namun mempertahankan nama besar dari sebuah program lama bukan perkara sederhana. Penonton membawa ingatan terhadap versi terdahulu, sementara versi baru harus berusaha menciptakan identitasnya sendiri.
Di sinilah OVJ menghadapi tantangan yang cukup besar.
Persaingan Program Komedi Juga Berubah
Dunia televisi terus bergerak.
Ketika OVJ pertama kali populer, televisi masih menjadi salah satu pusat utama hiburan masyarakat. Penonton menunggu acara berdasarkan jadwal yang ditentukan stasiun televisi.
Situasinya kemudian berubah.
YouTube, Instagram, TikTok, layanan streaming, dan berbagai platform digital memberikan pilihan hiburan yang jauh lebih banyak. Penonton tidak lagi harus menunggu pukul tertentu untuk mendapatkan hiburan.
Cara menikmati komedi juga berubah.
Orang bisa menonton video berdurasi beberapa menit, potongan podcast, stand-up comedy, atau cuplikan program televisi melalui telepon genggam.
Bagi industri penyiaran, kondisi ini membuat sebuah program tidak hanya bersaing dengan acara dari stasiun televisi lain. Program televisi juga bersaing dengan hampir seluruh bentuk hiburan digital.
Trans7 sendiri kemudian melahirkan format komedi lain seperti Lapor Pak!, yang menggunakan sketsa berlatar kantor polisi, percakapan spontan, bintang tamu, dan potongan konten yang mudah disebarkan kembali melalui media digital.
Dengan kata lain, selera penonton tidak berhenti menyukai komedi. Bentuk komedinya saja yang terus berkembang.
Teguran KPI Menjadi Bagian dari Perjalanan OVJ
Selama bertahun-tahun tayang, OVJ juga beberapa kali menghadapi sorotan terhadap materi komedinya.
KPI pernah memberikan teguran tertulis kepada Opera Van Java pada Agustus 2020 berkaitan dengan tayangan yang menampilkan praktik sugesti atau hipnosis dan dinilai tidak sesuai dengan ketentuan program siaran untuk klasifikasi remaja.
Jauh sebelum itu, program ini juga sempat mendapat kritik terkait adegan fisik menggunakan properti serta persoalan sensitivitas terhadap simbol tertentu.
Namun kurang tepat jika teguran tersebut disebut sebagai penyebab utama berakhirnya OVJ.
Teguran KPI lebih tepat dilihat sebagai salah satu tantangan yang harus dihadapi program komedi televisi. Semakin luas jumlah penonton sebuah acara, semakin besar pula tanggung jawab terhadap materi yang disiarkan.
Bukan Karena OVJ Gagal
Berhentinya sebuah program televisi tidak selalu berarti program itu gagal.
Dalam kasus OVJ, justru umur tayangnya yang panjang menunjukkan bahwa program tersebut pernah sangat berhasil membangun penonton dan identitasnya sendiri.
OVJ mampu membuat konsep wayang orang menjadi hiburan populer dengan pendekatan yang jauh lebih santai. Program tersebut juga melahirkan banyak momen yang masih diingat penonton hingga sekarang.
Namun industri televisi tidak hanya berbicara tentang kejayaan masa lalu.
Program harus terus menyesuaikan diri dengan penonton, pemain, persaingan, aturan penyiaran, hingga perkembangan teknologi.
Perubahan komposisi pemain membuat chemistry OVJ tidak lagi sama seperti masa awal. Format yang digunakan selama bertahun-tahun menghadapi risiko kejenuhan. Sementara itu, pilihan hiburan masyarakat semakin luas dan stasiun televisi harus menghadirkan program baru yang sesuai dengan kebiasaan penonton pada masanya.
Dari perjalanan OVJ kita bisa melihat bahwa mempertahankan sebuah program televisi terkadang jauh lebih sulit daripada membuatnya populer.
Opera Van Java boleh saja tidak lagi hadir sebagai tayangan reguler seperti pada masa kejayaannya, tetapi pengaruhnya dalam sejarah program komedi Indonesia sulit dihapus.
Bagi generasi yang tumbuh bersama OVJ, suara dalang yang berusaha menjalankan cerita sementara para “wayang” justru membuat panggung berantakan akan tetap menjadi bagian dari kenangan menonton televisi Indonesia.
