Konten dari Pengguna

Apa Itu Great Imitator dalam Dunia Kedokteran? Berikut Kaitannya dengan Covid-19

Generasi Milenial

Generasi Milenial

Generasi Milenial

ยทwaktu baca 2 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Generasi Milenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi great imitator. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi great imitator. Foto: Pexels

Dalam perkembangan kasus Covid-19 muncul berbagai spekulasi dari masyarakat luas bahwa saat ini penyakit apapun itu saat diperiksakan ke rumah sakit akan dikategorikan pengidap Covid-19.

Lantas, apakah memang senyatanya seperti itu? Ataukah justru terdapat kesalahpahaman? Hal ini nyatanya erat hubungannya dengan sebuah imitator dalam dunia kedokteran. Tentunya spekulasi yang berkembang di masyarakat itu tak bisa sepenuhnya dibenarkan pun disalahkan, lebih lengkapnya langsung simak ulasan berikut.

Apa Itu Great Imitator?

Ilustrasi great imitator. Foto: Pexels

Imitator sendiri memiliki arti tukang tiru. Dalam hal ini bisa bermakna ejekan timbal balik atas diagnosis dokter terhadap penyakit tertentu. Yang mana penyakit terkait memiliki gejala yang sangat mirip dengan berbagai penyakit lainnya.

Ejekan timbal balik inilah yang menjadi simbol kalau seorang dokter mengejek dirinya sendiri yang berhasil dikelabuhi oleh miripnya gejala penyakit sehingga bisa salah memberikan diagnosis terhadap pasiennya. Tentunya, imitator dalam dunia medis jika terjadi lebih kompleks lagi akan menyebabkan pengobatan yang salah dengan efek sampingnya masing-masing.

Berdasarkan sejarahnya, imitator ini dulunya sering berkaitan dengan kejadian penyakit demam berdarah dengue. Pasalnya, penyakit DBD tersebut mirip dengan common cold, ISPA, thypus, dan berbagai penyakit sejenis lainnya. Sehingga, butuh diagnosis lebih lanjut untuk menentukan penyakit pasti dari pasien terkait.

Imitator dalam Covid-19

Seiring dengan muncul dan berkembangnya Covid-19 di seluruh penjuru dunia. Kini, gelar The Great Imitator pun dinobatkan untuk penyakit Covid-19. Hal ini dikarenakan Covid-19 tak hanya memiliki gejala yang mirip dengan berbagai penyakit lainnya, melainkan juga mirip dengan orang sehat, yang biasa kita sebut OTG (Orang Tanpa Gejala).

Begitu banyaknya gejala penyakit yang menyerupai Covid-19, pun telah dibuktikan dengan hasil laboratorium yang mirip Covid-19, tapi sebenarnya bukan Covid-19. Hasil akhirnya, pasien terkait harus berakhir isolasi bersama pasien yang memang terkena Covid-19.

Dengan demikian, adanya imitator pada ranah pandemi Covid-19, tentu dibutuhkan tingkat kewaspadaan yang ekstra. Jangan sampai alih-alih menurunkan angka Covid-19, tetapi justru membuat pandemi Covid-19 tak pernah ada ujungnya karena salah diagnosis.

Demikian penjelasan terkait great imitator, khususnya dalam hubungan dengan Covid-19. Secara umum, kondisi imitator dalam dunia kesehatan ini harus menjadi pembelajaran bersama. Jika tidak, tentu kesalahpahaman dalam diagnosis hanya akan menyebabkan penanganan yang tidak tepat, tidak aman, hingga angka kesembuhan yang terus menurun. (mel)