Konten dari Pengguna

Arti Satire, Gaya Bahasa yang Kerap Dipakai untuk Menyindir Orang

Generasi Milenial

Generasi Milenial

Generasi Milenial

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Generasi Milenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi satire. Foto: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi satire. Foto: Freepik

Sadar atau tidak, sejak duduk di bangku SMP kita sudah belajar terkait jenis-jenis majas, lho. Tepatnya pada mata pelajaran bahasa Indonesia, kita mempelajari adanya lima jenis majas sindiran. Kelima majas tersebut yakni ironi, sinisme, innuendo, sarkasme, dan tentunya satire, ya.

Bagaimana sudah ingat akan kelima jenis majas sindiran itu? Kalau ingat, apa arti satire?

Arti satire sendiri selama ini selalu dianggap memiliki makna yang sama dengan sarkasme. Pasalnya, kedua majas tersebut sama-sama bertujuan menyindir dengan menggunakan kata-kata yang kasar, ya.

Sayangnya, hal tersebut sama sekali tidak benar. Bagaimana mungkin majas sindiran dibuat berjenis-jenis kalau ada dua jenis yang sama? Tentunya setiap jenis berbeda bukan? Coba ingat kembali lima majas yang di singgung di atas.

Arti Satire

Menurut KBBI arti satire merupakan gaya bahasa yang dipakai dalam kesusastraan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang; sindiran atau ejekan.

Lalu untuk memudahkan kamu dalam memahami arti satire, mari kita bandingkan dengan sarkasme yang selalu dianggap sama dengan satire, ya. Arti sarkasme menurut KBBI yakni (penggunaan) kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain; cemoohan atau ejekan kasar.

Bagaimana? Sudah mulai menemukan perbedaannya bukan?

Contoh Penggunaan Satire

Ilustrasi mengatakan satire. Foto: Freepik

Untuk lebih memudahkanmu dalam memahami makna satire, coba simak penggunaannya berikut.

“Harga cabai lagi melambung tinggi, ya? Bikin sambal kok enggak ada rasanya gini, gak pedas sama sekali!”

Coba kita bandingkan dengan penggunaan sarkasme, ya.

“Udah tahu keluargamu miskin. Lihat juga dirimu enggak berpendidikan kan? Terus naksir sama aku yang kaya raya dan berpendidikan tinggi ini? Ngaca dong, gausah mimpi!”

Ya, dari kedua contoh penggunaan majas satire dan sarkasme di atas terlihat bahwa satire itu penggunaan majasnya lebih halus daripada sarkaseme, ya.

Di situ satire masih menggunakan kalimat pengandaian untuk menyindir sambal yang enggak terasa pedasnya. Sedangkan sarkasme bisa menyindir dengan to the point menggunakan kata-kata yang teramat kasar.Ibaratnya, saat satire sindiranya itu pedas level 10, maka sarkasme pedasnya berada di level 20, nih.

Baiklah, itu tadi pemaparan arti satire yang penjelasannya menggunakan perbandingan dengan sarkasme. Semoga perbandingan tersebut cukup memudahkanmu untuk memahami arti satire lebih dalam lagi, ya. (mel)