Kata Psikolog soal Pasangan Suka Berbohong dan Bagaimana Langkah Tepat Menyikapi

Generasi Milenial
Tulisan dari Generasi Milenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pasangan yang suka berbohong cenderung membuat hubungan tidak langgeng dan pasti akan menimbulkan gejolak hati. Terkadang penjelasan yang tidak sesuai kenyataan dan tidak masuk akal akan membuat kamu kecewa dan hilang rasa kepercayaan dalam hubungan.
Kebiasaan bohong biasanya dimulai dari hal-hal yang kecil dan sebenarnya tidak begitu penting. Tapi hal tersebut bisa mengarah ke persoalan yang besar jika terus menerus dilakukan. Kebohongan kecil akan membuat seseorang terbiasa dan berani memulai kebohongan fundamental yang berbahaya bagi keutuhan hubungan berpasangan.
Ega Alfath M.Psi., yang seorang psikolog menjelaskan bahwa sebaiknya hindari berbohong dengan pasangan. Menutupi satu kebohongan biasanya harus melakukan kebohongan lain, sehingga kebohongan tersebut jadi menumpuk.
Menurut Ega, pasangan melakukan kebohongan untuk menghindari hasil dari kejujuran yang berisiko. Ada tiga macam risiko yang dipertimbangkan pasangan, yaitu risiko bagi dirinya sendiri, pasangan, atau keutuhan hubungan. Berikut penjelasannya.
1. Diri Sendiri
Kejujuran merupakan bagian sifat positif dari manusia. Walaupun makna kejujuran itu baik, tetapi tak semua orang bisa menerima dan melakukan kejujuran itu. Begitu yang mungkin dirasakan oleh pasangan kamu. Ia takut kejujuran membuat kamu menolak dirinya dan kekurangannya. Ia takut kamu akan memandang dirinya secara negatif.
2. Pasangan
Pasangan takut kalau kejujurannya akan menyakiti hati kamu. Ia tidak siap menghadapi risiko jika kamu melakukan tindakan berbahaya ketika dirinya telah jujur.
3. Hubungan
Ia khawatir kejujurannya akan menimbulkan konflik yang sulit diselesaikan oleh kamu berdua, sehingga berujung pada renggangnya hubungan atau perceraian. 'Belum nyaman dengan pasangan’ biasanya jadi alasan untuk menutupi salah satu ketakutan akan terjadinya risiko-risiko di atas,” kata Ega.
Lalu, Bagaimana Menghadapi Pasangan yang Suka Berbohong?
Setiap orang memiliki berbagai respons terhadap pasangan yang berbohong. Ada yang bersabar, pura-pura tidak tahu, atau langsung meledakkan emosi. Cara-cara itu sebenarnya tidak menyelesaikan masalah.
Sebaiknya kamu mengumpulkan bukti dari kebohongan terlebih dahulu. Pastikan kebohongan bukan berdasarkan asumsi atau perasaan kamu saja. Bila kebohongan sudah terbukti, kamu perlu berpikir kembali untuk menghadapi masalah itu.
“Kalau pasangan mengaku, apa yang akan kita lakukan? Pikirkan juga apakah pilihan tersebut adalah yang paling tepat dan bijaksana untuk kita,” jelas Ega.
Ketika sudah siap, konfrontasikan kebohongan dengan bukti yang ada. Tapi pastikan itu dilakukan saat dalam kondisi yang cukup tenang, bukan saat kemarahan sedang memuncak. Lakukan itu di tempat yang nyaman dan tidak ada orang lain.
Perhatikan juga bahwa kamu dan pasangan tidak dalam kondisi lelah dan emosional. Itu dilakukan untuk meminimalisir konflik yang tidak terselesaikan.
“Biasanya kita terpicu untuk segera melakukan konfrontasi kebohongan dengan bukti yang ada saja, tanpa memikirkan kondisi, waktu dan tempat,” imbuh Ega.
Setelah kamu selesai melakukan hal tersebut, buatlah kesepakatan dengan pasangan. Ketika ada situasi yang sama, apa yang akan kamudan pasangan lakukan. Ega menambahkan, kesepakatan dibuat untuk menyelesaikan kebohongan yang ada di kemudian hari. Ketika kesepakatan itu berulang kali dilanggar, berarti hubungan sudah tidak sehat lagi.
“Pikirkan kembali, apakah sebaiknya kita berada dalam hubungan yang selalu melibatkan kebohongan atau tidak?”
Mungkin kamu menganggap pasangan yang berbohong sudah tidak mencintai dan menghargai. Seperti yang telah dijelaskan, berbohong pertanda ada ketakutan atau kecemasan pasangan yang mengancam dirinya, pasangan, dan hubungan.
Kebohongan yang baru sekali dilakukan dan bukan hal yang melanggar nilai dalam diri kita, bisa jadi kesempatan untuk mengenal satu sama lain lagi. Caranya dengan konfrontasi dan diskusi. (via)
