Konten dari Pengguna

Penjelasan Ilmiah Mengapa Orang Bisa Lemas hingga Pingsan saat Lihat Darah

Generasi Milenial

Generasi Milenial

Generasi Milenial

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Generasi Milenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi darah. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi darah. Foto: Pexels

Tidak mau jadi dokter lantaran takut melihat darah? Ya, memang pernyataan itu sering terdengar di berbagai kalangan. Bagi setiap orang yang tidak takut, pastinya kerap bingung dan bertanya-tanya bagaimana sebagian orang bisa menjadi fobia dengan darah.

Terlebih lagi, ketika orang-orang tersebut bisa mengalami pusing, mual, pingsan, dan lemas ketika melihat cairan berwarna merah itu. Meski begitu, ternyata ada penjelasan ilmiah soal ketakutan sebagian orang dengan darah. Kondisi ini dikenal sebagai Sinkop Vasovagal.

Pada kondisi tersebut, seseorang akan mengalami detak jantung yang tidak beraturan ketika melihat darah. Hal tersebut membuat pembuluh darah kaki melebar dan membuat darah dari kepala pergi ke bagian bawah tubuh, menyebabkan rasa lemas dan pusing.

Akhirnya, tekanan darah akan turut menurun. Jika tekanan darah turun terlalu cepat atau besar, tak jarang kondisi ini menyebabkan seseorang pingsan.

Ilustrasi sel darah merah. Foto: Pexels

Sebelum seseorang akan pingsan, biasanya ada beberapa tanda yang mudah terlihat. Kulit akan terlihat pucat, penglihatan menjadi kabur, dan ia juga akan merasa pusing. Menurut Mayo Clinic, gejala lainnnya adalah keringat dingin, penglihatan yang terganggu, dan juga rasa panas.

Kondisi ini juga bisa terjadi meskipun kita tidak melihat darah. Misalnya, terkena panas berlebih hingga meniup sebuah trompet secara berlebihan juga dapat memicu kondisi tersebut. Selain itu, stres emosional yang ekstrem juga bisa menjadi penyebabnya.

Rasa takut terhadap darah, sebagaimana hilainnya, sebenarnya dapat diredakan dengan mengekspos penderitanya terhadap penyebab fobia itu sendiri.

Namun, terdapat perbedaan yang unik antara fobia darah dengan fobia lainnya. Pada fobia-fobia lainnya, detak jantung pengidapnya akan meningkat ketika merasa takut. Sementara pada fobia darah, detak jantung penderitanya justru menurun.

Ilustrasi darah. Foto: Pexels

"Lalu, bagaimana fobia darah bisa terbentuk?"

Salah satu argumen yang cukup kuat adalah "Hipotesis Ancaman Paleolitik". Hipotesis ini didukung oleh fakta bahwa Sinkop Vasovagal lebih banyak terjadi pada perempuan dan anak kecil, sementara pada anak laki-laki, mereka berhasil melawan fobianya saat masa pubertas.

Dalam Hipotesis Ancaman Paleolitik dijelaskan bahwa fobia ini mungkin adalah perlindungan secara biologi bagi perempuan dan anak-anak di zaman dahulu. Ketika konflik antar manusia terjadi, mereka tidak akan terbunuh karena pingsan. Namun, dijelaskan juga bahwa hipotesis ini sebenarnya masih berupa spekulasi.

Kondisi Sinkop Vasovagal tidak dapat dihindari. Mereka yang mengalami kondisi tersebut dapat mengurangi efeknya dengan berbaring dan mengangkat kakinya ketika gejala terjadi. Jika tidak memungkinkan untuk berbaring, mereka juga dapat duduk dan meletakkan kepalanya di antara kedua lututnya. Hal itu membuat gravitasi bisa membantu mengalirkan darah ke otak. (bel)