Dari Teror FOMO ke Bahagia JOMO: Memilih Waras di Era Media Sosial

Praktisi Spiritual di Bali, Pendiri Indo Spiritual Center.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Agy Yudhistira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jam menunjukkan pukul 11 malam. Cahaya biru dari layar ponsel menerangi wajah di kamar yang temaram. Jari telunjuk ini, seolah punya kehendak sendiri, terus menggulir ke bawah: teman A liburan di Eropa, kolega B dapat promosi, influencer C memamerkan tubuh ideal. Di setiap pos, ada tusukan kecil di ulu hati—campuran antara kagum, iri, dan cemas. “Kenapa hidupku tidak seasyik itu?” “Apa aku sudah ketinggalan sesuatu?”
Selamat datang di lingkaran setan bernama FOMO, atau Fear of Missing Out. Fenomena yang terasa sangat personal ini, nyatanya, bukanlah kegagalan karakter kita. Ia adalah fitur, bukan bug. Sebuah produk desain brilian dari platform media sosial yang sengaja dirancang untuk membuat kita terus kembali. Di tengah riuh rendahnya linimasa yang tak pernah tidur, memilih sadar untuk “ketinggalan” justru menjadi tindakan paling radikal dan menyehatkan. Media sosial telah mengonstruksi rasa takut ketinggalan (FOMO) yang secara sistematis menggerus kesejahteraan psikologis; memilih JOMO—Joy of Missing Out, atau kebahagiaan karena sadar melewatkan yang tidak esensial—adalah langkah praktis untuk memulihkan fokus, emosi, dan kualitas hidup kita.
Anatomi Jebakan Bernama FOMO
Untuk memahami mengapa FOMO begitu kuat, kita perlu melihat dua pilar psikologis yang dieksploitasi media sosial: teori perbandingan sosial (social comparison theory) dan putaran dopamin (dopamine loop). Secara naluriah, manusia mengukur nilai dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain. Sebelum era digital, lingkup perbandingan kita terbatas pada lingkungan sekitar. Kini, kita membandingkan kehidupan kita yang “di belakang panggung” dengan ribuan “panggung pertunjukan” orang lain yang telah dikurasi dengan sempurna.
Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan rata-rata orang Indonesia menghabiskan lebih dari 3 jam sehari di media sosial pada 2024. Selama itu, otak kita dibanjiri “pukulan” dopamin—hormon rasa senang—setiap kali melihat notifikasi, like, atau komentar. Algoritma belajar dengan cepat apa yang memicu reaksi kita, lalu menyajikannya terus-menerus dalam pola imbalan variabel, persis seperti mesin slot di kasino. Kombinasi antara perbandingan sosial tanpa henti dan kecanduan biokimiawi ini melahirkan FOMO sebagai emosi dominan di ruang digital. Ia bukan lagi sekadar “takut ketinggalan tren,” melainkan kecemasan eksistensial bahwa hidup kita kurang berharga.
Saat Perhatian Kita Menjadi Komoditas
Masalahnya lebih dalam dari sekadar perasaan personal. Kita hidup dalam “ekonomi perhatian” (attention economy), di mana waktu dan fokus kita adalah sumber daya yang paling diperebutkan. Dalam model bisnis ini, platform tidak menjual produk kepada kita; mereka menjual perhatian kita kepada pengiklan. Semakin lama kita terpaku di aplikasi, semakin cemas kita, semakin sering kita mengecek, semakin besar keuntungan mereka.
Dengan kata lain, FOMO adalah mesin uang. Desain antarmuka yang tak berujung (infinite scroll), notifikasi yang mendesak, dan fitur stories yang akan hilang dalam 24 jam adalah rekayasa psikologis untuk memicu urgensi. Mereka menciptakan ilusi bahwa jika kita berkedip sejenak saja, kita akan kehilangan momen krusial. Padahal, yang sering kali kita lewatkan saat terpaku pada layar adalah momen krusial dalam hidup kita sendiri.
JOMO: Antitesis atau Evolusi?
Tentu, argumen baliknya valid: media sosial memberi kita koneksi, informasi, dan ruang ekspresi. Menutup diri sepenuhnya dari dunia digital terdengar seperti solusi ekstrem di tahun 2025. Di sinilah letak kesalahpahaman tentang JOMO. JOMO bukanlah tentang menjadi seorang Luddite yang anti-teknologi. Ia adalah tentang intensi atau kesengajaan.
Jika FOMO adalah reaksi pasif terhadap banjir informasi, JOMO adalah keputusan aktif untuk memilih apa yang penting. Ini adalah pergeseran dari mentalitas “harus tahu segalanya” menjadi “cukup tahu yang perlu.” Alih-alih membiarkan algoritma mendikte apa yang harus kita pedulikan, kita mengambil alih kemudi dan secara sadar mengkurasi aliran informasi kita. Ini bukan penolakan terhadap koneksi, melainkan penolakan terhadap koneksi dangkal yang mengorbankan kehadiran kita di dunia nyata.
Peta Jalan Praktis Menuju JOMO
Beralih dari FOMO ke JOMO tidak terjadi dalam semalam, tetapi bisa dimulai dengan langkah-langkah praktis:
Audit Digital: Luangkan waktu untuk melihat fitur screen time di ponsel. Jujurlah pada diri sendiri: aplikasi mana yang paling banyak menyita waktu? Apakah penggunaan itu memberi energi atau justru mengurasnya? Kesadaran adalah langkah pertama.
Kurasi Radikal: Lakukan unfollow, mute, atau block tanpa rasa bersalah. Jika sebuah akun membuat Anda merasa buruk tentang diri sendiri, itu bukan inspirasi; itu polusi digital. Aturan sederhananya: jika tidak menambah nilai, ia mengurangi nilai.
Jadwalkan Jeda: Tentukan waktu “bebas gawai,” misalnya satu jam sebelum tidur dan setelah bangun pagi. Ganti waktu scrolling dengan membaca buku, meditasi, atau sekadar mengobrol dengan keluarga. Buat “zona tanpa ponsel” di rumah, seperti di meja makan atau kamar tidur.
Praktik Kehadiran (Mindfulness): Saat Anda tergoda membuka media sosial karena bosan, berhenti sejenak. Tarik napas. Tanyakan pada diri sendiri: "Apa yang sebenarnya saya butuhkan saat ini?" Sering kali, jawabannya bukan pembaruan status teman, melainkan istirahat, hidrasi, atau sekadar menatap keluar jendela.
Pada akhirnya, perang melawan FOMO adalah pertarungan untuk merebut kembali aset kita yang paling berharga: waktu dan perhatian. Di dunia yang terobsesi dengan “apa yang baru” dan “apa yang sedang tren,” menemukan kebahagiaan dalam kesunyian, fokus pada satu pekerjaan, atau menikmati percakapan tanpa gangguan gawai adalah sebuah kemewahan baru. Kebahagiaan sejati bukanlah berhasil melihat setiap pembaruan dari semua orang, melainkan hadir seutuhnya dalam satu momen berharga milik kita sendiri. Itulah esensi dari Joy of Missing Out.
JOMO bukanlah tentang menjadi anti-sosial, melainkan pro-diri sendiri; sebuah deklarasi bahwa waktu dan perhatian kita adalah aset paling berharga.
Penulis: Agy Yudhistira [Pendiri Indo Spiritual Center]
