Konten dari Pengguna

Makna Lagu Oasis dan Relevansinya bagi Generasi Z

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google

Tulisan dari Gerald Tangguh Wicaksono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi suasana konser era Britpop 1990-an yang masih terasa relevan bagi Generasi Z. (Sumber : Generated by Claude AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi suasana konser era Britpop 1990-an yang masih terasa relevan bagi Generasi Z. (Sumber : Generated by Claude AI)

Makna lagu Oasis tidak hanya dapat dilihat dari popularitas lagu “Wonderwall”, tetapi juga dari pesan dan emosi yang terkandung dalam karya-karya mereka. Band asal Manchester, Inggris, ini dikenal sebagai salah satu ikon Britpop era 1990-an. Menariknya, musik Oasis masih didengarkan oleh Generasi Z karena tema tentang hubungan, harapan, dan perasaan manusia tetap dekat dengan kehidupan anak muda masa kini.

Ketika “Wonderwall” Menjadi Pintu Masuk

“Wonderwall” dirilis pada 1995 dalam album (What’s the Story) Morning Glory?, album kedua Oasis. Sejak itu lagunya menempel erat di budaya populer. Riff akustiknya mudah dikenali, nadanya mudah dinyanyikan, dan permintaan “mainkan Wonderwall” sudah jadi lelucon klasik di acara kumpul-kumpul.

Ironisnya, orang-orang yang paling dekat dengan lagu ini justru tidak selalu mencintainya. Liam Gallagher, penyanyinya, pernah mengaku muak setiap kali harus menyanyikannya. Noel Gallagher, penciptanya, dilaporkan pernah menyebutnya sebagai salah satu lagu yang kurang ia sukai karena menurutnya belum selesai. Meski begitu, lagu ini tetap menjadi pintu masuk paling lebar bagi pendengar baru.

Soal makna, jawabannya ternyata tidak tunggal. Pada 1996, Noel disebut mengatakan kepada NME bahwa lagu itu ditulis untuk kekasihnya waktu itu, Meg Mathews. Beberapa tahun kemudian ia menyampaikan versi lain: lagu itu tentang teman khayalan yang akan datang menyelamatkan seseorang dari dirinya sendiri. Dua keterangan ini bertentangan, dan itu justru menarik. Pencipta lagunya sendiri membiarkan maknanya terbuka.

Jadi, apakah Oasis memang hanya tentang “Wonderwall”?

Oasis dan Seni Menyuarakan Kegelisahan

Jawabannya bisa dicari lewat cara Oasis menulis. Band yang terbentuk di Manchester pada 1991 ini jarang bercerita secara rinci. Liriknya lebih sering menangkap suasana hati: ingin keluar dari keadaan, ingin percaya pada sesuatu, ingin ada seseorang di samping kita. Rincian ceritanya sengaja dibiarkan kabur, sehingga pendengar bebas mengisinya dengan hidup mereka sendiri.

Dua contoh bisa dilihat dari katalognya. “Some Might Say” menjadi single pertama Oasis yang menduduki posisi satu tangga lagu Inggris pada April 1995. Sementara “Stop Crying Your Heart Out” hadir di album Heathen Chemistry pada 2002. Ini pembacaan saya, bukan penjelasan dari band: yang pertama terdengar seperti keyakinan keras kepala di tengah komentar orang lain, sedangkan yang kedua terdengar seperti tepukan di bahu bagi siapa pun yang sedang lelah.

Benang merahnya adalah kerapuhan yang dibungkus suara besar. Gitar yang lantang dan koor yang mudah diikuti membuat perasaan yang berat terasa bisa dipikul bersama-sama.

Dari “Live Forever” hingga Keinginan untuk Berarti

“Live Forever” sering dibicarakan sebagai lagu yang lahir dari perlawanan terhadap suasana. Noel Gallagher, dalam wawancara dengan NME pada 2013 yang dikutip Songfacts, menjelaskan bahwa lagu itu ia tulis di tengah puncak era grunge, ketika menurutnya pendengar muda terlalu banyak disuguhi nada muram. Ia juga mengatakan baru punya tujuan hidup setelah menulis lagu ini dan sejak itu ingin berada di band terbesar di dunia. Lagu ini dirilis pada 1994 sebagai single ketiga Oasis dan menjadi yang pertama masuk sepuluh besar tangga lagu Inggris.

Itu fakta dan konteksnya. Pembacaan setelahnya adalah tafsir saya. “Live Forever” bisa dibaca sebagai lagu tentang keinginan untuk berarti, bahwa hidup yang sekarang masih layak diperjuangkan dan dinyanyikan lantang. Bagi sebagian anak muda yang sedang mencari bentuk diri di tengah tuntutan untuk cepat sukses, nada percaya diri yang tidak sinis seperti ini mungkin terasa menyegarkan.

Tentu tidak semua orang akan mendengarnya begitu. Ada yang menikmatinya semata karena melodinya. Namun, ruang tafsir itulah yang membuat lagu ini bisa bertahan.

“Don’t Look Back in Anger” dan Belajar Berdamai dengan Masa Lalu

Kalau “Live Forever” bicara tentang masa depan, “Don’t Look Back in Anger” bicara tentang bagaimana kita memperlakukan masa lalu. Lagu ini dirilis pada 1996, mencapai posisi satu di Inggris, dan menjadi single pertama Oasis yang dinyanyikan Noel sebagai vokalis utama. Liam hanya memainkan tamborin.

Salah satu fakta paling menarik datang dari Noel sendiri. Ia mengaku tidak tahu siapa “Sally” yang disebut dalam lagu itu. Namanya hanya terasa pas untuk dinyanyikan. Ia juga menegaskan bahwa lagu ini bukan tentang marah pada hal yang terjadi kemarin, melainkan tentang memandang ke depan. Penjelasan itu dikutip dalam bahan majalah yang menjadi rujukan tulisan ini dan merujuk pada NME.

Ada tafsir lain yang kerap muncul, yaitu soal belajar berdamai. Penyesalan, kekecewaan, dan rasa marah tidak dihapus, tetapi tidak dibiarkan menentukan langkah berikutnya. Bagi sebagian pendengar, terutama yang baru melewati perpisahan, pertengkaran dengan teman, atau keputusan yang disesali, sikap seperti ini terasa dekat.

Lagu ini juga punya lapisan ironi. Penciptanya, Noel, dan penyanyi band-nya, Liam, adalah kakak beradik yang perselisihannya menjadi bahan pemberitaan bertahun-tahun, dan Oasis bubar pada Agustus 2009 setelah pertengkaran di belakang panggung. Lagu tentang melepas amarah lahir dari dua orang yang sulit melakukannya. Mungkin itu sebabnya lagu ini terasa manusiawi, bukan menggurui.

Pada 22 Mei 2017, setelah serangan bom di Manchester Arena, lagu ini dinyanyikan untuk mengenang para korban. Di titik itu, lagu rock dari 1996 berubah menjadi nyanyian bersama untuk berduka sekaligus bertahan.

Ketika Lagu Lama Menemukan Pendengar Baru

Mengapa lagu-lagu yang dirilis sebelum sebagian pendengarnya lahir masih terdengar segar? Ada beberapa jawaban yang masuk akal.

Pertama, lagu-lagunya dibuat untuk dinyanyikan bersama. Koor yang lebar dan melodi yang mudah ditangkap membuat pendengar baru bisa langsung ikut, tanpa perlu paham konteks 1990-an. Kedua, peristiwa bersama memberi lagu makna baru, seperti yang terjadi di Manchester pada 2017. Ketiga, platform musik digital membuat lagu lama dan baru berdiri di rak yang sama.

Faktor keempat adalah momentum reuni. Oasis mengumumkan kembalinya mereka pada 27 Agustus 2024, setelah tidak tampil bersama sejak bubar pada 2009. Menurut laporan media, jumlah pemutaran Oasis di Spotify naik lebih dari 160 persen secara global dalam sepekan menjelang pengumuman. Tur Oasis Live ’25 kemudian dibuka di Cardiff pada Juli 2025. Pengumuman itu juga membuat enam rilisan lama Oasis kembali masuk tangga lagu Inggris, termasuk “Live Forever” yang mencapai posisi baru.

Lalu ada “Champagne Supernova”, penutup album Morning Glory yang liriknya kerap dianggap sulit dipahami. Noel pernah mengatakan lagu itu berarti hal berbeda tergantung suasana hatinya. Pada 2020, dalam wawancara radio, ia bahkan mengaku tidak tahu persis apa arti beberapa barisnya. Ia membela lagu itu dengan pertanyaan: bagaimana mungkin puluhan ribu orang menyanyikannya jika mereka tidak tahu artinya? Menurut Noel, lagu itu bermakna lain bagi setiap orang. Pernyataan ini, kalau dipikir-pikir, menjelaskan banyak hal tentang umur panjang Oasis.

Relevansi Oasis di Era Media Sosial

Bagian ini sepenuhnya pembacaan kritis, bukan klaim tentang semua anak muda. Kehidupan di media sosial sering memajang versi terbaik dari hidup orang lain. Bagi sebagian pengguna, itu memunculkan rasa tertinggal, atau FOMO, dan dorongan untuk terus merapikan citra diri. Dalam suasana seperti itu, lagu yang jujur soal rasa lelah dan bimbang bisa terasa seperti jeda.

Gaya Oasis sendiri juga kontras dengan budaya yang serba dipoles. Gallagher bersaudara dikenal blak-blakan, mudah bertengkar, dan tidak pandai berpura-pura. Orang bisa menilainya negatif, tetapi bagi sebagian pendengar muda yang mencari keaslian, sikap apa adanya itu mungkin menarik.

“Don’t Look Back in Anger” bisa dibaca dalam konteks digital juga. Di dunia ketika jejak lamamudah digali kembali, tangkapan layar, unggahan lama, dan kenangan yang muncul tanpa diminta, gagasan untuk tidak terpaku pada masa lalu terdengar relevan. Sementara “Live Forever” menawarkan dorongan untuk percaya bahwa hari ini masih punya arti, di tengah derasnya perbandingan dengan pencapaian orang lain.

Perlu jujur juga bahwa tidak semua pendengar muda datang karena makna lirik. Sebagian mengenal Oasis dari orang tua, dari nostalgia pinjaman, atau dari tren. Makna lirik hanya salah satu pintu, meski bagi banyak orang pintu itulah yang membuat mereka tinggal.