Konten dari Pengguna

Stunting Menjadi Urgensi…

GERARDIN TUNGGA MAHARENI

GERARDIN TUNGGA MAHARENI

Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Jember. Undergraduate dan sedang menempuh semester empat.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari GERARDIN TUNGGA MAHARENI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa isu stunting di Jawa Timur?

Ilustrasi: Dinas Kesehatan Sidoarjo
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Dinas Kesehatan Sidoarjo

Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2021, stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak yang diakibatkan oleh kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, ditandai dengan panjang atau tinggi badannya di bawah standar yang ditetapkan oleh menteri di bidang kesehatan. Menurut Kementrian Kesehatan (Kemenkes), stunting adalah anak balita dengan nilai z-scorenya kurang dari -2.00 SD/standar deviasi (stunted) dan kurang dari -3.00 SD (severely stunted). Sehingga dapat disimpulkan bahwa stunting adalah gangguan pertumbuhan yang dialami oleh balita dan dapat mengakibatkan keterlambatan pertumbuhan anak yang tidak sesuai dengan standarnya.

Di Indonesia banyak ditemukan isu stunting, berdasarkan hasil riset Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2019 dan 2020 prevalensi stunting tercatat sebesar 26,9 persen. Kementrian Kesehatan mengumumkan bahwa hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada Rapat Kerja Nasional BKKBN, Rabu (25/1), prevalensi stunting di Indonesia sebesar 24,4 persen pada tahun 2021 dan 21,6% di tahun 2022. Sehingga dapat disimpulkan bahwa prevalensi pada tahun 2022 menurun dibandingkan dengan tahun 2021. Ditinjau dari data Rencana Kerja Pemerintah Daerah tahun 2023, presentase balita gizi buruk di Jawa Timur pada tahun 2020 sebesar 0,92 persen sedangkan pada tahun 2021 tercatat sebanyak 21.511 atau sebesar 1,5 persen dari 1.462.285 balita yang dientry pada aplikasi sigizi terpadu.

Tidak dapat dipungkiri, data diatas menunjukkan bahwa stunting merupakan salah satu urgensi sosial di Indonesia saat ini. Penyebab stunting menurut artikel kemenkeu RI (25/08/2022) antara lain, asupan gizi dan nutrisi yang kurang mencukupi kebutuhan anak, pola asuh yang salah akibat kurangnya pengetahuan dan edukasi bagi ibu hamil dan menyusui, buruknya sanitasi lingkungan tempat tinggal seperti kurangnya sarana air bersih dan tidak tersedianya sarana MCK yang memadai serta keterbatasan akses fasilitas kesehatan yang dibutuhkan bagi ibu hamil, ibu menyusui dan balita.

Dalam dokumen RPJMD tahun 2019-2024 Provinsi Jawa Timur, berikut beberapa hal yang menyebabkan kejadian stunting:

a. Praktek pengasuhan anak yang kurang baik, serta kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan masa kehamilan, pasca melahirkan. Beberapa fakta dan informasi menunjukkan bahwa 60% dari anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) secara ekslusif, dan 2 dari 3 anak usia 0-24 bulan tidak menerima Makanan Pendamping Air Susu Ibu. MPASI berfungsi untuk mengenalkan jenis makanan baru pada bayi, mencukupi kebutuhan nutrisi tubuh bayi, serta membentuk daya tahan tubuh dan perkembangan sistem imunologis anak terhadap makanan maupun minuman.

b. Masih terbatasnya layanan kesehatan. Informasi yang dikumpulkan dari publikasi Kemenkes dan Bank Dunia menyatakan bahwa tingkat kehadiran anak di Posyandu semakin menurun dari 79% di 2007 menjadi 64% di 2013 dan anak belum mendapat akses memadai ke layanan imunisasi. Fakta lain adalah 2 dari 3 ibu hamil belum mengkonsumsi sumplemen zat besi memadai serta masih terbatasnya akses layanan pembelajaran dini berkualitas (baru 1 dari 3 anak usia 3-6 tahun belum terdaftar di layanan PAUD/Pendidikan Anak Usia Dini.

c. Kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi. Menurut beberapa sumber (RISKESDAS 2013, SDKI 2012, SUSENAS), komoditas makanan di Jakarta 94% lebih mahal dibanding dengan di New Delhi, India. Harga buah dan sayuran di Indonesia lebih mahal daripada di Singapura. Terbatasnya akses ke makanan bergizi di Indonesia juga dicatat telah berkontribusi pada 1 dari 3 ibu hamil yang mengalami anemia.

d. Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi. Data yang dapat diperoleh di lapangan menunjukkan bahwa 1 dari 5 rumah tangga di Indonesia masih Buang Air Besar (BAB) diruang terbuka, serta 1 dari 3 rumah tangga belum memiliki akses ke air minum bersih.

Selain penyebab diatas, adapun faktor tidak langsung dari masalah stunting meliputi pendapatan dan kesenjangan ekonomi, perdagangan, urbanisasi, globalisasi, sistem pangan, jaminan sosial, sistem kesehatan, pembangunan pertanian, dan pemberdayaan perempuan. Dalam hal ini, diperlukan juga prasyarat pendukung yang mencakup komitmen politik dan kebijakan untuk pelaksanaan, keterlibatan pemerintah dan lintas sektor, serta kapasitas untuk melaksanakan. Upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah provinsi Jawa Timur dalam mengatasi masalah stunting adalah dengan perbaikan gizi di masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), antara lain digencarnya sosialisasi ASI-Eksklusif, pendidikan gizi untuk ibu hamil, pemberian TTD untuk ibu hamil, IMD, pemberian mikro nutrient (taburia), Pemberian Makan pada Bayi dan Anak (PMBA), dan perbaikan program penyehatan lingkungan.

Pencegahan stunting penting dilakukan sedini mungkin untuk menghindari dampak gagal tumbuh dan tidak optimalnya ukuran fisik tubuh serta gangguan metabolisme. Disamping berisiko pada hambatan pertumbuhan fsik dan kerentanan anak terhadap penyakit, stunting juga menyebabkan hambatan perkembangan kognitif. Maka dari itu, dengan adanya pendidikan bagi remaja putri dalam menjaga kesehatannya, sosialisasi pencegahan pernikahan dini sebelum ekonomi dan ilmu terpenuhi, akses informasi bagi ibu pra,masa dan pasca kehamilan perlu digencarkan, pendidikan parenting yang wajib diikuti oleh semua orang tua dan pemenuhan gizi yang cukup bagi anak diharapkan dapat mengurangi angka stunting di Indonesia. Dengan menurunnya angka stunting, maka akan berdampak terhadap meningatnya kualitas sumber daya manusia di Indonesia.

Melalui jasa pengiriman JNE, vitamin, susu, dan keperluan gizi yang dapat menunjang pemenuhan gizi pada remaja, anak serta ibu hamil dapat dijangkau secara mudah dan efisien. JNE dapat memudahkan para wirausahawan dalam mengirim produknya sehingga sampai ke konsumen dengan aman. JNE 32 tahun dipercaya oleh konsumen sebagai ekspedisi yang aman, cepat, murah dan mudah. JNE Bangkit Bersama peduli dengan kemajuan Indonesia di masa mendatang bersama pemuda yang punya karya.

#JNE32tahun #JNEBangkitBersama #jnecontentcompetition2023 #ConnectingHappiness

Sumber:

BKPK,Humas. Cegah Stunting, Kemenkes Fokuskan Pada 11 Program Intervensi. BKPK. 3 Feb 2023. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/cegah-stunting-kemenkes-fokuskan-pada-11-program-intervensi/

Rokom. Prevalensi Stunting di Indonesia Turun ke 21,6% dari 24,4%. Sehat Negeriku. 25 Januari 2023. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20230125/3142280/prevalensi-stunting-di-indonesia-turun-ke-216-dari-244/#:~:text=Kementerian%20Kesehatan%20mengumumkan%20hasil%20Survei,21%2C6%25%20di%202022.

Lubuksikaping. Stunting, Apa, Penyebab dan Upaya Penanganannya?. Kementrian Keuangan RI. 25 Agustus 2022. https://djpb.kemenkeu.go.id/kppn/lubuksikaping/id/data-publikasi/artikel/3012-stunting,-apa,-penyebab-dan-upaya-penanganannya.html#:~:text=Sedangkan%20pengertian%20stunting%20menurut%20Kementerian,SD%20(severely%20stunted).

P2PTM Kemenkes. Cegah Stunting dengan Perbaikan Pola Makan, Pola Asuh dan Sanitasi. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. RI. 10 April 2018. https://p2ptm.kemkes.go.id/tag/cegah-stunting-dengan-perbaikan-pola-makan-pola-asuh-dan-sanitasi

Provinsi Jawa Timur, Dinas Kesehatan. Prevalensi Stunting. Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2019-2024.

Provinsi Jawa Timur, Dinas Kesehatan. Status Gizi Balita. Profil Kesehatan 2021 Jawa Timur 2021.

Provinsi Jawa Timur, Dinas Kesehatan. Presentase Balita Gizi Buruk. Rencana Kerja Pemerintah Daerah 2023.

Provinsi Jawa Timur, Dinas Kesehatan. Prevalensi Stunting di Jawa Timur. Rencana Kerja Pemerintah Daerah 2023.