Konten dari Pengguna

Hoyak Tabuik: Festival Tabuik Menyimpan Sejarah, Misteri, dan Harapan

Gerhan Putra

Gerhan Putra

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gerhan Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Festival Tabuik bukan sekadar tontonan budaya. Ia adalah warisan budaya Sumatera Barat yang menautkan kisah tragis Karbala ke jantung masyarakat pesisir. Setiap 10 Muharram, ribuan warga tumpah ruah di Pantai Gandoriah untuk menyaksikan prosesi Hoyak Tabuik, saat dua menara bambu raksasa diguncang lalu ditenggelamkan ke laut. Tradisi ini bukan hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga menjelma sebagai penggerak ekonomi kreatif dan pariwisata budaya lokal yang terus berkembang dari tahun ke tahun.

Ilustrasi Kegiatan Tabuik (Gambar: Shuttlestock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kegiatan Tabuik (Gambar: Shuttlestock)

Dentuman Gandang Tasa di Tepi Laut Minggu sore di Pantai Gandoriah, ribuan pasang mata menahan napas saat dua menara bambu bertinggi belasan meter dihoyak, diguncang beramai‑ramai lalu ditenggelamkan ke laut. Tahun 2024 saja, prosesi puncak ini menyedot puluhan ribu penonton. Dan untuk edisi 27 Juni - 6 Juli 2025 pemerintah menargetkan 400 ribu wisatawan, memanfaatkan libur sekolah untuk melampaui capaian 300 ribu pengunjung tahun lalu. Transisi halus dari keramaian pantai ke perjalanan sejarah membuka pintu bagi pembaca agar paham bahwa gegap gempita Tabuik hari ini lahir dari benang panjang perjumpaan budaya. Akar Syiah di Tanah Minang Tabuik tiba di Pariaman sekitar 1826, dibawa prajurit Tamil Muslim Syiah bekas pasukan Inggris di Bengkulu yang mempopulerkan ritual 10 Muharram untuk mengenang tragedi Karbala. Dalam enklaf Sunni Minang, tradisi yang awalnya sakral ini kemudian diadopsi oleh adat setempat dan terlihat dari ornamen ukiran Minang yang menghias rangka tabuik serta irama gandang tasa yang khas pesisir Padang Pariaman. Misteri dan Mitologi Antara Buraq dan Gelombang Di puncak menara, sosok Buraq kuda bersayap berkepala manusia membawa peti kayu (tabut) tempat potongan tubuh Husein diyakini pernah diletakkan legenda mengatakan Buraq terbang ke langit sebelum peti diantarkan ke laut Pariaman sebagai simbol pelepasan duka. Warga juga meyakini paku tabuik pantang dicabut sembarangan, karena kesalahan prosesi dipercaya bisa mengundang badai. Rangkaian misteri ini menjadikan Tabuik bukan sekadar tontonan, melainkan katarsis komunal yang merawat rasa takut, hormat, dan kagum sekaligus. Perekat Sosial dan Mesin Ekonomi Kreatif Dua kampung produsen Tabuik seperti Pasa dan Subarang bersaing hangat siapa paling apik menata bambu, anyaman rotan, dan kertas warna menjadi menara 12 meter. Kompetisi ini menggerakkan ratusan perajin, tukang kayu, pemusik gandang tasa, serta pedagang kuliner musiman. Lonjakan wisatawan 2024 terbukti mendongkrak omzet UMKM lokal, dari penginapan rumahan hingga penjual kopi talua di bibir pantai. Disinilah Tabuik bertransformasi dari ritual duka menjadi narasi destinasi dari beban kolektif menjadi sumber pendapatan komunal. Komersialisasi vs Autentisitas Perubahan selalu menuntut ongkos. Anggaran resmi 2025 mencapai Rp 400 juta untuk dua Tabuik Rp 200 juta per kubu, sementara sponsor dan penjualan stand ikut menyuplai biaya hiburan pendukung. Akademisi mencatat bahwa festivalisasi memudarkan sebagian simbol sakral dan mengganti makna religius dengan estetika panggung wisata. Merawat Ruh, Menata Panggung

  1. Pendidikan Muatan Lokal Sekolah di Pariaman mulai memasukkan pembuatan mini Tabuik ke kelas seni budaya metode belajar sambil praktik ini menjaga keterampilan bambu tetap hidup.

  2. Inkubasi Kreator Muda Workshop desain Tabuik mini dan lomba konten digital #HoyakTabuik menumbuhkan sense of ownership generasi Z.

  3. Green Festival Charter Panitia 2025 menyiapkan bank sampah, zona bebas plastik, dan penarikan kembali serpihan rangka pasca pembuangan, agar laut tidak sekadar menelan tapi mengembalikan bersih.

  4. Patronase Positif Pemkot berperan fasilitator, bukan sutradara penuh keputusan artistik tetap di tangan maestro adat Pasa Subarang, menyeimbangkan sponsor dan kesakralan.

Tabuik adalah panggung tempat sejarah Syiah, adat Minangkabau, dan mimpi ekonomi kreatif saling berpelukan. Selama dentuman gandang tasa masih memecah debur ombak, dan menara bambu tetap hilang di cakrawala biru, kisah tentang Pariaman akan selalu lebih luas daripada lautnya dan kewajiban kita, sebagai penonton sekaligus pewaris, adalah memastikan gelombang itu tidak pernah surut.