Konten dari Pengguna

K-Pop: Cara Kreatif Korea Selatan Membangun Industri Kreatif

Gerry Indradi
Pengamat dan perangkai kata
11 Maret 2018 7:18 WIB
clock
Diperbarui 6 Agustus 2020 13:19 WIB
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Gerry Indradi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Girls' Generation (Foto: Facebook @girlsgeneration)
zoom-in-whitePerbesar
Girls' Generation (Foto: Facebook @girlsgeneration)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Mungkin anda bukan penggemar Korean Pop (K-pop), tapi kecuali anda tinggal di planet lain, tidak mungkin anda tidak tahu siapa itu Psy dengan Gangnam Style-nya. Demam kultur pop Korea, atau yang sering disebut Korean Wave sedang mewabah dalam skala global. Tidak hanya musik tapi juga film, fashion, hingga kuliner. Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh Korean Foundation, per tahun 2015 tercatat ada 35 juta fans K-pop yang tersebar di 86 negara.
ADVERTISEMENT
Satu hal yang harus dipahami ketika berusaha memahami fenomena ini adalah tren global K-pop bukanlah suatu kebetulan. Korean Wave adalah hasil kolaborasi sistematis pemerintah dan pihak swasta dalam pengembangan industri kreatif Korea Selatan yang dipicu oleh krisis finansial 1997/98.
Tidak jauh berbeda dengan Indonesia, perekonomian Korea Selatan berkontraksi negatif hingga 7 persen akibat krisis finansial 1997/98. Hal ini memaksa pemerintah Korea Selatan untuk meminjam dana dari IMF sebesar USD 97 miliar. Sama halnya seperti Indonesia pada saat krisis, terjadi lonjakan pengangguran saat itu. Untuk memulihkan kondisi ekonomi Korea Selatan dan menyerap tenaga kerja, Presiden Korea Selatan saat itu, Kim Dae-Jung, mendorong pengembangan sektor-sektor industri baru.
Dua sektor industri yang mendapat perhatian khusus oleh Kim Dae-Jung adalah sektor teknologi informasi dan industri kreatif. Alasan dipilihnya teknologi informasi adalah karena pengembangan di sektor ini akan berdampak positif kepada sektor-sektor industri lainnya. Sedangkan dipilihnya sektor industri kreatif karena dapat mendorong ekspor produk-produk industri kreatif seperti musik, film, serta fashion sekaligus meningkatan citra Korea Selatan.
ADVERTISEMENT
Untuk mengembangkan sektor industri kreatif, Pemerintah Korea Selatan memberikan dukungan secara berkelanjutan mulai dari suntikan modal, subsidi, hingga insentif pajak. Tercatat pada tahun 2005, Pemerintah Korea Selatan menyuntikkan modal investasi sebesar USD 1 miliar kepada industri musik Korea Selatan. Pemerintah Korea Selatan juga akan kembali menyuntikkan dana sebesar USD 1 miliar tahun ini untuk mendukung peningkatan ekspor K-pop.
Penonton Kpop World Festival (Foto: Dok. Aji Surya)
zoom-in-whitePerbesar
Penonton Kpop World Festival (Foto: Dok. Aji Surya)
Jumlah investasi ini memang terlihat besar. Namun, tahukah anda sumbangan industri kreatif terhadap ekonomi Korea Selatan? Per tahun 2014, industri kreatif tercatat menyumbangkan USD 11,6 miliar terhadap PDB Korea Selatan.
Selain dari sisi injeksi modal, pemerintah Korea Selatan juga memiliki badan yang khusus didirikan untuk mendorong ekspor sektor industri kreatif. Divisi Industri Budaya Populer merupakan salah satu badan di bawah Kementerian Kebudayaan Korea Selatan. Divisi ini memiliki anggaran USD 500 juta, dan diberi target untuk mencapai nilai ekspor industri kreatif Korea Selatan sebesar USD 10 miliar pada tahun 2019.
ADVERTISEMENT
Tidak hanya dari sisi Pemerintah, tapi dari sisi pelaku usaha, mereka memiliki sistematika kerja yang benar-benar rapi dan menekankan kepada kualitas produk. Bayangkan, untuk mempersiapkan seorang artis K-pop, perusahaan-perusahaan manajemen artis rata-rata menghabiskan dana sebesar USD 2-3 juta selama rentang waktu 2-3 tahun untuk persiapan dan pelatihan seorang artis sebelum dikenalkan ke publik.
Itu hanya biaya pelatihan sang artis saja. Dana yang dikeluarkan untuk mempersiapkan materi lagu dan promosi lebih besar lagi. Saat ini tercatat kurang lebih ada 115 artis K-pop yang aktif. Jadi bayangkan modal yang harus dikeluarkan untuk para artis itu.
Pada awal pengembangan industri K-pop, para perusahaan manajemen artis juga banyak menyewa ahli-ahli di bidang industri hiburan dari Amerika Serikat, mulai dari koreografer tari, pencipta lagu, hingga pencari bakat. Selain karena mereka lebih berpengalaman, hal ini juga dilakukan sebagai sarana transfer of technology. Hal ini dimungkinkan karena suntikan modal pemerintahnya.
ADVERTISEMENT
Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Soal kreativitas, Indonesia tidak kekurangan. Bandung mungkin bisa menjadi contoh kecil. Mulai dari musik indie, fashion (clothing line lokal), publikasi lokal, hingga kuliner Bandung, semua sudah ada. Tinggal dikemas secara lebih profesional dan didukung secara nyata oleh Pemerintah melalui injeksi modal.
Tanpa sokongan modal, niscayalah, Indonesia akan selalu menjadi pasar produk industri kreatif negara lain. Bagaimana anda bisa berkompetisi dengan industri kreatif negara lain yang modal awalnya saja USD 1 miliar?
Indonesia dapat belajar banyak dari Korea Selatan dalam hal pengembangan industri kreatif. Pemerintah Indonesia akan menyelenggarakan World Conference on Creative Economy pada bulan November 2018 mendatang. Konferensi ini ditujukan untuk membahas kerja sama antar negara di bidang industri kreatif.
ADVERTISEMENT
Menyelenggarakan suatu konferensi internasional mungkin merupakan salah satu langkah efektif untuk mengembangkan industri kreatif. Tapi menilik dari pengalaman Korea Selatan, mungkin pemerintah Indonesia dapat mempertimbangkan untuk lebih memberikan dukungan dalam hal permodalan.