Swipe, Scroll, Repeat: Brainrot dalam Cengkraman Media Sosial

Final year Computational Statistics student at Politeknik Statistika STIS with a strong interest in big data, data engineering, and data science. Detail oriented, disciplined, and professional in every task, especially when working with complex data
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Gery Nastiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah "brainrot" menjadi cukup populer, terutama di kalangan pengguna media sosial dan generasi muda. Secara umum, brainrot merujuk pada kondisi mental yang digambarkan sebagai perasaan terjebak dalam pemikiran atau pola pikir yang repetitif dan tidak produktif. Istilah ini sering digunakan secara informal untuk menggambarkan seseorang yang merasa terjebak dalam rutinitas atau kebiasaan yang merusak atau merendahkan kapasitas berpikir mereka. Fenomena ini semakin banyak ditemui di era digital saat ini, di mana orang-orang lebih memilih untuk mengonsumsi konten sensasional dan hiburan yang bersifat sesaat, ketimbang konten yang lebih substansial dan bermanfaat yang di kemudian hari bisa menyebabkan kelelahan mental akibat kebiasaan menghabiskan waktu dengan mengonsumsi informasi yang tidak mendalam, seperti video atau unggahan di media sosial yang bersifat "receh" atau hanya sekedar sensasi belaka.
Fenomena Brainrot
Maraknya fenomena brainrot tidak bisa dipisahkan dari perkembangan teknologi dan media digital yang semakin pesat. Di era digital ini, kita terpapar dengan berbagai informasi yang datang secara cepat dan terus-menerus. Hal ini membuat otak kita menjadi "teracuni" oleh informasi-informasi yang tidak selalu berguna atau bahkan berpotensi menurunkan kualitas berpikir. Banyak orang merasa terjebak dalam pola konsumsi digital yang menyebabkan penurunan fokus, daya ingat, serta kecenderungan untuk menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tidak bermanfaat. Kondisi ini kemudian mempengaruhi kesehatan mental dan kesejahteraan secara keseluruhan.
Pemerataan Pengguna Internet di Indonesia
Perkembangan ini seiring dengan semakin meluasnya penggunaan internet di masyarakat Indonesia, menjangkau segala umur dan daerah. Tak hanya mendominasi kota besar, penggunaan internet di pedesaan juga terus melesat. Menurut data BPS tahun 2023, persentase pengguna internet usia lima tahun ke atas di daerah pedesaan naik menjadi 59,33 persen dari 55,92% pada tahun sebelumnya. Sementara pada perkotaan, pengguna internet naik menjadi 76,30% dari 74,16% dari tahun sebelumnya. Hal ini membuktikan bahwa dari tahun ke tahun internet semakin mudah untuk dijangkau masyarakat Indonesia.
Media Sosial Menjadi Bagian Tak Terlepaskan dari Aktivitas Warganet
Kemudahan akses internet yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat membuat internet menjadi bagian yang melekat dalam aktivitas sehari-hari. Berdasarkan publikasi Statistik Telekomunikasi Tahun 2023 oleh Badan Pusat Statistik, tiga tujuan penggunaan internet yang mendominasi di antaranya, hiburan yaitu sebesar 80,26%, mendapat informasi/berita dan penggunaan medsos dengan persentase 76,08% dan 76,04%. Dengan intensitas penggunaan internet untuk berbagai tujuan tersebut, rasanya wajar jika waktu masyarakat dalam berselancar di internet akan bertambah tiap harinya. Mulai dari menonton video, membaca artikel, hingga scroll beranda medsos, aktivitas ini mengambil bagian dari kehidupan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan laporan oleh We Are Social dan Hootsuite yang bertajuk “Digital 2023 : Indonesia”, warganet Indonesia rata-rata menghabiskan 3 jam 18 menit sehari dalam mengakses media sosial dari rata-rata penggunaan internet secara keseluruhan selama 7 jam 42 menit. Aktivitas ini mencakup penggunaan media sosial yang paling sering digunakan yaitu WhatsApp (92,1%), Instagram (86,5%), Facebook (83,8%), Tiktok (70,8%), dan Telegram (64,3%).
Konsumsi Konten yang Berlebihan
Dengan waktu rata-rata warganet yang menghabiskan tiga jam lebih dalam berselancar di media sosial, fenomena brainrot menjadi semakin sulit dihindari. Algoritma media sosial yang dirancang untuk menyesuaikan konten favorit dan menarik perhatian pengguna dapat membuat kita merasa terhubung secara emosional dengan suatu konten. Hal ini membuat kita terus memikirkannya, membahasnya, atau bahkan mencari konten serupa tanpa henti.. Mulai dari mengikuti topik atau challenge di FYP Tiktok hingga mendalami topik tertentu dalam thread twitter. Fenomena ini menunjukkan bahwa warganet Indonesia sudah menjadikan internet sebagai aspek pembentuk pola pikir dan cara dalam melihat dunia digital, bukan lagi sebagai sarana dalam mengisi waktu luang.
Dampak dari Fenomena
Konsumsi konten media sosial memang memberi hiburan di waktu luang, namun jika tidak dibatasi dengan bijak, dampaknya bisa sangat merugikan kesehatan mental dan kognitif kita. Dalam konteks neuropsikologi, otak kita seperti sebuah otot yang perlu dilatih agar tetap kuat. Tanpa latihan yang baik, sinapsis otak dapat melemah, mengganggu eksekutif fungsi otak, dan menurunkan kemampuan kita dalam berpikir kritis dan memecahkan masalah. Hal ini menyebabkan kita lebih rentan terhadap adiksi digital dan semakin sulit untuk mengembangkan daya imajinasi, berpikir abstrak, serta melakukan diskusi yang konstruktif.
Perilaku yang muncul akibat paparan konten yang tidak produktif pun dapat menciptakan pola yang merugikan, seperti perbandingan diri yang berlebihan dengan orang lain, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga perubahan mood yang cepat. Kondisi ini menciptakan pola hidup yang kurang sehat, memengaruhi kualitas interaksi sosial, dan menurunkan kepuasan hidup secara keseluruhan.
Solusi yang Bisa Dilakukan
Namun, semua ini bisa diatasi dengan pendekatan yang lebih bijak dan sadar. Orang tua dapat berperan penting dengan memberi dukungan yang tepat, seperti membatasi durasi screen time, menetapkan jadwal yang jelas untuk menggunakan media sosial, dan memberikan contoh perilaku yang sehat. Kegiatan di luar ruangan atau hobi yang produktif bisa dialihkan untuk mengurangi kecanduan konten digital. Selain itu, penting bagi anak-anak dan generasi muda untuk memahami pentingnya memilih konten yang sesuai, serta belajar membedakan antara hiburan dan informasi yang valid, agar mereka tetap bisa berpikir kritis, mengasah kreativitas, dan menjaga keseimbangan dalam menjalani kehidupan digital yang penuh tantangan ini.
Penutup
Dengan dukungan yang tepat, kesadaran diri, serta penggunaan media sosial yang lebih terkontrol, kita bisa menghindari dampak buruk brainrot, dan memanfaatkan teknologi untuk pengembangan diri yang lebih baik. Kunci utamanya adalah mengembalikan fokus pada hal-hal yang bermanfaat dan berkualitas, serta menjadikan media sosial sebagai alat untuk berkembang, bukan sebagai sumber ketergantungan.
Semoga kita semua dapat lebih bijak dalam menggunakan media sosial, menjadikannya ruang yang produktif, inspiratif, dan membawa dampak positif bagi kehidupan kita sehari-hari.
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Telekomunikasi Indonesia 2023. Retrieved from https://www.bps.go.id/id/publication/2024/08/30/f4b846f397ea452bdc2178b3/statistik-telekomunikasi-indonesia-2023.html
We Are Social. (2023, Januari). Digital 2023. Retrieved from https://wearesocial.com/id/blog/2023/01/digital-2023/
