Cerita di Balik Sapi Kobe yang Termahsyur Itu

Lagi di kebon
Tulisan dari Gesit Prayogi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Anda plesir ke Jepang, salah satu makanan yang paling terkenal adalah steak Kobe. Sajian daging panggang ini memang sangat spesial karena rasa dan teksturnya yang lembut ketika masuk ke dalam mulut.
Namun, tahukan Anda bahwa Koba lahir berkat Jepang meniru dan menyempurnakan produk daging terbaik dunia. Masyarakat di Negeri Matahari Terbit tak mengonsumsi daging sapi sebelum Restorasi Meiji.

"Makanan Jepang modern yang ada sekarang tidak terlepas dari Restorasi Meiji, Kaisar Meiji. Dia melihat saat itu apabila Jepang tertutup, mereka tak akan berkembang," kata Ping Tjuan, pemandu wisata yang menemani saya saat plesir ke Jepang beberapa waktu lalu.
Ping menambahkan, strategi itu sukses. Sebagai negara yang tidak makan daging sapi sebelum Restorasi Meiji, Jepang berhasil membuat daging sapi paling terkenal di dunia.
"Tahun 80-90an kita hanya mengenal black angus namun pada tahun 2000an, kobe beef muncul. Ini adalah passion, ini adalah brand yang dibuat 70 tahun tanpa making money, sapi jepang dipanggilnya lembu dibuat menarik gerobak. Orang jepang tidak makan sapi, waktu Resotrasi Meiji dan orang luar masuk, saat itulah mereka belajar," papar Ping, yang sudah puluhan tahun menetap di Jepang.
Proses Memang bukan perkara mudah untuk membuat daging sapi yang dikenal seantero dunia. Pada awal merintis, Jepang banyak belajar dari Swiss -- negara Eropa pertama yang memiliki teknik paling canggih dalam peternakan sapi. Salah satu metode yang paling dikenal adalah pemberian ampas dari proses pembuatan minuman bir untuk membuat sapi-sapi gemuk. "Jepang belajar dan mengimpor sampi dari Swiss dengan jenis Longhord dan dikawin-silang dengan sapi Jepang. Anaknya kemudian dibesarkan dan dikawinkan lagi dengan sapi Jepang dan terus dilakukan sembari dipikirin cara lain untuk membuat terus sambil dipikirin membuat daging sapi terbaik." kata Ping. Sebagaimana diketahui, sapi Kobe dikenal karena dagingnya tidak berserat. Ini tak terlepas dari proses menernak sapi, yang di mana sapinya tidak boleh jalan-jalan. Selain itu, satu kandang sapi, juga hanya satu ekor tak boleh lebih.
"Ketika musim panas panas dikasih AC dan musim dingin dikasih penghangat. Kemudian dipikirkan bagaimana caranya supaya sapi tidak stress, diputarkan musik klasik di kandangnya masing-masing." Namun, sapi yang tidak mengalami stress membuatnya gemuk dan banyak lemak yang perlu dihancurkan. Akhirnya, Jepang pun menemukan cara bagaimana caranya supaya lemak berlebih itu dibuang. Lahirlah solusi untuk memijit sapi, yang dulu menggunakan tenaga manusia kini diganti oleh robot. Ping menuturkan, setidaknya sapi-sapi kobe tiap hari dipijat sebanyak empat kali. Nah, setelah memenuhi umur yang cukup yakni 2,5 tahun. Sapi kobe pun disembelih dalam kondisi perawan dan perjaka. "Kobe beef adalah sapi tajimo yang hanya boleh diternakan di kyoto prefektur tempat kota kobe berada. Dia juga hanya bileh dikasih rumput dan air dari kyoto prefektur . Kalau itu sapi dibawa dari kyoto prefektur nggak boleh pakai brand kobe," jelas Ping. Lalu, kok ada Wagyu?
Jadi begini, wagyu beef itu artinya sapi Jepang. Menurut Ping, kobe beef sudah pasti wagyu, tapi wagyu belum tentu kobe. Karena kobe sudah menjadi brand, walaupun sapinya menggunakan tajimo tetap tidak boleh menggunakakan emblem kobe.

Dia menambahkan, tiap daerah di Jepang memiliki brand wagyu sendiri-sendiri. Jumlahnya ada 30an dan yang belum jadi brand ada ratusan. "Kalau cuma embel-embel wagyu itu cuma sapi jepang, cara ternaknya sama," tuntas Ping.

