Pariwisata Berkelanjutan Melalui Budaya: Rebranding Batuhiu Culture Festival

Dosen Administrasi Bisnis, Universitas Padjadjaran. Saya fokus mendalami hal-hal yang berkaitan dengan marketing dan digital finance. Saya tertarik terhadap kuliner dan travelling.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Gessan Dewi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pantai Batuhiu, Pantai Pangandaran, merupakan destinasi wisata yang menawarkan suasana tenang dan pemandangan unik berupa batu karang menyerupai hiu. Karena kemiripannya dengan Tanah Lot di Bali, pantai ini juga dijuluki “Tanah Lot Mini”. Meski belum sepopuler Pantai Barat, Pantai Timur, atau Pantai Batukaras, Batuhiu memiliki daya tarik tersendiri, ideal untuk bersantai maupun berolahraga seperti bersepeda dan lari di sepanjang pantai.
Sebagai upaya meningkatkan daya tarik wisata, masyarakat setempat menggelar tradisi tahunan Ruwat Jagat Sila Saamparan, sebuah ritual budaya yang merupakan bentuk rasa syukur atas berkah dari laut dan hasil pertanian yang menopang perekonomian warga, termasuk untuk kebutuhan sehari-hari dan pendidikan anak-anak.
Tradisi ini telah berlangsung sembilan kali dan dilaksanakan selama tiga hari. Rangkaian acaranya meliputi hiburan rakyat, festival layangan, pawai obor, dan puncaknya adalah prosesi adat. Prosesi dimulai dari iring-iringan, berjalan kaki dari kawasan wisata penyu hingga titik lokasi pertemuan yang diikuti oleh peserta prosesi adat dan warga setempat. Dalam proses iring-iringan tersebut peserta membawa 10 kendi berisi air yang berasal dari berbagai sumber mata air dan terdapat hasil komoditas pertanian yang dipajang dan diangkut seperti kelapa, tomat, wortel, sawi, cabai dan hasil panen lainnya.
Setibanya di titik pertemuan, iring-iringan disambut dengan tarian tradisional dan diarahkan ke depan panggung utama. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pemindahan air dari kendi ke gentong yang telah disiapkan. Ritual penyatuan air ini memiliki makna “ngahiji na niat jeung tekad sadayana, kanggo kahirupan sadayana” yang artinya bersama-sama memiliki niat yang baik untuk kehidupan bersama di Desa Ciliang.
Setelah air dari kendi dipindahkan ke dalam gentong, perwakilan peserta membawa air tersebut ke tepi laut. Di sana, air diserahkan kepada tokoh masyarakat untuk kemudian dilepaskan ke lautan, sebagai simbol harapan dan doa agar Pantai Batuhiu terus membawa keberkahan dan kemajuan di masa depan.
Selain sebagai warisan budaya leluhur, tradisi ini juga dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan pariwisata di Pantai Batuhiu. “Prinsip dasar pariwisata adalah adanya atraksi dan budaya,” ujar Nana Sukarna, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran. Sejalan dengan hal tersebut, tradisi Ruwat Jagat dikemas menjadi Batuhiu Culture Festival untuk meningkatkan daya tarik dan memudahkan promosi, khususnya di media sosial. “Sekarang nama kegiatannya lebih modern dan mudah diingat, saya mendapatkan informasinya dari instagram” ungkap Lisnarini, salah satu pengunjung Batuhiu Culture Festival 2025.
Pemerintah Kabupaten Pangandaran turut mendukung penuh upaya ini. Batuhiu Culture Festival kini sedang dalam proses peninjauan untuk memenuhi indikator sebagai event budaya tingkat nasional di bawah naungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Selain itu, pemerintah daerah juga tengah merancang ulang kawasan Pantai Batuhiu melalui proses lelang tender sebagai bagian dari adaptasi terhadap tren wisata yang lebih modern dan berkelanjutan.
Dengan pendekatan baru ini, Batuhiu Culture Festival menjadi langkah strategis dalam rebranding destinasi Pantai Batuhiu, memadukan pelestarian budaya lokal dengan inovasi wisata yang relevan dengan perkembangan zaman.
