Magis yang menjadi Ironi: Meramal Luka Gile dalam Pagelaran Warisan Budaya Kite

Penulis lepas, Divisi Kebudayaan Yayasan Svara Bumei Betuah
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ghaimbibie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sudah hampir dua bulan, kelompok Sanggar Seni Salsabila belakangan menggelar pertunjukan tunggal yang bertajuk Warisan Budaya Kite. Sebuah momentum giat kebudayaan yang merespons isu tradisi Luka Gile dari masyarakat suku Lembak Delapan Bengkulu yang kian terdegradasi. Kegiatan ini difasilitasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan wilayah VII Bengkulu-Lampung, yang berdasarkan program Fasilitas Pemajuan Kebudayaan 2025 berupa bantuan dana melalui seleksi proposal. Sanggar Seni Salsabila yang lolos kurasi dalam program tersebut, menggelar acara selama dua hari di Taman Budaya Bengkulu, pada tanggal 27-28 September 2025 lalu. Dengan agenda Workshop di hari pertama dan penampilan pertunjukan seni pada hari keduanya yang menyemarakkan tradisi Luka Gile. Demikian ikhtiarnya, para penggiat tradisi Luka Gile pun dihadirkan. Mereka adalah masyarakat asli suku Lembak Delapan yang menjadi pemeran penting dalam pagelaran. Begitu sesi pertunjukan pada di hari kedua, mereka membawa permainan Luka Gile ke atas panggung pagelaran di hadapan penonton yang menyaksikan. Suasana tampak sunyi, ketika Tukang Nundai mengawali sajian dengan mengunyah sirih. Tak berselang lama, ia lalu membisikkan Nundai (mantra) sembari mengusap sirih yang sudah dikunyah tadi ke wajah boneka Luka. Nyanyian Nundai semakin lantang, irama ketukan lidi pun kian terdengar kencang. Seketika boneka Luka bergerak dengan sendirinya, tak karuan, dengan tetap dijaga oleh Pemegang Luka. Ia seakan menggile! (menggila), mengikuti arah gerak Tukang Nundai. Kita yang mengamati ritme penyajiannya semakin tergesa, semakin cepat, semakin menggila, hingga boneka Luka pun terlepas dari tangan Si Pemegangnya yang tidak terbendung lagi menjaga. Inilah akhir dari pertunjukan tradisi Luka Gile yang dibalut oleh kekuatan magis untuk menghidupkan boneka Luka tersebut bergerak dengan sendirinya.

Dalam sesi itu pula beberapa penampilan karya Sanggar Seni Salsabila turut dihidangkan dalam pagelaran, yang menarik ialah penampilan karya pamungkasnya yang menerobos batas magis tradisi Luka Gile. Dengan genggaman kreativitas, Sanggar Seni Salsabila menyublim fenomena tradisinya menjadi pertunjukan yang bersifat entertainment. Pagelaran ini menyuguhkan kita dua segmen pertunjukan Luka Gile yang berbeda. Antara penampilan tradisinya dipenuhi unsur magis yang dibawakan oleh masyarakat Lembak, dan sajian kreasinya yang dikemas oleh Sanggar Seni Salsabila. Alih-alih sebagai rekreasi tontonan pertunjukan artistik semata, Sanggar Seni Salsabila membawa harapan keberlangsungan tradisi Luka Gile kepada khalayak. Terlebih lagi dari para pemangku tradisinya yang mendambakan keberlangsungan permainan magis ini, seperti yang mereka luapkan dalam agenda Workshop Luka Gile pada hari pertama. Sebagai pemateri Luka Gile, para penggiat ini mendapatkan kesempatan untuk berbagi pemahaman, menyuarakan keprihatinan, hingga meneriaki impian tradisi Luka Gile kepada pengunjung. Merangkum informasi Workshop, bahwa Luka Gile atau Bubu Gile, merupakan permainan rakyat dari masyarakat Lembak yang menggunakan bubu dengan menyerupai bentuk fisik sebagaimana manusia. Tidak hanya bubu, hadirnya sirih, benang, hingga nyanyian Nundai berserta bunyi ketukan Lidi dari Tukang Nundai membentuk mata rantai tindakan magis. Guna menyerukan entitas lain memberi energi terhadap Luka agar terlihat bergerak, layaknya “menggile”. Bagi penggiat Luka Gile, memanggil entitas gaib tersebut hanyalah untuk semata hiburan. Bentuk ekspresinya tidak berlebihan sampai menimbulkan perilaku yang melanggar norma hidup, tidak pula menuhankan, hanya menjadi sebuah bentuk ekspresi kesenangan masyarakat lokal. Tentu perihal “magis sebagai daya” dari permainan Luka Gile. Dari sinilah letak keunikan, kearifan, bahkan merupakan sebuah identitas budaya. Ironisnya, unsur magis dalam permainan Luka Gile bak dipaksa untuk berkutat dengan stigma masyarakat masa kini. Kadang ia harus menghadapi persepsi rasionalitas, kala ia harus berbenturan dengan nilai agama. Bukan tanpa sebab, pasalnya dalam wawancara khusus kepada pihak penggiat Luka Gile pada saat kegiatan Workshop, memberikan penjelasan yang mencengangkan. “Itu merupakan setan, syirik!”, ujar pandangan masyarakat yang diperagakan oleh Informan. Belum lagi sesepuh penggiat tradisi Luka Gile yang telah lama mengubur hasratnya dalam-dalam sebagai Tukang Nundai, ketika ia diangkat menjadi Imam masjid atau panutan agama bagi warga di lingkungannya. Jika Luka Gile harus dibenturkan dengan agama, Bagaimana nafasnya ke depan?. Pertanyaan yang seolah menghantui harapan para penggiat Luka Gile. Walau demikian, motivasi besar para penggiat ini memberontak kekhawatiran tersebut. Mereka berterus terang mengajak semua khalayak untuk dapat melestarikan permainan Luka Gile, tidak hanya sebatas masyarakat Lembak saja. Langkah ini dapat dilakukan dengan giat pengembangan, melalui kreativitas. Bahkan mereka sangat mengharapkan sekaligus bila ada pihak lain yang ingin berdedikasi menekuni permainan Luka Gile secara format tradisi yang notabene menggunakan unsur magis, maka mereka senantiasa siap membimbing melalui 'jalur khusus'. Pernyataan ini laksana kegetiran mereka terhadap eksistensi magis yang dihadapi dalam pandangan masa kini, sekaligus menjadi tamparan keras dari harapan mereka yang menjaga akar nilai-nilai luhur. Pagelaran ini merangsang kita untuk kembali merefleksi keadaan Luka Gile yang dewasa ini membingungkan, antara eksistensi magis, wacana kreativitas, hingga stigma masyarakat yang seolah mem-paradoks-kan Luka Gile sebagai ‘warisan budaya'. Apakah eksistensi magis masih relevan di era sekarang?. Apakah magis masih menjadi daya dari Luka Gile, Atau mungkin wacana kreativitas menjadi daya baru bagi kesinambungan Luka Gile seperti giat karya oleh Sanggar Seni Salsabila?. Kreativitas yang menjadi solusi stigma masyarakat, atau ia malah “membunuh” penggiat tradisi Luka Gile?. Barangkali yang kita elukan hanyalah aspek fisik Luka Gile semata, yang ingin melupakan metafisik dalam tradisi Luka Gile sebagai warisan budaya. Memang budaya tidaklah konstan, budaya adalah suatu proses, bergerak, menuju pemapanan peradaban. Namun lebih esensialnya, budaya adalah kita. Maka dari itu, kesadaran merupakan jalan keluar bagi kita yang melihat arah ke depan tradisi Luka Gile ini. Wacana kreativitas bukanlah suatu masalah, melainkan sebagai celah, bagi Luka Gile untuk memperlapang nafasnya dalam mengikuti zaman. Bukan eksistensi magis yang ditindas, melainkan dikembangkan melalui kreativitas. Sehingga lahirnya bentuk pertunjukan baru dari kreativitas Luka Gile, tidak akan menafikan eksistensi magis yang terkandung dalam bentuk tradisi lama. Ia semestinya diperkaya, berjalan bergandengan meneroka masa depan, demi kesinambungan. Pagelaran Warisan Budaya Kite telah memantik kita untuk berbenah diri dalam memandang sebuah warisan budaya. Apa yang diwariskan kepada kita dari Pagelaran tersebut, ialah sikap menghargai bahwa memang tradisi Luka Gile memerlukan unsur magis untuk terus tetap hidup. Seakan sukar, namun begitulah apresiasi budaya. Ketika tradisi Luka Gile memerlukan unsur magis, mari kita sejenak melepaskan kacamata rasionalitas dan perspektif agama untuk memaknai tradisi ini sebagai kearifan lokal. GHAIMBIBIE Penulis lepas, Divisi Kebudayaan Yayasan Svara Bumei Betuah
