Mimpi dalam Kacamata Neurosains: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Otak?

Undergraduated Psychology Student at University of Brawijaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari ghaitsa intan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mimpi selalu menjadi bagian menarik dari pengalaman tidur manusia. Semua orang pasti pernah terbangun dengan rasa penasaran, heran, dan bingung. Terkadang, manusia juga berusaha mengingat apa yang terjadi di dalam mimpi saat tidurnya. Namun, berdasarkan pengalaman yang sering dianggap sederhana ini, terdapat proses kompleks yang berlangsung di dalam otak.
Dalam beberapa dekade terakhir, kemajuan neurosains mulai mengungkap bagaimana aktivitas saraf, pola gelombang otak, dan sistem memori berfungsi selama kita tertidur.
Melalui sudut pandang neurosains, mimpi tidak lagi dipandang sekadar fenomena misterius, tetapi sebagai hasil dari dinamika aktivitas otak yang berperan dalam pengolahan informasi, emosi, dan pengalaman harian. Tulisan ini mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di otak ketika kita bermimpi, serta mengapa proses tersebut penting bagi kesehatan mental dan fungsi kognitif kita.
Ada dua pandangan terkait mimpi, Menurut pandangan psikoanalisis, Sigmund Freud, mimpi bukan hanya aktivitas manusia ketika tidur namun Freud menganggap mimpi sebagai jalan menuju ketidaksadaran, karena di dalamnya tersimpan konflik, emosi, dan perasaan yang dipendam di dalam diri kita, mimpi itu seperti “Jalan kerajaan menuju alam bawah sadar” (royal road to the unconscious) yang berfungsi sebagai pemenuhan upaya yang disamarkan (wish fulfillment).
Konsep fundamental ini membedakan antara isi manifes (apa yang diingat) dan isi laten (makna tersembunyi), Freud menjelaskan bahwa Isi Laten diubah menjadi Isi Manifes melalui suatu proses yang disebut Kerja Mimpi (Dream-work). Namun, pandangan Freud ini ditentang oleh pandangan Neuroscience atau pandangan Hobson, bahwa mimpi itu memiliki dasar utama Aktivitas Fisiologis Otak dan terjadi karena adanya hasil sampingan dari proses biologis yang terjadi selama proses tidur REM.
Sebenarnya apa yang terjadi di otak manusia saat sedang tidur dan menyebabkan mimpi?
Perlu kalian ketahui, sebelum memulai prosesnya, mimpi dihasilkan dari interaksi rumit meliputi berbagai wilayah otak yang menunjukkan pola aktivitas unik, dan pastinya banyak yang bertanya mengapa mimpi selalu tidak masuk logika? Itu dikarenakan otak mengalami hipoaktivitas (penurunan aktivitas) yang membuat lobus frontal tidak berfungsi saat tidur dan semua hal yang tidak masuk akal menjadi masuk akal.
Selain itu juga saat bermimpi otak terdapat hiperaktivitas (aktivitas berlebih) pada wilayah limbik terutama pada bagian amygdala dan hippocampus, hal ini menjelaskan mengapa mimpi cenderung emosional karena dipengaruhi oleh amygdala selain itu juga mimpi sering melibatkan pemrosesan memori karena dipengaruhi oleh hippocampus.
FASE NREM
Mimpi juga bisa terjadi di masa NREM, tetapi kontenya cenderung tidak emosional, dan kurang aneh, lebih seperti pemikiran atau kenangan. Hal ini berkaitan dengan tingkat aktivasi yang lebih seragam diseluruh korteks, tanpa dikoneksi frontal yang parah seperti pada REM.
Pada tahap NREM 1, kita baru mulai tertidur sehingga aktivitas tubuh dan otak mulai menurun, tetapi tubuh belum benar benar rileks sepenuhnya. Karena itu, kita masih sangat mudah terbangun dan tidur kembali. Fase ini juga dikenal sebagai tidur ringan.
Tahap NREM 2, kesadaran kita terhadap lingkungan sekitar semakin berkurang. Pernapasan serta detak jantung menjadi lebih pelan dan ritmis, menandakan tubuh mulai masuk ke tahap tidur yang lebih stabil.
Pada tahap selanjutnya yaitu NREM 3, ini adalah fase tidur yang paling dalam dan sering disebut sebagai deep sleep. Pada tahap ini, tubuh berada dalam kondisi sangat rileks sehingga menjadi sangat sulit dibangunkan dan hampir tidak merespons suara atau rangsangan dari lingkungan luar. Tahap ini juga sudah mendekati tahap REM.
FASE REM
Selama fase ini, perubahan signifikan terjadi pada sirkuit aktivasi otak yang menjelaskan sifat mimpi. Tidur REM ini adalah fase di mana mimpi paling sering dilaporkan, karena tingginya Asetilkolin (ACh) dari brainstem (Pons), yang memicu aktivasi kortikal. Selain adanya peningkatan, terdapat pula penurunan pada Norepinephrine dan Serotonim yang berkontribusi pada pemutusan koneksi dengan dunia luar dan kelainan logika.
Dalam proses terjadinya mimpi, salah satu mekanisme pentingnya adalah aktivasi botton-up, yaitu ketika rangsangan neural muncul dari bagian otak bawah dan kemudian bergerak ke area yang lebih tinggi. Aktivitas ini berasal dari pons, sebuah struktur di batang otak yang secara spontan menembakkan sebuah sinyal selama fase tidur REM. Sinyal tersebut lalu naik ke area korteks. Korteks adalah area yang bertanggung jawab atas persepsi, pengolahan informasi, dan pembentukan pengalaman sadar.
Karena informasi ini tidak berasal dari dunia luar, korteks berusaha untuk mencerna rangsangan internal dengan cara membuat gambaran yang kita kenal sebagai mimpi. Dengan kata lain, mimpi muncul ketika otak bagian atas berusaha untuk memberi makna pada aktivitas spontan dari bagian otak bawah, sehingga sering menghasilkan pengalaman yang tidak logis dan terkesan acak. Jika dianalogikan, Pons ibarat orang iseng yang menekan remote tv secara acak, sedangkan korteks bagaikan TV yang mencoba menampilkan sesuatu dari sinyal acak itu.
