Kenapa Kita Sering Salah Menilai Orang? Melihat dari Serial Heated Rivalry

Mahasiswi S1 Jurusan Psikologi Universitas Brawijaya
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Ghaitsaa Aulia Nurmayia Rachman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu merasa sangat tidak menyukai seseorang padahal kalian belum benar-benar saling mengenal? Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena prasangka semacam ini sangat sering terjadi. Kita sering membentuk kesan awal terhadap seseorang hanya dari penampilan, sikap atau interaksi yang sangat singkat. Tanpa kita sadari, penilaian tersebut bisa saja keliru atau bahkan salah secara keseluruhan.
Fenomena ini juga sering ditampilkan dalam dunia hiburan lewat serial. Akhir-akhir ini, para penikmat serial sedang ramai membicarakan Heated Rivalry, sebuah serial Amerika hasil adaptasi dari novel populer karya Rachel Reid dengan judul yang sama. Serial ini dibintangi oleh Hudson Williams dan Connor Storrie sebagai dua tokoh utamanya, Shane Hollander dan Ilya Rozanov. Popularitas serial ini tidak hanya terlihat dari tingginya antusiasme penonton dimedia sosial, tetapi juga dari berbagai sorotan media yang diterima para pemerannya. Hudson Williams dan Connor Storrie bahkan sempat menjadi pembawa obor pada parade Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026 di Italia. Selain itu, Connor Storrie baru-baru ini tampil sebagai pembawa acara dalam program komedi terkenal Amerika, Saturday Night Live (SNL), sementara serial Heated Rivalry sendiri berhasil meraih penghargaan Outstanding New TV Series pada ajang 37th Annual GLAAD Media Awards.
Jika kamu membaca novelnya atau menonton serialnya, tentu kamu akan familiar dengan dinamika hubungan antara Shane Hollander dan Ilya Rozanov. Dalam cerita tersebut, keduanya dikenal sebagai rival berat didunia hoki es, Shane merupakan kapten tim Montreal Metros, sementara Ilya merupakan bintang kesayangan Boston Riders. Di depan publik, mereka berdua saling memprovokasi, melempar sindiran hingga menunjukkan sikap seolah mereka saling membenci satu sama lain. Media, penonton, orang-orang terdekat mereka bahkan mereka berdua sendiri pun awalnya percaya bahwa permusuhan tersebut memang nyata.
Namun, seiring berjalannya cerita, hubungan mereka justru berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks. Permusuhan yang tampak diawal cerita berujung dengan keduanya saling jatuh cinta dan berpacaran, atau sering dikenal sebagai trope enemies to lovers.
Pertanyaannya kemudian adalah mengapa manusia, seperti halnya Shane melihat bagaimana Ilya maupun sebaliknya, mudah terjebak dalam penilaian awal yang keliru terhadap orang lain? Untuk memahami hal ini, kita dapat melihatnya melalui pendekatan filsafat.
Landasan pertama adalah ontologi, yaitu cabang filsafat yang membahas hakikat realitas atau keberadaan sesuatu. Secara sederhana, ontologi mempertanyakan apa sebenarnya wujud dari sesuatu yang kita lihat? (Kattsoff, 2004).
Disini, objek yang dinilai oleh Shane adalah seorang manusia, yaitu Ilya Rozanov. Namun sudut pandang yang digunakan Shane pada awalnya sangat terbatas. Ia hanya melihat Ilya dari perilaku yang tampak didepannya saja, yaitu seorang atlet hoki asal Rusia yang arogan, penuh percaya diri, suka memprovokasi lawan dan terlihat menyebalkan di lapangan.
Masalahnya, kita seringkali menyamakan sikap apa yang ditampilkan saat itu dengan sikap keseluruhan orang lain. Kita menganggap bahwa sikap apa yang terlihat saat itulah adalah keseluruhan dari identitas seseorang. Padahal dalam kenyataannya, manusia memiliki banyak lapisan kepribadian yang tidak selalu terlihat setiap saat.
Hal yang sama terjadi pada karakter Ilya. Apabila berhubungan dengan es dan hoki, ia memang tampil provokatif dan penuh percaya diri. Namun dibalik itu, ia sebenarnya adalah sosok yang peduli, menyayangi ibunya serta menyimpan berbagai kesedihannya sendiri. Kebenaran ontologis tentang Ilya baru mulai terlihat ketika hubungan mereka berkembang dan Shane mulai mengenal Ilya lebih dalam. Dengan kata lain, kesalahan dalam menilai orang sering muncul karena kita berhenti pada sikap awal seseorang, tanpa mencoba melihat sikapnya yang lebih jauh.
Selanjutnya, persoalan ini dapat dianalisis melalui epistemologi, yaitu cabang filsafat yang mempelajari bagaimana manusia memperoleh pengetahuan dan bagaimana suatu pengetahuan dapat dianggap benar. Dalam kasus Shane, pengetahuannya tentang Ilya terbentuk melalui pengalaman inderawi dan pengetahuan awam yang ia dapatkan. Ia melihat ekspresi sinis Ilya di lapangan, mendengar komentar provokatifnya saat pertandingan, serta menyaksikan berbagai interaksi kompetitif mereka selama bertahun-tahun.
Pendekatan ini dikenal dalam filsafat sebagai empirisme, yaitu pandangan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman pancaindra (Hardiman, 2011). Namun, ketika pengalaman tersebut sangat terbatas, kesimpulan yang dihasilkan juga bisa menjadi keliru. Dalam ilmu logika, kesimpulan yang ditarik terlalu cepat dari data yang terbatas disebut sebagai logical fallacy, khususnya jenis hasty generalization atau generalisasi terburu-buru. Hanya dari beberapa interaksi secara kompetitif di arena hoki, Shane langsung menyimpulkan bahwa seluruh kepribadian Ilya adalah brengsek. Padahal perilaku seseorang dalam satu konteks tertentu tidak selalu mencerminkan keseluruhan karakter mereka. Mengandalkan satu bukti tanpa melibatkan penalaran rasional seringkali membuat kita terjebak pada penilaian yang tidak akurat.
Lalu bagaimana permusuhan antara Shane dan Ilya akhirnya berubah menjadi hubungan yang lebih dalam? Di sinilah konsep falsifikasi dari filsuf Karl Popper dapat membantu menjelaskan proses tersebut. Menurut Popper, suatu teori dianggap ilmiah jika terbuka untuk diuji dan bahkan berpotensi untuk dibuktikan salah (Popper, 2008). Artinya, kebenaran tidak diperoleh dengan terus mencari bukti yang mendukung keyakinan kita, tetapi dengan bersedia menguji apakah keyakinan tersebut dapat dipatahkan oleh fakta baru. Selama bertahun-tahun, Shane sebenarnya hanya melakukan verifikasi terhadap keyakinannya. Ia cenderung memperhatikan perilaku Ilya yang memperkuat anggapannya bahwa Ilya adalah rival yang pantas dibenci.
Namun ketika mereka mulai menghabiskan waktu bersama diluar arena pertandingan, berbagai fakta baru mulai muncul. Shane menemukan bahwa Ilya ternyata mampu menjadi pendengar yang baik, menghargai batasan pribadi yang dibuat Shane, serta menunjukkan perhatian yang tulus. Fakta-fakta baru ini menjadi anomali yang menggugurkan teori lama Shane tentang Ilya. Ketika teori lamanya terbukti tidak sepenuhnya benar, Shane akhirnya merevisi cara pandangnya. Proses inilah yang dalam filsafat ilmu disebut sebagai falsifikasi, yaitu mengganti keyakinan lama ketika dihadapkan pada bukti yang lebih kuat.
Terakhir, dinamika hubungan mereka juga dapat dilihat dari sudut pandang aksiologi, yaitu cabang filsafat yang membahas nilai dan dampak etis dari suatu pengetahuan (Suriasumantri, 2009). Perjalanan Shane dan Ilya menunjukkan bahwa memahami orang lain membutuhkan lebih dari sekadar kesan pertama. Ketika seseorang bersedia membuka diri, kita juga tidak buru-buru memberi penilaian dan mencoba memahami perspektif orang lain secara lebih jauh, maka hubungan antarmanusia dapat berkembang menjadi lebih harmonis.
Heated Rivalry secara tidak langsung menunjukkan bahwa rivalitas yang tampak begitu nyata seringkali terbentuk dari persepsi yang terbatas. Ketika prasangka tersebut diuji melalui pengalaman yang lebih luas, pemahaman baru dapat muncul. Pada akhirnya, kesalahan dalam menilai orang lain bukanlah sesuatu yang dapat dihindari. Namun melalui pendekatan yang lebih reflektif, baik secara ontologis, epistemologis maupun aksiologis, kita dapat belajar untuk tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Siapa tahu, orang yang awalnya kita anggap sebagai musuh justru dapat menjadi seseorang yang paling memahami kita, bahkan bisa menuju ke hubungan yang lebih serius.
