Di Balik Tirai Pandemi: Kepribadian dan Perilaku Menabung

Alumni Psikologi UNM - Peminatan Psikologi Ekonomi
Tulisan dari Muhammad Anshary Arma Arsyad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

‘Mengelola uang dengan baik tidak ada hubungannya dengan kecerdasan Anda dan lebih banyak berhubungan dengan perilaku Anda.’ ~ Morgan Housel
Pandemi 2020 membuat banyak dimensi yang mengalami perubahan, salah satunya adalah bagaimana orang-orang mulai memerhatikan kondisi keuangannya. Seperti yang dilansir dari Databoks tahun 2021 menunjukkan bahwa orang-orang mulai memangkas pengeluarannya selama 6 bulan terakhir (72%), sebagian yang lain mengandalkan tabungannya untuk pengeluarannya (35%), dan sebagian lainnya menjadi lebih sering menabung (34%), serta sebagian besar yang lainnya mulai memprioritaskan menabung untuk kesulitan tak terduga dalam satu tahun ke depan (54%).
Apa itu tabungan?
Secara teori, tabungan diartikan sebagai selisih antara kekayaan bersih pada awal dan akhir suatu periode. Namun, perlu diketahui bahwa tabungan tidak selamanya harus ditaruh di celengan, tapi bisa juga di bank maupun berbentuk cash, tapi dapat juga berbentuk instrumen keuangan lainnya yang cukup mudah untuk dicairkan, seperti emas dan reksa dana pasar uang.
Lantas, seberapa penting sebenarnya tabungan?
Tabungan tidak hanya bermanfaat bagi ekonomi makro melainkan juga bagi kesejahteraan individu. Seperti yang disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dalam peringatan Hari Indonesia Menabung 2023 bahwa tabungan dapat meningkatkan inklusi keuangan dan memperkuat pendanaan pembangunan. Sedangkan, dilansir dari laman resmi Kementerian Keuangan menyebutkan bahwa tabungan dapat bermanfaat sebagai dana darurat yang dapat mencegah seseorang untuk melakukan pinjaman yang signifikan.
Data di awal menunjukkan bagaimana orang-orang mulai memprioritaskan menabung sebagai bantalan jika saja terjadi kondisi tak terduga seperti pandemi di kemudian hari. Namun, data setahun kemudian menunjukkan bahwa cita-cita itu sepertinya kian redup. Laporan dari Katadata Insight Center terkait Perilaku Keuangan menunjukkan bahwa dari 5.204 responden kebanyakan hanya menabung jika ada uang sisa (51%).
Lebih lanjut dalam laporan tahun 2021 itu menjelaskan bahwa dari generasi Millenial (23-38 tahun) jarang hingga tak pernah mengalokasikan dana secara khusus untuk menabung dari awal (52%), sedangkan generasi Z (15-22 tahun) juga menunjukkan hasil tidak jauh berbeda (57%).
Data lain dari Databoks menunjukkan bahwa mayoritas pengeluaran digunakan untuk konsumsi (74%), bahkan jika dilihat lebih dalam secara kelompok kategori pengeluaran tertinggi, yaitu > 5 juta per bulan juga kebanyakan menggunakan uangnya untuk konsumsi (67%). Data yang dikeluarkan tahun 2022 itu juga menunjukkan bahwa pengeluaran konsumsi Februari 2022 lebih tinggi dibandingkan masa pra pandemi (68%) di tahun 2019.
Data sebelumnya membuktikan bahwa menabung masih menjadi hal yang tidak terlalu penting untuk dilakukan. Salah satu faktor yang dapat menjelaskan fenomena tersebut adalah kepribadian.
Pendekatan yang sering digunakan untuk mengukur kepribadian adalah MBTI. Teori ini berpandangan bahwa kepribadian merupakan gabungan dari empat dimensi dasar, yaitu introvert/ekstrovert, sensing/intuition, thinking/feeling, judging/perceiving. Dilansir 16 Personalities menunjukkan bagaimana kepribadian seseorang dapat memengaruhi perilaku menabung sampai tips untuk mengatasinya.
Sebagai contoh, ISTJ cenderung berhati-hati terhadap uang yang ia miliki, sehingga ia sangat memerhatikan pengeluarannya. Namun, ia sering kali dikalahkan oleh godaan, sehingga ia tidak selalu terlihat berhemat seperti yang nampak dalam kesehariannya.
Tantangan umumnya adalah ketika mereka dalam kondisi yang mengharuskannya membagi kontrol pengelolaan uang seperti ketika dalam suatu hubungan pernikahan, selain itu mereka juga sering kali merasa benar. Jadi, lebih baik untuk sering berdiskusi soal keuangan bersama pasangan walaupun terkadang dalam budaya kita hal itu sering kali masih dianggap tabu.
Selain itu, teori yang juga sering digunakan adalah Big Five Theory. Teori ini menyatakan bahwa kepribadian seseorang dapat tergambar melalui lima dimensi umum, yaitu emotional stability, extraversion, conscientiousness, agreeableness, and openness. Model ini sering kali digunakan karena dimensi-dimensi itu relatif stabil dari waktu ke waktu.
Penelitian yang dirangkum dalam handbook berjudul Economic Psychology menunjukkan bahwa emotional stability dan introversion merupakan dua ciri utama kepribadian yang baik dalam menabung. Handbook terbitan tahun 2018 itu juga menunjukkan bahwa secara tidak langsung conscientiousness dan agreeableness juga berpengaruh terhadap perilaku menabung.
Terakhir, sebelum para pembaca berkesimpulan bahwa ternyata si introvert lebih mudah menabung dibanding si ekstrovert nampaknya bukanlah poin yang penulis ingin sampaikan. Perlu dipahami bahwa penelitian terkait kepribadian dan perilaku menabung masih sedikit, jadi masih terlalu dini untuk menyimpulkan mana kepribadian yang lebih baik dalam menabung. Namun, satu hal yang pasti bahwa menabung tetap menjadi keharusan demi keamanan finansial.
Selain itu, Covid-19 nampaknya kembali melonjak dan hampir semua orang tahu tentang ungkapan lama berikut: ‘Sedia payung sebelum hujan.’ Tapi, sepertinya lebih dari sebagian di antara mereka masih tidak juga membawa payung sekalipun awan telah terlihat mendung.
Sebagai implikasi, sekiranya akan lebih apik jika para ahli keuangan turut berkolaborasi dengan para ahli psikologi untuk mendapatkan gambaran utuh tentang kaitan perilaku manusia dengan uang, dan bukan sebatas di laboratorium belaka, tapi juga dalam hal praktis seperti pemberian perencanaan keuangan. Jadi, nampaknya memang benar bahwa bukan hanya kecerdasan yang memengaruhi keputusan kita terhadap uang, sehingga kutipan di awal tulisan ini benar adanya.
