Konten dari Pengguna

Orang Tua dan Anak: Menabung vs Judi Online

Muhammad Anshary Arma Arsyad

Muhammad Anshary Arma Arsyad

Alumni Psikologi UNM - Peminatan Psikologi Ekonomi

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Anshary Arma Arsyad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi judi online. Foto: Marko Aliaksandr/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi judi online. Foto: Marko Aliaksandr/Shutterstock

‘Anak-anak memang tidak pernah becus di bidang mendengarkan orang yang lebih tua, namun mereka tidak pernah gagal untuk meniru mereka.’

Judi online

Sebuah topik yang mendapatkan banyak sekali perhatian. Dilansir dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) transaksi judi online di Indonesia mencapai Rp 200 triliun. Angka itu meningkat pesat dari tahun 2017 yang hanya Rp 2 triliun. Sedangkan, dilansir dari CNBC bahwa terdapat 2,7 juta manusia yang terlibat judi online. OJK melaporkan data lain berupa total pinjaman online per Juni 2023 sebesar Rp 52,7 triliun. Bukan tidak mungkin kedua data tersebut tidak saling berkaitan.

Tak selesai di situ, judi online nampaknya mengait banyak nama yang terkenal. Mulai dari Youtuber Marsha Ozawa sampai artis seperti Ari Lasso, Denny Cagur, dan Boy William. Tak luput pula berita-berita mainstream seperti pura-pura dibegal setelah terlilit utang judi online dan ada juga yang sampai rela membunuh ibu kandungnya sendiri demi bisa main judi online.

Perjalan judi untuk sampai di tahap seperti itu sebenarnya bukanlah hal yang singkat. Berangkat dari judi tradisional seperti roulette yang harus didatangi secara langsung di kasino mewah Las Vegas atau bahkan yang lebih bernuansa lokal seperti sabung ayam. Semua pintu fisik itu membuat kontrol terhadap mereka yang terlibat akan lebih mudah dilakukan, seperti pelarangan usia di bawah umur. Namun, seiring adopsi internet seperti sekarang ini membuat penjagaan seperti itu semakin sulit dilakukan.

Penelitian yang dilakukan oleh Cock dan koleganya berjudul Early Gambling Behaviour In Online Games menunjukkan bahwa batasan antara judi online dan game online saat ini jadi sangat kabur. Hal serupa yang juga dilakukan oleh para influencer, yaitu dengan mengubah diksi game online yang sebenarnya adalah judi online.

Fenomena ini disebut sebagai game simulated gambling. Bahkan penelitian tahun 2018 itu juga menunjukkan bahwa seperempat dari mereka memainkan game (yang memiliki fitur judi) bersama anggota keluarga terdekatnya.

Lantas apa yang dapat dilakukan orang tua?

Berdasarkan sudut pandang social learning theory dari Bandura dapat menggambarkan cara anak-anak belajar terkait uang dengan mengamati sekaligus meniru model yang mereka lihat, dan orang tua adalah model yang paling relevan dalam hal ini. Baik sadar maupun tidak orang tua telah mengajari anak mereka tentang sikap dan perilaku terkait nilai uang, norma, dan perilaku yang di kemudian hari berdampak terhadap kesejahteraan ekonomi anak. Penelitian Cock juga menitikberatkan pentingnya rumah untuk mengatasi fenomena judi online ini.

Penelitian-penelitian terdahulu sebetulnya dapat membuktikan bahwa dengan mengajak anak mengobrol perihal keuangan dapat membantu mereka untuk menghindari perilaku berjudi di kemudian hari. Namun, penelitian yang dilakukan Floros dalam Adolescent Online Gambling – The Impact of Parental Practices and Correlates With Online Activities membuktikan bahwa edukasi sederhana seperti bahaya internet tidak cukup untuk mencegah fenomena judi online ini.

Sejauh ini sebetulnya belum terdapat satu metode ampuh untuk mengantisipasi perilaku judi online ini. Namun, terdapat satu temuan yang cukup menjanjikan, yaitu dengan cara mengajari anak menabung sejak dini. Otto dan koleganya dalam Economic Socialization: Childhood, Adolescence, and Early Adulthood tahun 2018 menunjukkan bahwa dengan menabung dapat menumbuhkan kemampuan anak dalam mengenali angka, mengenali perbedaan waktu, berbahasa, dan delay gratification.

Selaras dengan berkembangnya kemampuan anak berhitung (5 tahun) dapat membantu mereka dalam mengenali angka melalui menghitung jumlah tabungan mereka agar mencapai jumlah tertentu yang diinginkan, sehingga juga berdampak pada pertumbuhan kemampuan problem solving dan matematika.

Kemudian, dengan mengenali perbedaan waktu yang mulai berkembang di umur 8-9 tahun membuat anak dapat mengantisipasi peristiwa di masa depan. Lalu, dengan bertumbuhnya kemampuan berbahasa anak dan diksi yang erat dengan menabung adalah masa depan, maka secara gramatika dapat membantu anak untuk lebih mudah memahami arti masa depan.

Satu kemampuan yang tak kalah penting adalah delay gratification. Sederhananya delay gratification merupakan kemampuan untuk menahan diri saat ini demi keuntungan yang lebih besar di kemudian hari. Marshmallow tests merupakan eksperimen populer terkait delay gratification. Kemampuan ini penting bagi anak, karena berkaitan dengan pengendalian diri yang berorientasi pada masa depan (future oriented self control).

Egan dan koleganya dalam Childhood Psychological Predictors of Lifelong Economic Outcomes tahun 2018 menunjukkan bahwa pengendalian diri berdampak pada keberhasilan anak di masa depan. Seperti nilai Scholastic Aptitude Test (ujian masuk PT) yang lebih tinggi, memiliki pendapatan yang lebih tinggi, dan tingkat menganggur yang lebih rendah.

Sebagai kesimpulan, mengingat kutipan di awal tulisan ini menjadikan orang tua sebaiknya memberikan model yang baik pada anak, khususnya terkait keuangan. Setidaknya untuk tidak boros, konsumsi berlebihan, terlilit utang, atau bahkan bermain judi, karena semua itu tentu akan diturunkan ke anak, baik sadar maupun tidak.

Budaya kita memang harus diakui juga sedikit banyak memengaruhi obrolan seperti itu. Jadi, dengan ini penulis mengajak untuk melibatkan anak dalam obrolan soal uang dan mulai mengajarkan mereka menabung sedini mungkin agar terhindar dari fenomena yang meresahkan ini.