Uang: Akar Kejahatan?

Alumni Psikologi UNM - Peminatan Psikologi Ekonomi
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Muhammad Anshary Arma Arsyad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Uang sering kali disebut sebagai akar segala kejahatan.
Uang kerap menjadi motif dari banyak kasus yang cukup serius. Mulai dari skala umum hingga personal seperti urusan internal domestik.
Korupsi. Fenomena ini cukup sering kita jumpai. Walaupun motif dibaliknya lebih sering tidak mendapatkan panggung, namun seolah semua orang bertanya-tanya mengapa seorang pejabat tetap melakukannya padahal jika dipikir-pikir hidup mereka sudah lebih daripada kebanyakan orang. Kasus yang paling menarik dari fenomena ini terjadi sewaktu pandemi. Mantan Menteri Sosial Juliari Batubara yang menyalahgunakan dana bansos Covid-19 untuk keuntungan pribadi, mencerminkan bagaimana uang bisa mengalahkan empati di masa krisis.
Selanjutnya, penipuan, yang satu ini juga sudah menjadi fenomena umum yang tidak hanya terjadi di negeri ini. Kasus yang paling menggemparkan sejauh ini adalah Doni Salmanan dan Indra Kenz. Mereka menggunakan investasi bodong demi gaya hidup mewah, lalu menipu ribuan orang yang tergiur narasi cepat kaya.
Terakhir, konflik internal keluarga. Warisan menjadi ilustrasi yang sering ditemui jika dikaitkan dengan uang. Menariknya, fenomena ini melahap tiap lapisan kelas sosial. Bahkan tak jarang kasus harus diselesaikan di meja hijau. Contoh lain, cukup sering kita jumpai bagaimana orang tua memaksakan anaknya untuk memilih jurusan tertentu yang dianggap ‘aman secara finansial’ seperti kedokteran yang tidak sejalan dengan keinginan sang anak. Kedua contoh di atas tentunya berdampak buruk bagi hubungan dalam keluarga itu sendiri.
Dari berbagai kasus di atas menunjukkan bagaimana seringnya uang memainkan peran penting dalam setiap fenomena yang terjadi secara tak kasatmata.
Tulisan ini akan berfokus pada bagaimana uang itu sendiri berdampak pada kondisi psikologis seseorang dan benarkah bahwa uang menjadikan seseorang ‘jahat’ serta mengapa lingkungan (masyarakat) menganggap uang adalah sesuatu yang negatif, sehingga persepsi tentang uang adalah akar dari kejahatan terbentuk.
Sebelum itu, agar dapat melihat dampak psikologis yang ditimbulkan oleh uang, maka diperlukan metode pengukuran yang kemudian dikenal dengan istilah money priming, yang merupakan kondisi dimana seseorang akan seolah-olah berada dalam kondisi mental mengingat sesuatu yang berhubungan dengan uang, kemudian para peneliti akan melihat respon perilaku setelahnya.
Dampak negatif
Penelitian berjudul ‘The Psychological Meaning of Money’ dari Tomasz Zaleskiewics dan rekan-rekannya tahun 2018 menunjukkan bahwa money priming mengaktif sisi kemandirian seseorang yang berfokus pada diri dan tujuan pribadi serta merusak hubungan interpersonal yang mengarah pada perilaku yang lebih enggan untuk berbagi, kurang berempati dan bersosialisasi bahkan menurunkan keinginan untuk menolong. Lebih lanjut, uang juga berdampak pada munculnya perilaku curang seperti menipu dan perilaku tidak etis yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan besar belaka yang membuat nilai sosial dan moral tergeser oleh dorongan materialistik.
Artinya, seseorang akan terlalu fokus dan mencurahkan energinya untuk mengejar tujuan pribadi yang membuat intensitas bersosialisasinya menjadi sangat minim. Akibat kurangnya interaksi tersebut merusak rasa saling percaya yang juga menyebabkan konflik dan kecemburuan sosial. Hal inilah yang seringkali dianggap egois oleh masyarakat yang kemudian disederhanakan dengan kata ‘jahat’ utamanya pada masyarakat yang kental akan sifat kolektivisme seperti Indonesia.
Lantas, apakah uang benar-benar hanya berdampak negatif?
Dampak positif
Penelitian yang dilakukan oleh Kathleen D. Vohs dari University of Minnesota tahun 2015 berjudul ‘Money Priming Can Change People’s Thoughts, Feelings, Motivations, and Behaviors: An Update on 10 Years of Experiments’ menunjukkan bahwa seseorang yang teringat akan uang cenderung untuk bersikap profesional yang berorientasi pada produktivitas kerja yang tinggi.
Selain itu, penelitian yang mengambil data dari 18 negara dengan total 165 eksperimen berbeda juga menggambarkan bahwa mereka juga cenderung untuk berusaha keras menyelesaikan tugas yang sulit, berkinerja lebih baik dan bahkan merasa percaya diri. Artinya, uang dapat menjadi salah satu sumber motivasi yang efektif bagi seseorang untuk mengejar tujuannya.
Penutup
Mari kita menutup tulisan ini dengan sebuah kisah legendaris. Perkenalkan Midas, the Golden Touch diangkat dari kisah mitologi Yunani-Romawi karya Ovidius dalam ‘Metamorphoses’.
Diceritakan, Midas merupakan seorang raja yang kaya, namun masih selalu merasa kurang. Ia kemudian diberikan kesempatan meminta satu hal oleh dewa, agar memuaskan nafsunya ia memohon agar semua yang disentuhnya berubah menjadi emas. Permohonan itu dikabulkan. Tak lama kemudian semua yang ia sentuh benar berubah menjadi emas: dinding, meja, bunga bahkan tanah berubah menjadi logam mulia.
Namun, kesenangannya itu tidak berlangsung lama. Semua makanan dan minuman yang hendak ia nikmati juga berubah menjadi emas bahkan sebelum menyentuh lidahnya. Dalam kesengsaraan itu ia kemudian bersedih dalam kesendirian. Namun, kemalangannya tidak berhenti disitu saja, lebih tragisnya lagi, ketika ia memeluk putri tercintanya, tubuh sang anak berubah seketika menjadi patung emas yang dingin tak bernyawa. Dalam kehancurannya, Midas sadar bahwa ia telah kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari emas.
Sebagai kesimpulan, pada dasarnya uang itu selalu netral. Semenjak uang masih berupa komoditas hingga tidak berbentuk seperti kripto saat ini menjadikannya sebatas sebagai alat tukar. Namun, Tad Crawford dalam bukunya yang berjudul ‘The Secret Life of Money’ tahun 2022 melakukan elaborasi yang lebih menarik. Sang penulis menjelaskan bahwa uang sejatinya adalah alat untuk mengenal diri lebih dalam lagi melalui simbol-simbolnya. Melalui kisah Midas kita dapat melihat bagaimana kehidupan, cinta dan hubungan manusia merupakan sesuatu yang tak ternilai.
Jadi, apakah uang layak dikatakan sebagai akar kejahatan?
