Molay Tactical Brand : Bangun Brand Bukan Jual Barang

Anak Kine Club yang baik : film yang baik selalu ngomongin uang dan kematian. Let's Kill Bill !
Tulisan dari ghifari bukanropisbak tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bagi MOLAY, membangun brand berbeda dengan berjualan. Brand fokus pada nilai utama yang berbasis pada harapan konsumen utama yang dituju, jadi bukan hanya sekadar mencari uang. Pekerjaan utama bisnis Brand adalah menumbuhkan brand selayaknya manusia bukan menghisapnya untuk kesenangan pribadi pendirinya; asal untung dan hasilnya buat beli rumah atau mobil. Sebaliknya, bangun brand, keuntungan terbesar harus dikembalikan kepada konsumen dengan produk-produk yang makin hari makin baik.
Bernaung di bawah PT. Molay Satrya Indonesia, sang pendiri dan CEO Arie Setya Yudha benar-benar berusaha memberi yang terbaik untuk pasukan tempur atau agen khusus polisi maupun militer seluruh dunia. Untuk menjalankan operasi di lapangan yang melelahkan dan bertaruh nyawa, Arie berusaha memberi yang terbaik dengan mengutamakan kualitas bahan sesuai daerah dan musim saat penugasan, jahitan, design, warna, dan kekuatan.
“Untuk penugasan kemarau di Jawa berbeda dengan militer di Jepang atau di negeri 4 musim lainnya. Bahan beda, design beda, detilnya berbeda,” kata Arie di outlet Molay di Ring Road Utara Jogja, awal April 2018.
Brimob, pasukan khusus militer Indonesia, banyak memakai produk Molay, biasanya untuk penugasan-penugasan seperti di Poso, Papua, maupun operasi lain di berbagai wilayah di Indonesia. Molay sudah beredar di pasaran luar negeri, dari London, Amerika, Australia, Jepang, dan banyak negara lagi, namun belum dalam kapasitas besar, baru retail yang didapatkannya dari internet.
“Untuk kapasitas ekspor besar kita saat ini sedang penjajagan serius dengan Malaysia, Inggris, dan Jepang,” jelasnya.
Kunci keberhasilan Molay menurut Arie, karena sedari awal ia membuat produk, selalu mengutamakan kualitas dan design yang mengerti benar kebutuhan militer dan polisi di lapangan. Bahan ia cari dari seluruh dunia dan selalu meminta diuji oleh vendor lain yang memang fokus pada uji bahan. Untuk selembar kain, Arie perlu melakukan berbagai penelitian dan memesan ke vendor pembuatan kain terbaik. Ia juga mendaftarkan HAKI untuk jenis kain dan design buatannya.
“Utuk seseorang yang mempertaruhkan nyawa demi bangsa dan negara kita harus beri yang terbaik, protect the one who serves. Dan kita sendiri yang bikin, jangan sampai impor. Selama ini kita banyak impor, dan itu harus dihentikan karena anak-anak muda kita bisa bikin yang lebih baik dari siapapun pesaing di luar negeri,” katanya.
Di Indonesia menurut Arie berbeda dengan negara-negara lain seperti Amerika dimana seragam harian militer pun dilelang secara terbuka kepada brand tactical. Indonesia, seragam resmi dan harian militer dan polisi, menjadi hak tunggal negara sehingga inovasinya tergantung negara. Karenanya Molay tidak bisa terlibat dalam pembuatan seragam resmi militer dan polisi di Indonesia. Molay hanya merancang spesial untuk tugas lapangan, terutama pasukan-pasukan khusus atau direktorat kriminal, baik polisi seperti Brimob maupun militer seperti Kopasus.
Arie Setya Yudha mendirikan brand MOLAY, yang fokus pada produk taktikal saat masih kuliah semester 3 di Jurusan Komunikasi UGM pada tahun 2009. Kini Molay tumbuh dengan omset milyaran dan segera akan mendirikan pabrik pertamanya di Gunung Kidul DIY. Berbarengan dengan pertumbuhan bisnisnya, Arie juga terus belajar, kini ia kuliah dia S2 MM UGM double degree University of London.
Saat ini usianya baru 28 tahun, bisnisnya menuju revenew Rp. 121 milyar, dan mulai Agustus nanti ia akan menyelesaikan studinya di London selama setahun sambil mengembangkan bisnisnya di pasar Eropa.
"Selepas London saya masih ingin lanjut studi ke Harvard Business School. Bisnis harus ditopang oleh pengetahuan bukan hanya asal berdagang seperti para motivator bilang," pungkasnya.
@Produksi Ghifari April 2018 (bahan video brimob diambil dari shoot video profil company Molay dan digunakan atas seizin Molay)
