Website Modern Makin Berat: Mengapa Internet Terasa Sesak?

Mahasiswa Prodi Sistem Informasi, Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ghifari Ibnu Shibghotullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Website modern sering kali terasa lambat dan sesak. Bayangkan Anda sedang mencari informasi pendaftaran dan daftar harga di sebuah perusahaan kursus bahasa. Anda mengeklik tautan, namun alih-alih langsung mendapatkan tabel biaya, Anda justru disambut oleh layar pemuatan (loading screen) yang panjang, animasi transisi yang berat, dan pop-up otomatis. Skenario menjengkelkan seperti ini semakin sering kita temui. Mengapa mencari informasi sederhana di internet saat ini harus mengorbankan begitu banyak waktu tunggu?
Sebagai pengembang lepas yang kerap merancang antarmuka digital, saya menyadari ada tren pergeseran paradigma yang mengkhawatirkan. Dulu, internet adalah ruang penyampaian informasi yang efisien. Kini, banyak halaman digital lebih mirip panggung pameran teknologi ketimbang ruang baca fungsional.
Penyakit "Over-Engineering" pada Website
Godaan untuk menciptakan tampilan visual yang memukau memang besar. Saat merancang tata letak portofolio atau halaman profil klien di kanvas desain seperti Figma, mudah sekali untuk terbuai menambahkan elemen interaktif yang kompleks. Kita memasukkan kerangka kerja (framework) yang berat, animasi skrol tiga dimensi, hingga sistem otomasi formulir yang rumit di belakang layar.
Secara teknis, hal itu mungkin memuaskan ego sang pengembang. Namun, bagi pengguna akhir (end-user)—terutama mereka yang mengakses internet melalui jaringan seluler standar—semua elemen estetika itu diterjemahkan menjadi satu hal: waktu tunggu yang menyiksa. Ini adalah bentuk over-engineering, di mana solusi sistem yang diberikan jauh melebihi kompleksitas masalah yang sebenarnya.
Estetika yang Membunuh Aksesibilitas
Sebuah situs profil perusahaan pada dasarnya hanya butuh struktur teks yang rapi, gambar yang terkompresi dengan baik, dan tombol navigasi yang jelas. Ketika pengguna harus menunggu berdetik-detik hanya agar sebuah tombol muncul dari efek fade-in, kita sebenarnya sedang merampas waktu mereka.
Kita sering lupa bahwa tidak semua orang mengakses internet menggunakan perangkat unggulan (flagship) dengan cip pemrosesan terbaru. Aksesibilitas seharusnya menjadi nyawa dari teknologi. Estetika yang berlebihan justru membangun tembok eksklusivitas, menghalangi pengguna dengan perangkat berspesifikasi menengah ke bawah untuk mendapatkan informasi dasar.
Kembali pada Fungsi Utama
Sudah saatnya kita melakukan diet digital dalam perancangan antarmuka. Keindahan visual tidak boleh mengorbankan kecepatan dan kemudahan akses. Membuat halaman yang responsif, cepat, dan ringan sejatinya adalah bentuk empati tertinggi seorang arsitek sistem kepada penggunanya.
Sebab pada akhirnya, sekeren apa pun animasi yang meluncur di layar, pengguna akan langsung menekan tombol kembali (back) jika informasi yang mereka cari tak kunjung muncul dalam tiga detik pertama. Mari kembalikan fungsi internet menjadi ruang yang ringan, cepat, dan ramah untuk semua.
