80 Tahun Merdeka, Hendak Pergi Ke Mana?

Mahasiswa Ilmu Sejarah - FISIP UNNES
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Ghilman Rusyda Makin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perjuangan untuk meraih kemerdekaan telah lama usai. Bertahun-tahun kita merayakannya, tetapi sebelum melangkah lebih lanjut sebaiknya kita bertanya: hendak kemana bangsa ini pergi? Setelah hampir mencapai satu abad, Indonesia tidak akan melupakan perjuangan panjangnya untuk menjadi bangsa yang berdaulat dan bebas dari segala penindasan fisik maupun pikiran, dan 17 Agustus sebagai hari peringatan besar kita menjadi pengingat itu. Momen yang spesial ini selayaknya kita rayakan sebagai sebuah momentum titik balik dari nasib Indonesia menuju masyarakat berdaulat yang bebas seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa. Sayangnya setelah bertahun-tahun melewati lintasan sejarah, peringatan tersebut seakan-akan kehilangan jatidirinya. Kegiatan Agustusan sekarang terasa seperti sebuah formalitas saja atau bahkan hal-hal yang “aneh”-pun turut hadir di dalamnya dan dinormalisasi semata untuk tujuan hiburan. Bersenang-senang itu boleh, tetapi kalau sampai menggeser makna dari momentum titik balik bangsa Indonesia, maka semuanya akan menjadi kenangan belaka. 80 tahun telah berlalu, kita semakin jauh mengapa dari awal kita berdiri sebagai bangsa yang berdaulat dan bebas. Jangan biarkan Indonesia terlena oleh kesenangan yang tidak bermutu. Sebelum melangkah kembali dan mengulangi 17 Agustus pada tahun depan, sebaiknya kita melihat ke belakang lagi. Apakah ini jalan yang akan kita tempuh? Kalau memang begitu, hendak ke mana bangsa Indonesia akan pergi?
Perjalanan kita menuju bangsa yang berdaulat dan bebas tidak sepenuhnya melewati jalanan yang mulus dan indah. Berbagai cobaan telah dialami oleh mereka yang berjuang atas nama Indonesia, dari diawasi secara ketat hingga pengasingan. Tentu hati dan pikirannya terbesit ketidakpastian, kekhawatiran, dan ketakutan akan nasib yang menimpa mereka. Akan tetapi, satu hal yang pasti adalah mereka tidak gentar untuk terus bersuara memperjuangkan bangsa Indonesia menuju kedaulatan dan kebebasan. Banyak para tokoh atau yang sering kita panggil sebagai para “pahlawan” nasional sebagaimana kita mengenalinya dalam kurikulum sekolah, cerita nasionalisme, maupun foto mereka yang dipajang di ruang kelas, memiliki suatu kontribusi nyata terhadap upaya pembebasan bangsa Indonesia. Meskipun diseragamkan dalam gelar, menariknya adalah mereka mempunyai latar dan pemikiran yang berbeda satu sama lain, meskipun begitu tujuan masing-masing tetap sama. Saya tidak bisa menyebut semuanya satu persatu, mungkin sedikit saja kita menyinggung nama Soekarno, Hatta, Tan Malaka, dan Soetan Sjahrir. Terasa spesifik sekali untuk menyebut tokoh-tokoh tersebut, karena sebenarnya saya terinspirasi untuk memikirkan 80 Tahun Indonesia Merdeka setelah sedikit demi sedikit menamatkan karya milik Ignas Kleden berjudul Fragmen Sejarah Intelektual: Beberapa Profil Indonesia Merdeka, sehingga saya memutuskan untuk menuliskan, memikirkan, dan membagikannya bersama Anda sekalian.
Setelah menyingkap beberapa bab di dalamnya, saya menemukan hal yang menarik untuk dikupas dan menjadi cara bagi kita sebagai generasi penerusnya dalam meneladani perjuangan mereka, yakni pemikirannya. Seringkali momen di bulan Agustus adalah kita merayakan kemerdekaan dari belenggu kolonialisme dan menghormati jasa para pahlawan yang berjuang dengan jalan masing-masing. Meskipun itu merupakan sebuah inisiatif baik, tetapi dalam prosesnya kita justru kehilangan makna para pahlawan sebagai seorang manusia atau orang-orang yang berjuang atas nama Indonesia. Sehingga, momen yang seharusnya bisa menjadi pemahaman antara generasi terdahulu dengan yang sekarang mengapa mereka hadir sebagai bangsa Indonesia tidak dapat terpenuhi dan menjadi sebuah formalitas kaku yang membosankan. Kita hanya memahami mereka hanya sekedar sebagai gelar pahlawan dan bukan proses mereka mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang ideal akan kedaulatan dan kebebasan.
Mengangkat keempat tokoh tersebut tidak bermaksud menggeser yang lainnya ke posisi yang dianggap negatif dalam artian minim kontribusi. Tidak sempat bagi kita untuk membahas semuanya, tetapi perlu diingat setiap kontribusi terhadap kedaulatan bangsa Indonesia yang bebas adalah nyata dan tetap menjadi teladan bagi kita. Namun, fokus kita sekarang adalah ke mereka: Soekarno, Hatta, Tan Malaka, dan Sjahrir.
Seperti yang telah kita bincangkan pada awal tulisan, perjuangan para pahlawan juga memiliki resiko masing-masing dan hampir keempat tokoh tersebut mengalami ujian yang sama, dari diawasi, ditangkap, dan diasingkan. Namun, hal tersebut tidak memadamkan jiwa keempatnya untuk terus maju. Dalam setiap kesempatan, para tokoh tersebut terus mengasah pemikirannya dan menyuarakan cita-cita bangsa Indonesia yang secara ideal untuk kesejahteraannya, meskipun di dalam kondisi yang bisa dibilang cukup menyiksa. Soekarno pernah dipenjara, Hatta dan Sjahrir diasingkan, kemudian Tan Malaka harus terus menyamar karena menjadi buronan. Ketika kita mencoba memahami perjalanan para tokoh tersebut, akan sangat melelahkan untuk melakukan hal lain selain mempertahankan diri. Akan tetapi, pahlawan-pahlawan tersebut tidak tinggal diam, mereka masih terus berpikir akan nasib bangsanya dan bukti dari proses tersebut hingga kini masih bisa kita baca dengan leluasa seperti Madilog dan Indonesia Menggugat.
Setelah kita mengetahui proses panjang dari perjalanan Indonesia menuju kemerdekaan dan upayanya untuk mewujudkan cita-cita bangsa yang ideal, apa yang dimaksudnya sebagai sebuah idealisme yang perlu dimiliki oleh kita melihat dari pemikiran keempat tokoh tersebut? Soekarno menginginkan kobaran api revolusi untuk terus hidup di dalam jiwa-jiwa kita dan selalu memihak kaum marhaen sebagai diri kita untuk berdikari dan dapat melawan penindasan. Hatta dalam alam pikirannya, mengajak kita untuk selalu tenang dalam menghadapi masalah dan kritis terhadap berbagai problematika yang terjadi di sekitar hidup kita. Tan Malaka, melalui materialisme, dialektika, dan logika, memberikan gebrakan baru untuk menjadi manusia yang tidak menerima nasib apa adanya atau nrimo ing pandum, dan dapat menentukan nasib sendiri menuju kehidupan yang lebih baik di tangan masing-masing. Sjahrir bersama dengan revolusi sosialnya mengajak kita untuk melakukan perubahan besar dalam kultur kehidupan sehari-hari sekaligus memperingatkan mengenai bahaya feudalisme dan over-nasionalisme yang dapat menghantui kehidupan bangsa Indonesia apabila tidak dientaskan dan justru membuat cita-cita kedaulatan dan kebebasan kita menjadi sirna karenanya.
Soekarno, Hatta, Tan Malaka, dan Sjahrir memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui masing-masing caranya dan ketika itu berhasil digapai, perjalanan mereka belum usai karena proses pemahaman atau dialektika akan bangsa Indonesia yang ideal harus terus disuarakan secara pemikiran yang kemudian dituangkan ke dalam berbagai media seperti orasi, tulisan, atau bentuk yang lainnya. Proklamasi bukanlah penutup cerita, melainkan ia adalah pemberhentian sebelum kita melanjutkan ke kisah berikutnya yang terus berlanjut hingga kini. Dengan seperti itu, perpaduan dialog pemikiran atau dialektika dapat menjadi sebuah bahan refleksi dari para pendahulu kita yang bercita-cita mengenai idealisme bangsa untuk generasi berikutnya meneruskan. Tidak hanya keempat tokoh itu saja kita dapat menjumpai cita-cita bangsa Indonesia, keinginan ini juga tertuang dan terefleksi di dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.
Keberadaan pemikiran dari para pendahulu bangsa terus disadari di sekitar kehidupan kita dan dapat dijumpai di mana-mana. Namun, kita hanya mengetahui saja tanpa memahami sebuah makna dan proses di balik itu semua. Melihat kembali perjalanan panjang mereka dalam mencapai bangsa Indonesia menuju kedaulatan dan kebebasan; proses dialektika, perjuangan, dan pemikiran mereka – yang tidak terbatas hanya pada keempat tokoh tersebut – dapat dijadikan inspirasi atau teladan bagi kita untuk memaknai momen spesial di bulan Agustus ini. Sekaligus untuk menjadi sebuah pendorong atau awal dari sebuah kesadaran kita untuk berpikir apakah kita sebagai generasi penerusnya melanjutkan apa yang dicita-citakan oleh para pahlawan kita atau justru melenceng jauh dari ideal bangsa yang diinginkan mereka. Sehingga kita perlu berdialog alias berdialektika dengan pemikiran para tokoh pendiri bangsa untuk memaknai idealismenya sebagai sebuah salah satu opsi bermanfaat dalam rangka memperingati 17 Agustus. Barulah, setelah proses pemahaman membaca kembali pemikiran generasi terdahulu bangsa Indonesia, maka kita jadi sadar dan tahu hendak kemana akan pergi. Kita akan tahu untuk menghindari sebuah lubang, tidak terjatuh terjebak di dalamnya sehingga cita-cita kedaulatan dan kebebasan sirna karena diselimuti kegelapan. Mau tidak mau, kita akan terus melangkah maju dan suatu saat generasi kitalah yang diharapkan untuk melanjutkan menjadi pembawa obor bangsa Indonesia.
Perjalanan bangsa Indonesia yang penuh dengan lika-liku memang beberapa kali membuat kita menjadi bingung siapa diri di dalam kita. Seakan tidak mengenali raga sendiri padahal babak baru untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat dan bebas sudah berlalu 80 tahun, tetapi justru pribadi kita semakin lama terasa jauh dari mengapa bangsa ini berdiri. Melihat dan mendatangi kembali pemikiran terdahulu para pendiri terdahulu, kita akan menemukan jatidiri yang dapat terhubung kembali. Supaya sadar akan identitas kita dari awal berdiri hingga masa kini dan terus menyuarakan idealismenya sebagai bentuk rasa cinta terhadap bangsa Indonesia yang terus melangkah maju. Setelah melalui proses dialektika yang terus berputar dan dengan terjalinnya kesadaran kita untuk memaknai kembali pemikiran mereka dalam momentum 80 Tahun Indonesia Merdeka, maka manfaat serta kemajuan pikiran akan kita tunai dan dapat diimplementasikan secara praktis untuk kebaikan bersama oleh masing-masing diri, orang terdekat, dan bangsa Indonesia itu sendiri.
Majulah Bangsanya, Cerdaslah Pikirannya!
Referensi:
Kleden, I. (2024). Fragmen Sejarah Intelektual: Beberapa Profil Indonesia Merdeka. Jakarta: Buku Obor.
