Konten dari Pengguna

Diskriminasi Wanita dan Relevansinya dengan Zaman Sekarang

Ghina Aufa Maulida

Ghina Aufa Maulida

Saya mahasiswa aktif UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Hobi Saya menulis dan membaca

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ghina Aufa Maulida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

gambaran betapa luka kedua wanita yang terdiskriminasi. dokumen: pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
gambaran betapa luka kedua wanita yang terdiskriminasi. dokumen: pribadi.

Di balik kisah cinta dan konflik budaya dalam novel legendaris Salah Asuhan karya Abdul Moeis, terselip potret diskriminasi tentang nasib dua perempuan yang terjepit oleh sistem feminisme dan kolonialisme. Mereka adalah Rapiah dan Corrie dua tokoh perempuan yang berbeda latar, namun bernasib serupa yaitu didiskriminasi karena menjadi perempuan dalam dunia yang tak memberi ruang bagi suara mereka.

"Ayahmu orang beradat, Hanafi. Ibumu orang beradat, sesenang-senang hidupmu jika engkau suka menurut yang sepanjang adat pula" (SA 2009: h. 64).

Dari kutipan di atas, novel yang terbit pada tahun 1928 ini memang dikenal sebagai kritik terhadap kegelisahan kaum pribumi terhadap budaya Barat. Melalui kacamata ini, kita bisa melihat bagaimana perempuan baik yang berasal dari kalangan pribumi seperti Rapiah maupun dari latar campuran seperti Corrie sama-sama menjadi korban struktur kekuasaan ganda: Patriarki dan Kolonialisme.

Rapiah: Perempuan Pribumi yang Terpinggirkan

Rapiah adalah simbol perempuan pribumi yang setia, taat, dan berakar kuat pada budaya lokal. Namun, kesetiaanya justru menjadi luka. Ia dinikahi oleh Hanafi, namun kemudian diceraikan tanpa alasan yang adil, hanya karena Hanafi tergila-gila pada budaya Barat dan memilih Corrie yang berpenampilan lebih "modern"

Rapiah tidak hanya menjadi korban keputusan sepihak seorang suami, tetap juga sistem hukum dan sosial yang tidak berpihak padanya. Ia dipinggarkan, dilemahkan, dan pada akhirnya, ditinggalkan seolah-olah nilai dan cintanya tak lebih berharga dari glamor budaya asing yang membutakan.

Corrie: Perempuan Blasteran dalam Bayang-Bayang Rasisme

Corrie, perempuan berdarah campuran Belanda, awalnya digambarkan sebagai sosok modern dan berpendidikan. Namun meski mewakili kemajuan ala Barat, ia tak luput dari diskriminasi. Ketika tahu bahwa Hanafi adalah pribumi, Corrie tak tahan dengan tekanan sosial dari komunitas kolonialnya. Ia pun memilih mengakhiri hubungan itu, menandakan bahwa identitas dan ras tetap menjadi tembok pemisah di tengah klaim kesetaraan Barat.

Corrie adalah cermin bahwa menjadi perempuan dalam struktur kolonial tetap tak menjamin kebebasan. Ia dikekang oleh standar sosial, ekspektasi rasil, dan stigma terhadap hubungan antar ras. Bahkan ketika ia mencoba memilih cintanya sendiri, ia tetap dibatasi oleh garis warna mencoba memilih cintanya sendiri, ia tetap dibatasi oleh garis warna kulit dan asal-usul.

Dengan memakai teori feminisme postkolonial, kita bisa melihat bahwa diskriminasi terhadap Rapiah dan Corrie tidak hanya soal gender, tapi juga soal relasi kuasa antara Barat dan Timur, kulit putih dan kulit cokelat, penjajah dan terjajah.

Mereka bukan hanya perempuan yang didiskriminasi karena gender, tapi juga karena posisi mereka dalam sistem sosial-politik yang timpang. Rapiah dikalahkan karena terlalu tradisional, Corrie pun dikorbankan karena terlalu modern keduanya tak diberi ruang untuk menentukan hidup mereka sendiri.

Kisah Lama, Isu yang Masih Relevan

Meski ditulis hampir seabad lalu, Salah Asuhan tetap relevan hingga hari ini. Diskriminasi berbasis gender, kelas, dan ras masih jadi persoalan serius, baik dalam hubungan personal maupun dalam skala sosial yang lebih luas.

Melalui kisah Rapiah dan Corrie, kita diajak merenung: sudahkah perempuan benar-benar merdeka dalam memilih? Atau kita masih hidup dalam “salah asuhan” yang sama, hanya dengan wajah yang berbeda?