Kisah Wanita Terbelenggu

Saya mahasiswa aktif UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Hobi Saya menulis dan membaca
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ghina Aufa Maulida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah gempuran kisah cinta drama sinetron yang penuh pelarian dari kenyataan, novel Belenggu karya Armijn Pane justru tampil getir dan jujur. Ditulis pada tahun 1938 dan masih terasa relevan hari ini, Belenggu tidak sekadar menyuguhkan kisah cinta segitiga Sukartono, Sumartini, dan Rohayah. Ia juga sebagai cermin retaknya konflik batin zaman sekarang, antara hasrat pribadi dan tuntutan sosial, cinta dan kewajiban, antara yang diinginkan dan yang seharusnya.
Melalui pendekatan psikologi Sigmun Freud yang membagi kepribadian manusia menjadi id, ego, dan super ego. Konflik dalam novel ini terurai menjadi benang-benang kusut yang begitu manusiawi. Sukartono sang dokter, bukan lelaki curang dan pengecut. Ia hanya manusia biasa yang tak sanggup menentukan pilihan antara cinta sejatinya yaitu Yah, dan istri inteleknya yaitu Tini. Tini, yang semula mewakili perempuan mandiri dan cerdas, perlahan-lahan tersingkir oleh sistem nilai patriarki yang membelenggu ruang batinnya. Sementara Rohayah, perempuan dari masa lalu, hadir sebagai tempat pelarian emosi yang tak tertampung di dalam pernikahan. Tetapi, di sini Tono dan Tini merupakan dua pasangan yang tidak memiliki komunikasi yang baik, sehingga keduanya mengalami pergolakan batin.
“Demikianlah kita semuanya (dia berhenti sejurus, sebagai hendak mengumpulkan napas) semua manusia demikian juga, begitulah kita sebagai dibelenggu oleh angan-angan, masing-masing oleh angan-angannya sendiri-sendiri.” (Belenggu: 117)
Yang menarik, semua tokoh dalam Belenggu ini semuanya mengalami “terbelenggu” oleh angan, ekspektasi, dan luka yang tak terselesaikan. Inilah kekuatan utama novel ini ia membongkar kepura-puraan kita dalam relasi, bahwa pernikahan tak selalu soal cinta, dan cinta tak selalu bisa hidup dalam pernikahan.
Di balik segala keterasingan dan kesunyian batin para tokohnya, Belenggu justru memberikan ruang refleksi bagi kita generasi yang terjebak antara identitas individu dan tekanan sosial. Ketika cinta bertabrakan dengan norma, siapa yang harus dikorbankan? Diri kita sendiri? Novel Belenggu adalah panggilan untuk jujur pada batin kita sendiri meski jawaban yang kita temukan tidak selalu manis.
