Konten dari Pengguna

Metafora Bunga sebagai Simbol Kebebasan dan Individualitas

Ghina Aufa Maulida

Ghina Aufa Maulida

Saya mahasiswa aktif UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Hobi Saya menulis dan membaca

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ghina Aufa Maulida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

setiap aku memandangmu, aku selalu merasakan ketenangan jiwa. sumber foto: dokumentasi pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
setiap aku memandangmu, aku selalu merasakan ketenangan jiwa. sumber foto: dokumentasi pribadi.

Anak-anak ibarat bunga di taman. Masing-masing unik dan memiliki keindahan tersendiri, kebebasan itu seperti sinar matahari dan air yang mereka butuhkan untuk tumbuh. Bimbingan orang dewasa seperti perawatan kebun yang lembut, membantu mereka tumbuh dengan tetap aman. Individualitas mereka menciptakan “taman” yang beragam dan indah dalam masyarakat, dan setiap “bunga” memiliki tempat dan nilai tersendiri.

Kebebasan dan individualitas sangat penting untuk tumbuh kembang anak. Anak harus diberi ruang untuk berekspresi, mengambil keputusan sendiri, dan mengembangkan kepentingannya sendiri. Namun kebebasan ini harus diimbangi dengan pedoman dan batasan yang sesuai dengan usia untuk menjamin keselamatan dan kesejahteraan anak. Orang tua dan pendidik berperan penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung individualitas anak sekaligus menanamkan tanggung jawab dan nilai-nilai penting.

Pendekatan yang seimbang memungkinkan anak tumbuh menjadi individu mandiri yang percaya diri namun sadar sosial.Maka dari itu melalui pendekatan metafora bunga dalam novel 'Dilarang Mencintai Bunga-Bunga' karya Kuntowijoyo akan memberikan pengarahan untuk membuka wawasan dengan konsep individualitas dan keterkaitannya dengan kebebasan.

  • Simbol bunga dalam novel dilarang mencintai bunga-bunga diibaratkan seperti warna dalam kehidupan. Ia lahir dengan kesetiaan yang memberikan ketenangan jiwa dan kebahagiaan di saat kita memandang dan didekatnya. Jika tidak dengan bunga, maka dunia akan selalu dipenuhi dengan emosional dan kekasaran karena tidak ada warna dalam kehidupan.

  • Reaksi tokoh aku terhadap bunga segala bentuk bunga sekali pun tidak lagi indah ia tetap menyukainya, seperti ada kehidupan baru dan makna tertentu yang dihadirkan bunga kepadanya. Ia selalu merasakan ketenangan jiwa dan tidak pernah menentang kedua orang tuanya ketika dekat dengan bunga. Ia menyukai berbagai macam bentuk bunga.

  • Kotras antara dunia bunga dengan ekspetasi ayah, seperti air dan minyak yag tidak akan pernah menyatu. Begitu pun dengan ayah dan dunia bunga.Tokoh 'Aku' sebagai anak laki-laki yang sangat menyukai bunga-bunga di taman tidak memberikan harapan bagi sosok Ayah yang menginginkan anak laki-lakinya untuk menjadi seseorang yang pekerja keras dan mengikuti keinginan Ayahnya untuk selalu bekerja. Tetapi, berbeda dengan Ibunya yang hanya memerintahkan untuk sekolah dan belajar saja sudah cukup.

  • Ketika tokoh Aku merasakan kebebasan saat berurusan dengan bunga, "Aku mulai tentram duduk di sampingnya. Tidak ada lagi yang dikhawatirkan. Kami bersahabat baik, entahlah, rasanya sangat menyenangkan duduk bersamanya di sini." tokoh 'Aku' merasakan kebebasan saat dekat bersama bunga-bunga di taman milik sang Kakek itu. Ketika bertemu dengan kakek dan berhadapan dengan bunga-bunga itu ia bebas dalam berekspresi, mengungkapkan segala keluh kesahnya, dan memberikan ruang untuk ia berkembang sebagai individu yang tidak lagi emosian.

  • Perubahan tokoh Aku terkait dengan kecintaan pada bunga, ia lebih menyukai kehidupan dengan bunga-bunga dan tidak lagi memperdulikan kehidupan dengan teman sebaya maupun lingkungan sekitarnya, yang ia pikirkan hanya satu bagaimana caranya agar ia bisa bertemu kakek itu dan bertemu dengan bunga-bunga di tamannya. Sesekali ia pernah lupa mengaji dan terkena marah sang Ayah "Engkau harus mengaji, tahu. Dari mana!" ucap sang Ayah. Satu yang diinginkan Ayahnya yaitu seorang laki-laki anaknya harus mau bekerja dan menjadi seseorang pekerja keras. Sang Anak menyimpulkan bahwa bukan tentang bunga saja, tapi tentang ketentraman dan ketenangan jiwa yang didapatkannya. Tetapi, ia menyadari sebesar apapun ia menyukai bunga-bunga itu, "aku adalah anak ayah dan ibu."