Psikologi, Trauma, Guilt Tripping, dan Sulitnya Bicara dengan Ibu

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasakti Tegal
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari GHINA RAMANDHANI MAFATIHUL ZAIN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Krisis cara komunikasi dalam keluarga fenomena keretakan antara ibu dan anak. Banyak kasus yang memperlihatkan komunikasi tidak sehat (toksik) seperti tuntutan otoriter kepada anak, komunikasi manipulatif yang memicu rasa bersalah (guilt-tripping), hingga minimnya validasi terhadap perasaan anak berdampak psikologis jangka panjang.
Pola komunikasi yang cenderung satu arah ini menunjukkan kurangnya ruang mendengarkan secara aktif, serta tidak adanya ruang bebas bagi anak untuk berpendapat atau bersuara. Masa kanak-kanak dan remaja adalah masa transisi bagi anak-anak. Pada masa ini, anak sedang menemukan jati diri dan sosok seperti apa yang inginkan. Hubungan yang erat dengan orang tua sangat penting dapat menjadi sumber dukungan dalam menghadapi berbagai tantangan di fase kehidupan ini.
Trauma dan Kesulitan Memulai Percakapan
Beban rasa yang dimanipulasi (guilt-tripping) merupakan taktik manipulasi emosional yang dilakukan orang tua untuk membuat anak merasa bersalah atau menyalahkan diri sendiri demi menuruti keinginan mereka. Pengalaman masa lalu ketika perasaan atau pendapat anak ditolak-atau bahkan dianggap sebagai bentuk pembangkangan-menciptakan ketakutan bawah sadar bahwa suara mereka tidak akan pernah didengar. Kecemasan yang mendalam muncul karena ketika percakapan dimulai, situasi justru dikhawatirkan meledak kembali menjadi pertengkaran lama atau pemutaran balik fakta.
Komunikasi dan Pentingnya Percakapan Bergilir (Turn-Taking Conversation) dalam Psychological Science
Interaksi dua arah antara ibu dan anak menyerupai percakapan, di mana keduanya saling merespons secara bergantian. Berdasarkan teori interpersonal Joseph DeVito, pendekatan keterbukaan (Self-Disclosure) menyatakan bahwa ikatan yang kuat terbentuk melalui keterbukaan, empati, dan sikap mendukung.
Selain itu, Keamanan Psikologis (Psychological Safety) adalah kondisi ketika ibu dan anak merasa aman secara emosional untuk mengekspresikan diri, berbicara jujur, atau melakukan kesalahan tanpa takut dihakimi.
Meningkatkan Kualitas Percakapan dengan anak
Psikologi selalu menyarankan atau memperhatikan kesukaan dan ketidaksukaan anak. Biarkan anak berbicara untuk mengungkapkan semua pikirannya; jangan malah langsung melontarkan pertanyaan atau memotong pembicaraan, karena hal tersebut sangat penting untuk mengembangkan pemikiran yang utuh.
Ajukan pertanyaan spesifik untuk menunjukkan bahwa pendapatnya didengar. Beri kesempatan untuk mengakui perasaan anak dan mengatasinya bersama. Jika mereka sedang merasa kesal kepada orang tua karena sesuatu hal, diskusikan perasaan tersebut dan tegaskan bahwa emosi mereka valid.
Luangkan waktu untuk membiarkan anak mengendalikan percakapan dan lihat ke mana arahnya. Beri ruang secara fisik dan mental bagi anak untuk menyelesaikan masalah sendiri serta membahas topik yang sulit nanti demi menciptakan hubungan orang tua dan anak penuh kasih sayang.
