Nugas Bareng Temen: Benarkah Lebih Produktif atau Malah Banyak Ngobrol?

Mahasiswa Universitas Pamulang, Fakultas Ilmu Komputer, Prodi Sistem Informasi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ghiyast Ahmad Firdaus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kalau ada tugas kuliah yang cukup sulit, biasanya ada satu hal yang terpikirkan oleh mahasiswa: "Kerjain bareng aja".
Kalimat sederhana tersebut cukup sering muncul dalam kehidupan mahasiswa. Entah tugasnya dikerjakan di kampus, rumah teman, perpustakaan, atau tempat nongkrong, mengerjakan tugas bersama seolah menjadi pilihan yang lebih menyenangkan dibanding harus menghadap laptop sendirian.
Buat mahasiswa, nugas bareng bukan cuma soal menyelesaikan tugas. Ada diskusi, tukar pendapat, saling bantu, dan tentu saja obrolan yang kadang nyasar jauh dari urusan kuliah.
Kenapa Nugas Bareng Terasa Lebih Menyenangkan?
Salah satu alasan mahasiswa memilih mengerjakan tugas bersama adalah karena mereka bisa saling membantu.
Ketika ada materi yang belum dipahami, kita bisa langsung bertanya kepada teman. Begitu juga ketika ada bagian tugas yang sulit dikerjakan. Kadang penjelasan dari teman justru lebih mudah dipahami karena menggunakan bahasa yang lebih sederhana.
Selain itu, mengerjakan tugas bersama juga bisa membuat suasana menjadi tidak terlalu membosankan. Dibandingkan duduk sendirian selama berjam - jam, keberadaan teman bisa membuat proses mengerjakan tugas terasa lebih ringan.
Bahkan terkadang, ada satu efek kecil yang menurut saya sering terjadi: melihat teman yang serius mengetik di sebelah kita bikin ikut terdorong buat kerja. Rasanya agak malu kalau cuma kita yang sibuk melamun.
Tapi Ada Satu Masalah: Terlalu Banyak Ngobrol
Namun, nugas bareng tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Awalnya mungkin hanya ingin berdiskusi mengenai tugas. Setelah itu mulai membahas hal lain. Dari membicarakan tugas, pindah ke cerita tentang kelas, organisasi, teman, media sosial, sampai hal - hal yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kuliah. Tak terasa waktu sudah lewat berjam - jam dan tugasnya masih di halaman pertama.
Menurut saya, ini tantangan terbesar nugas bareng. Teman memang bisa bikin semangat, tapi bisa juga jadi sumber distraksi kalau kita tidak bisa menjaga fokus. Dan jujur, yang paling bahaya justru obrolan yang terasa "sebentar doang".
Tidak Semua Tugas Harus Dikerjakan Bersama
Menurut saya, tidak semua tugas harus dikerjakan secara berkelompok.
Untuk tugas yang membutuhkan diskusi dan pertukaran ide, mengerjakan bersama tentu bisa sangat membantu. Namun, untuk tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi, terkadang mengerjakannya sendiri justru lebih efektif.
Setiap mahasiswa juga memiliki cara belajar yang berbeda. Ada yang lebih mudah memahami materi ketika berdiskusi, sementara yang lebih nyaman belajar dalam keadaan tenang.
Karena itu, yang paling penting bukan selalu soal mengerjakan tugas bersama atau sendirian, tetapi mengetahui cara belajar yang paling cocok untuk diri sendiri.
Pada Akhirnya, Tugas Tetap Harus Selesai
Nugas bareng teman sebenarnya bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan. Kita bisa belajar bersama, bertukar pendapat, sekaligus mempererat hubungan dengan teman.
Tetapi jangan sampai tujuan awalnya terlupakan.
Datang bareng teman itu seru, tetapi tugas tetap harus dikerjakan. Kalau dari dua jam "nugas bareng", satu setengah jamnya habis buat ngobrol, mungkin yang perlu dibenahi bukan tempatnya, melainkan cara kita mengatur waktu. Misalnya, sepakat dulu di awal: tiga puluh menit pertama fokus, baru setelahnya itu boleh santai.
Menurut saya, nugas bareng bukan soal siapa yang paling cepat selesai. Lebih dari itu, ini latihan bekerja sama, membagi waktu, berdiskusi, dan tetap bertanggung jawab atas bagian masing - masing.
Jadi kalau besok ada teman yang ngajak, "Nugas bareng, yuk?", rasanya tidak ada salahnya ikut.
Asal jangan sampai berangkat buat nugas, tapi pulangnya cuma bawa cerita.
