Antara Kilatan dan Laboratorium: Kebijaksanaan dan Pengetahuan

Mahasiswa UIN Jakarta Fakultas Syari'ah dan Hukum Prodi Ilmu Hukum.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ghiyats Azzumar Ghuffron tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cahaya yang Turun
Banyak tradisi spiritual menggambarkan penciptaan sebagai cahaya yang mengalir dari ketakterbatasan menuju dunia yang serba terbatas. Cahaya itu menyerupai kilatan petir yang menyambar dari langit, bercabang di udara, lalu menyentuh bumi dalam bentuk yang tidak lagi utuh. Dari gambaran inilah aku ingin membaca dua hal yang sering dianggap bersaudara, tetapi sesungguhnya hidup dalam ketegangan: kebijaksanaan dan pengetahuan.
Keduanya kerap disebut dalam satu tarikan napas, seolah pengetahuan akan dengan sendirinya melahirkan kebijaksanaan, atau kebijaksanaan sudah cukup tanpa pengetahuan. Padahal keduanya bergerak dengan cara yang berbeda, menuju arah yang berbeda, dan mengalami kegagalan yang berbeda pula. Kekeliruan terbesar dalam hidup barangkali bukan karena kita kehilangan salah satunya, melainkan karena kita mengira salah satunya telah cukup mewakili keseluruhan.
Kebijaksanaan sebagai Kilatan
Kebijaksanaan adalah saat ketika sesuatu yang belum berbentuk mulai menampakkan kemungkinan. Ia belum menjadi gagasan yang utuh, tetapi telah membawa arah. Karena itulah kebijaksanaan menyerupai kilatan: hadir sebelum bahasa sempat menyusunnya, menerangi sesuatu dalam sekejap, lalu meninggalkan manusia dengan tugas untuk memahami apa yang baru saja dilihatnya. Setiap upaya menjelaskannya tidak pernah benar-benar menuntaskannya, tetapi hanya membuka penafsiran berikutnya.
Kebijaksanaan dapat disebut sebagai inti penghayatan akan kebaikan. Bukan karena ia selalu benar, melainkan karena ia menyadari bahwa kenyataan lebih luas daripada penilaian yang tergesa-gesa. Orang bijak bukanlah orang yang memiliki jawaban paling banyak, tetapi orang yang bersedia mendengarkan persoalan sampai persoalan itu selesai berbicara. Ia tidak buru-buru menghakimi, sebab ia tahu bahwa sesuatu yang tampak sederhana di permukaan dapat menyimpan pergulatan yang panjang di kedalaman.
Orang yang dekat dengan kebijaksanaan cenderung memilih ketabahan daripada benturan, kelenturan daripada kekakuan, dan kedalaman daripada kecepatan. Mereka seperti sumur yang airnya tidak terlihat dari kejauhan, tetapi menyimpan kehidupan bagi siapa pun yang bersedia menimba. Kedalaman mereka terkadang tidak segera tampak, bukan karena tidak bernilai, melainkan karena apa yang mereka pahami sering kali lebih luas daripada apa yang sanggup mereka ucapkan.
Namun, kilatan yang tidak pernah turun ke bumi hanya akan menjadi cahaya sesaat. Terlalu lama tinggal dalam kebijaksanaan dapat membuat seseorang terus menimbang tanpa pernah memilih, memahami tanpa berani menolak, dan menerima tanpa mengetahui kapan harus melawan. Ia memaklumi terlalu banyak hal hingga kehilangan sikap terhadapnya. Pada titik itu, kebijaksanaan berubah menjadi tragedi: pemahaman setinggi langit dan perasaan seluas cakrawala, tetapi kehendak yang tidak pernah membawanya ke mana-mana.
Pengetahuan sebagai Laboratorium
Di sinilah pengetahuan memperoleh tempatnya. Jika kebijaksanaan adalah kilatan, pengetahuan adalah laboratorium tempat cahaya itu ditampung, diuji, diberi nama, dan dirumuskan agar dapat diwariskan. Tanpa pengetahuan, intuisi hanya akan menjadi pengalaman pribadi yang sulit dibagikan. Tidak akan ada hukum, teknologi, ataupun peradaban jika manusia hanya terpukau oleh cahaya tanpa berusaha memahami jejak yang ditinggalkannya.
Karena itu, pengetahuan dapat disebut sebagai inti penghayatan akan kebenaran. Bukan karena ia selalu tepat, melainkan karena ia menuntut kejelasan, pengujian, dan pertanggungjawaban. Kebijaksanaan mungkin berkata, “Aku merasakan bahwa sesuatu sedang terjadi,” sedangkan pengetahuan menjawab, “Tunjukkan jejaknya agar orang lain dapat turut memeriksa.” Pengetahuan memberi bahasa kepada intuisi, susunan kepada pengalaman, dan pijakan kepada kehendak. Tanpa disiplin itu, kebaikan mudah berubah menjadi selera pribadi yang merasa dirinya luhur.
Namun, laboratorium juga dapat berubah menjadi ruang tertutup. Ketika wadah dianggap lebih penting daripada cahaya yang ditampungnya, rumusan tidak lagi menjadi jalan untuk memahami kenyataan, tetapi menjadi pagar yang membatasi kenyataan. Orang yang terlalu bergantung pada pengetahuan cenderung mendahulukan kepastian daripada penghayatan, ketepatan daripada kepekaan, serta jawaban daripada perenungan. Mereka fasih menjelaskan apa dan bagaimana, tetapi kehilangan suara ketika ditanya mengapa. Barangkali karena mengapa adalah pertanyaan yang selalu diajukan kilatan kepada laboratorium.
Puncak kecenderungan itu adalah reduksionisme, yakni anggapan bahwa apa yang dapat dijelaskan telah mencakup seluruh kenyataan. Segala sesuatu yang tidak dapat dimasukkan ke dalam rumusan dianggap tidak ada, sedangkan yang belum dapat diukur dianggap tidak layak dipercaya. Pada titik itu, pengetahuan tidak lagi menjadi jendela untuk memandang dunia, tetapi berubah menjadi bingkai yang memotong bagian dunia yang tidak sesuai dengan ukurannya.
Jurang antara Mengetahui dan Mengenal
Di antara kilatan dan laboratorium terdapat jurang yang tidak dapat dijembatani oleh metode semata. Mengetahui sesuatu tidak selalu berarti mengenalnya. Seseorang dapat menghafal nama sebuah sungai, mengukur kedalamannya, dan memetakan arusnya, tetapi tetap tidak mengetahui bagaimana rasanya berdiri di dalam air itu. Pengetahuan yang hidup memerlukan keakraban, sebab kenyataan tidak hanya menuntut untuk dijelaskan, tetapi juga untuk didekati dan dialami.
Bayangkan seorang hakim yang menguasai setiap pasal dan putusan terdahulu, tetapi tidak pernah merasakan beratnya nasib orang yang berdiri di hadapannya. Putusannya mungkin sah secara prosedural, tetapi kosong secara manusiawi. Sebaliknya, bayangkan seseorang yang sangat peka terhadap penderitaan, tetapi tidak memiliki kaidah untuk menerjemahkan kepekaannya menjadi keadilan yang dapat ditegakkan. Yang satu memiliki ukuran, tetapi kehilangan manusia yang sedang diukur; yang lain memahami manusia, tetapi tidak memiliki bentuk yang cukup kokoh untuk melindunginya.
Menjaga Cahaya, Membentuk Wadah
Dari ketimpangan itu lahirlah dua penyakit yang saling berkebalikan. Kebijaksanaan tanpa pengetahuan menjadi keindahan yang tidak berdaya, sedangkan pengetahuan tanpa kebijaksanaan menjadi ketepatan yang buta. Yang pertama mampu memahami tanpa mengubah, sedangkan yang kedua mampu mengubah tanpa memahami. Keduanya lupa bahwa lawannya bukanlah musuh, melainkan mitra yang mencegah masing-masing berubah menjadi bentuk paling buruk dari dirinya sendiri. Kebijaksanaan menjaga agar pengetahuan tidak kehilangan jiwa, sementara pengetahuan menjaga agar kebijaksanaan tidak kehilangan daya.
Mungkin itulah pelajaran terakhir dari petir. Ia tidak dapat tinggal selamanya di langit, tetapi juga tidak pernah mencapai bumi tanpa kehilangan sebagian cahayanya. Tugas manusia bukanlah menangkapnya secara utuh, melainkan menjaga agar cahaya yang sempat sampai tidak padam, lalu memberinya bentuk tanpa mengurungnya. Sebab bahaya terbesar bukan terletak pada keterbatasan laboratorium kita, melainkan pada kesombongan yang mengira bahwa segala sesuatu yang tidak tertampung di dalamnya memang tidak pernah ada.
