Cinta: Jalan yang Tak Pernah Sepenuhnya Aman

Mahasiswa UIN Jakarta Fakultas Syari'ah dan Hukum Prodi Ilmu Hukum.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ghiyats Azzumar Ghuffron tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cinta digambarkan sebagai salah satu kekuatan paling misterius dalam kehidupan. Ia tidak tunduk pada usia, kecerdasan, maupun pengalaman. Bahkan orang yang paling rasional sekalipun dapat kehilangan kejernihan ketika berhadapan dengannya, seolah semua ukuran yang biasa ia pakai untuk memahami dunia tiba-tiba tidak berlaku lagi.
Hal ini menunjukkan bahwa cinta bukan sekadar emosi yang bisa dijelaskan dan diselesaikan lewat logika. Ia adalah pengalaman eksistensial yang melampaui kemampuan manusia untuk mengendalikannya sepenuhnya, sesuatu yang bisa dijalani jauh lebih mudah daripada dipahami.
Kesakralan cinta lahir justru dari sifatnya yang ganda itu. Ia memiliki daya untuk membentuk sekaligus menghancurkan manusia yang mengalaminya. Cinta membawa kebingungan, pengorbanan, dan penderitaan yang tidak dapat dipisahkan darinya, seolah semua itu adalah harga yang harus dibayar agar cinta bis8ia hadir secara utuh, bukan sekadar bayangan tipis darinya.
Kompleksitas semacam itu membuat cinta tidak bisa dipahami hanya lewat logika. Ia menuntut keterlibatan seluruh diri seseorang, bukan hanya pikirannya, sehingga setiap pilihan untuk mencintai selalu mengandung risiko yang tidak bisa dihitung terlebih dahulu, sebesar apa pun kehati-hatian yang dipakai untuk mendekatinya.
Kahlil Gibran pernah menuliskan peringatan yang menangkap kebenaran ini dengan indah: "ketika cinta memanggilmu, ikutilah dia, sekalipun jalannya keras dan terjal." Bukan tanpa alasan ia memilih kata mengikuti, bukan menuntun, sebab cinta jarang bisa diarahkan sesuai kehendak manusia. Yang bisa dilakukan seseorang hanyalah menerima panggilannya, sekalipun jalan yang ditawarkan tidak pernah terlihat mudah sejak langkah pertama.
Karena sifatnya yang menuntut keterlibatan penuh itulah, kebijaksanaan dalam menghadapi cinta bukan berarti mampu menaklukkannya. Menaklukkan cinta adalah gagasan yang keliru sejak awal, sebab yang sesungguhnya dibutuhkan bukan penguasaan, melainkan kemampuan membedakan cinta dari sesuatu yang hanya menyerupainya.
Obsesi, nafsu, kebutuhan akan kepemilikan, atau ketergantungan, semuanya bisa menyamar sebagai cinta dengan sangat meyakinkan. Sebagian bahkan terasa lebih hangat dan lebih pasti pada mulanya, sebab tidak menuntut kerentanan sedalam cinta yang sesungguhnya, dan justru karena itu jauh lebih mudah keliru dikira sebagai cinta.
Membedakan keduanya bukan pekerjaan akal semata, melainkan sebuah melihat yang lebih jujur daripada sekadar berpikir. Seseorang bisa memahami secara konsep bahwa obsesi berbeda dari cinta, namun tetap tertipu olehnya, sampai ia benar-benar melihat dengan jernih ke dalam dorongan-dorongan yang menggerakkan pilihannya sendiri, entah itu lahir dari kasih yang tulus, atau sekadar dorongan ego yang ingin dipuaskan.
Pada akhirnya, cinta dipahami sebagai jalan yang tidak pernah sepenuhnya aman, ataupun sepenuhnya dapat dipahami sampai ke akarnya. Setiap orang yang memasukinya harus menerima bahwa sebagian besar perjalanan itu akan tetap gelap, sekalipun ia telah berjalan cukup jauh di dalamnya.
Beruntunglah orang yang mampu berjalan bersama cinta, sebab itu berarti ia tidak berusaha menguasainya, melainkan belajar hidup selaras dengannya. Ia berhenti memaksakan cinta untuk tunduk pada rencananya, dan mulai membiarkan cinta membentuknya sejauh yang memang dibutuhkan.
Jalan ini menuntut keseimbangan antara keberanian untuk berkorban dan kebijaksanaan untuk tetap melihat dengan jernih di tengah kabut yang ditimbulkannya. Tanpa keberanian, cinta tidak akan pernah benar-benar dijalani. Tanpa kejernihan, cinta akan mudah disalahartikan menjadi sesuatu yang justru melukai.
Karena itu, cinta yang dijalani dengan seimbang pada akhirnya menjadi kekuatan yang mematangkan manusia, bukan sekadar perasaan yang menguasainya. Ia mengubah seseorang bukan dengan merampas kendali atas dirinya, melainkan dengan mengajarinya untuk berdiri utuh, bahkan di tempat yang paling rentan sekalipun.
