Konten dari Pengguna

Kesepian, Keutuhan, dan Nama yang Kita Berikan pada Hubungan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ghiyats Azzumar Ghuffron tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kebanyakan orang mengira kesepian adalah ketiadaan orang lain, sehingga obatnya adalah kehadiran: kekasih, sahabat, keluarga, atau keramaian. Namun ada orang yang kesepian di tengah pesta, dan ada pula yang merasa utuh dalam ruangan sunyi. Kesepian rupanya bukan tentang berapa banyak orang yang mengelilingi kita, melainkan bagaimana kita memahami diri dan keterpisahan.

Kesepian bukanlah kecelakaan dalam hidup manusia. Kita lahir dalam tubuh yang tak bisa dibagi, membawa kesadaran yang tak bisa dipinjamkan, dan kelak mati dengan cara yang tak bisa diwakilkan siapa pun. Kita adalah ikan-ikan yang berenang di sungai waktu. Masing-masing menempuh arusnya sendiri, sesekali berpapasan, berenang berdampingan sejenak, lalu terpisah kembali oleh arus yang sama.

Foto oleh Dmytro Bukhantsov via Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Dmytro Bukhantsov via Unsplash

Karena itu yang sebenarnya ditakuti banyak orang bukanlah sepi, melainkan hilangnya cermin. Selama ada orang lain, kita mengenali diri melalui tatapan mereka, melalui peran yang kita jalankan, melalui pujian, pengakuan, atau rasa dibutuhkan. Dalam kesunyian, cermin itu lenyap, dan kita dipaksa berhadapan dengan tiga hal sekaligus: keterbatasan, ketidakpastian, dan kefanaan.

Dari sinilah lahir dorongan untuk mencari seseorang yang dapat mengisi yang kosong. Kita mencari hubungan untuk meminjam kepastian dan mencari cinta agar merasa utuh. Mitos Aristophanes dalam Symposium Plato menggambarkan kerinduan ini sebagai pencarian separuh diri yang hilang. Namun persoalannya muncul ketika orang lain diperlakukan sebagai obat bagi kekurangan yang belum kita damaikan dalam diri sendiri.

Erich Fromm melihat persoalan ini sebagai kegelisahan terdalam manusia adalah kesadaran bahwa kita terpisah. Menurutnya, banyak orang berusaha mengatasi keterpisahan itu dengan melebur ke dalam kerumunan, tunduk pada orang lain, atau menguasai orang lain. Bentuk-bentuk penyatuan semacam itu tampak menjanjikan, tetapi pada akhirnya hanya menyembunyikan masalah yang sama.

Karena itu Fromm membedakan cinta yang lahir dari kebutuhan dan cinta yang lahir dari kematangan. Cinta yang belum dewasa berkata, “Aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu.” Cinta yang matang berkata, “Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu.” Dua pengemis tak akan pernah saling mengenyangkan. Masing-masing menadahkan tangan kepada seseorang yang tangannya juga hampa.

Foto oleh Yash Rai via Unsplash

Cinta yang dewasa bukanlah usaha mencari pelengkap diri, melainkan kemampuan berbagi hidup tanpa kehilangan keutuhan. Ia bukan sesuatu yang semata-mata diterima, melainkan sesuatu yang dikerjakan melalui kepedulian, tanggung jawab, penghormatan, dan kesediaan untuk sungguh mengenal orang lain sebagaimana adanya.

Namun di sini muncul sebuah paradoks. Jika manusia pada dasarnya terpisah, bagaimana mungkin kita juga berbicara tentang kesatuan? Pada tingkat pengalaman, kita memang sendirian. Tak ada yang dapat sepenuhnya merasakan apa yang kita rasakan atau menjalani hidup menggantikan kita. Akan selalu ada jarak yang tak dapat dihapuskan.

Tetapi pada tingkat yang lebih dalam, tak ada ikan yang berdiri di luar sungai. Air yang menggerakkan sirip yang satu adalah air yang sama yang mengalir di sekeliling yang lain. Berbagai tradisi, mulai dari Wahdat Al-Wujud dalam tasawuf, Advaita Vedanta, hingga monisme Spinoza, mengisyaratkan intuisi yang serupa: keterpisahan adalah pengalaman yang nyata, tetapi bukan keseluruhan kenyataan.

Kesepian lahir ketika ego menarik garis batas, lalu lupa bahwa garis itu hanya tergores di permukaan air. Dari sudut pandang ini, cinta, keluarga, dan persahabatan bukanlah pencipta keterhubungan, melainkan pengakuan atas keterhubungan yang telah ada lebih dahulu. Dalam bahasa hukum, hubungan-hubungan itu lebih bersifat deklaratif daripada konstitutif.

Karena itu label tidak menjamin ketulusan, dan ketiadaannya tidak menghapus makna. Dua orang asing yang saling menolong di tengah bencana dapat terhubung secara mendalam tanpa nama apa pun bagi hubungan mereka. Sebaliknya, dua orang yang terikat oleh status yang paling sah sekalipun dapat hidup sebagai orang asing yang tak pernah sungguh bertemu.

Lalu apa artinya bagi kehidupan sehari-hari? Mungkin kita perlu berhenti bertanya, “Apa yang bisa orang ini berikan untuk melengkapiku?” dan mulai bertanya, “Bagaimana aku dapat hadir tanpa menuntut?” Mendengar tanpa sibuk menyiapkan jawaban, memberi tanpa menghitung balasan, dan membiarkan orang lain bertumbuh ke arah yang tidak kita pilihkan. Cinta yang matang bergeser dari memiliki menjadi menyaksikan. Pada akhirnya kita tetap ikan-ikan yang berenang sendiri-sendiri, tetapi sungainya satu. Tugas kita bukan menghapus jarak di antara dua ikan, melainkan merawat air yang mengalir di antara keduanya.