Konten dari Pengguna

Krisis Kita Bukan di Ekonomi, tapi di Kesadaran

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ghiyats Azzumar Ghuffron tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Akhir-akhir ini saya memperhatikan semakin banyak akademisi berkumpul dan berdiskusi tentang arah bangsa ini. Diskusi-diskusi tersebut muncul di berbagai forum, baik secara langsung maupun di ruang publik digital, dan hampir semuanya menyinggung satu pertanyaan besar yang sama, sebenarnya di mana letak akar persoalan negara kita selama ini.

Dari berbagai perbincangan itu, saya menangkap satu benang merah yang terus berulang. Hampir semua persoalan negara kita, mulai dari korupsi, ketimpangan sosial, hingga rendahnya partisipasi publik yang sehat, pada akhirnya bermuara pada satu titik yang sama, buruknya kualitas pendidikan.

Pendidikan yang buruk bukan hanya soal kurikulum atau fasilitas belajar yang minim. Ia melahirkan masalah yang jauh lebih dalam dan lebih sulit dilihat, yaitu krisis kesadaran. Ketika masyarakat kehilangan kesadaran kritis terhadap realitas di sekitarnya, perbaikan bangsa pun menjadi jauh lebih sulit dilakukan, sebab yang rusak bukan lagi sekadar sistem, melainkan cara berpikir itu sendiri.

Ekonomi memang tetap menjadi bagian penting dari pembangunan sebuah negara, dan tidak ada yang menampik hal itu. Namun banyak pemikir menegaskan bahwa tanpa fondasi pendidikan yang kuat, kemajuan ekonomi dan teknologi justru berisiko mempercepat kehancuran, bukan menuntun pada kemajuan yang berkelanjutan.

Teknologi yang berkembang pesat tanpa dibarengi kesadaran kritis hanya akan menjadi alat yang mempercepat penyebaran kedangkalan berpikir. Informasi memang menjadi lebih mudah diakses, tetapi kemampuan untuk menyaring dan memahaminya secara jernih justru semakin tergerus.

Karena itu, muncul upaya dari sebagian kalangan akademisi untuk menghidupkan kembali apa yang bisa disebut sebagai "politik intelektualitas". Ini adalah cara berpolitik yang berpijak pada nalar dan kedalaman berpikir, bukan sekadar retorika kosong yang hanya mengejar sensasi dan popularitas sesaat.

Fenomena kedangkalan ruang publik ini terlihat jelas ketika Rocky Gerung memilih meninggalkan sebuah forum debat Rakyat Bersuara di INews TV karena menilai diskusi tersebut sarat dengan kedangkalan retorika. Sikap tersebut bisa dibaca sebagai bentuk protes terhadap ruang publik yang semakin kehilangan substansi, tempat perdebatan gagasan justru kalah oleh perang argumen yang dangkal.

"Suasana di luar lokasi program iNews TV, saat momen Rocky Gerung meninggalkan forum diskusi menjadi sorotan publik." /Tangkapan layar (screenshot) dari video YouTube iNews, https://youtu.be/d2m6u8Z4PCg

Peristiwa semacam ini bukan sekadar insiden kecil di layar televisi. Ia menjadi cerminan dari kondisi yang lebih luas, di mana ruang-ruang diskusi publik perlahan kehilangan kedalaman, dan lebih mengutamakan tampilan ketimbang substansi pemikiran.

Menariknya, jauh sebelum fenomena ini ramai dibicarakan, seorang filsuf besar asal India telah lebih dulu menyuarakan hal serupa. Jiddu Krishnamurti, pemikir yang pandangannya terus menginspirasi masyarakat India bahkan dunia, pernah mengatakan sesuatu yang hingga kini terasa sangat relevan dengan kondisi kita:

"Potret masa muda filsuf Jiddu Krishnamurti sekitar tahun 1920-an. / Wikimedia Commons/Library of Congress"

"Krisis tidak terjadi di dunia ekonomi atau politik. Krisis terjadi dalam kesadaran. Sangat sedikit dari kita yang menyadari hal ini."

— Jiddu Krishnamurti

Pernyataan itu mengingatkan kita bahwa akar dari segala krisis bukanlah sistem semata, melainkan cara kita berpikir dan menyadari realitas di sekitar kita. Krishnamurti seolah menegaskan bahwa selama kesadaran manusia belum tumbuh secara utuh, perubahan sebesar apa pun pada sistem ekonomi maupun politik hanya akan menjadi solusi di permukaan.

Selama pendidikan kita hanya berhenti pada transfer informasi tanpa menumbuhkan kesadaran kritis, selama itu pula perbaikan yang sesungguhnya akan terus tertunda. Barangkali, sebelum sibuk membenahi sistem, kita perlu terlebih dahulu membenahi cara kita berpikir dan menyadari keadaan.