Konten dari Pengguna

Lalat, Bunga, dan Batas Sebuah Kebaikan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ghiyats Azzumar Ghuffron tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seekor lalat yang memakan apa yang layak (Foto: Muhammad Daudy/Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seekor lalat yang memakan apa yang layak (Foto: Muhammad Daudy/Unsplash)

Orang-orang yang menganggap dirinya baik sering berkata, "sulit meyakinkan lalat bahwa bunga lebih indah daripada sampah," setelah memaksa orang lain untuk mengikuti setiap keyakinannya. Namun pernahkah mereka bertanya, apakah sebenarnya lalat justru telah memahami sesuatu yang mereka sendiri belum sadari? Atau apakah mereka tahu, bahwa sampah pun menyimpan keindahannya sendiri?

Bagaimana jika lalat mengejar sampah bukan karena kebodohan, melainkan demi menjaga keturunannya, demi menjaga kesehatan telur-telurnya? Bagaimana jika di balik ribuan bakteri dalam sampah itu, tersimpan jutaan gizi bagi mereka yang mampu mengolahnya menjadi kehidupan baru? Sesuatu yang tampak sebagai keburukan bagi satu makhluk, bisa jadi adalah sumber kehidupan bagi makhluk yang lain.

Manusia sering mengira bahwa apa yang menurutnya indah dan baik harus menjadi kebenaran bagi semua makhluk. Namun setiap kehidupan memiliki perspektif, kebutuhan, dan jalannya sendiri. Bunga dan sampah hanya menjadi indah atau menjijikkan berdasarkan hubungan suatu makhluk terhadapnya. Bagi manusia, bunga mungkin merupakan lambang keindahan, tetapi bagi lalat, sampah dapat menjadi sumber kehidupan itu sendiri. Karena itu, penilaian yang lahir dari satu sudut pandang tidak dapat dengan mudah dijadikan hukum bagi seluruh keberadaan.

Pertanyaan ini menjadi lebih tajam ketika ditarik ke ranah manusia. Beranikah kita berkata kepada orang miskin, bahwa daging lebih enak daripada tahu-tempe? Beranikah kita berkata kepada seorang pecandu, bahwa pola hidup sehat lebih indah daripada narkotika? Atau beranikah kita berkata kepada seorang pencuri, bahwa menyerahkan diri lebih baik daripada terus bersembunyi? Setiap kalimat itu mungkin benar dalam ukuran kita, namun terdengar begitu asing di telinga mereka yang menjalani kenyataan yang jauh berbeda dari kita.

Apa yang tampak sebagai keburukan sering kali menyimpan fungsi yang tidak terlihat oleh pengamat dari luar. Sesuatu yang dianggap hina oleh satu kehidupan, dapat menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi kehidupan lainnya. Sebelum menghakimi suatu pilihan, seseorang semestinya terlebih dahulu memahami hubungan antara pilihan tersebut dengan keseluruhan kehidupan yang menjalaninya, bukan sekadar menilai dari jarak yang aman dan nyaman.

Kesalahan terbesar manusia adalah mengira bahwa memahami sesuatu berarti berhak memaksakan pemahamannya kepada yang lain. Memberi tahu orang miskin bahwa makanan tertentu lebih baik tanpa memahami keterbatasannya, atau memaksa seseorang meninggalkan sesuatu tanpa memahami kondisi yang membuatnya bergantung kepadanya, hanya akan mengubah kebenaran menjadi alat penindasan. Pengetahuan yang tidak disertai pemahaman terhadap konteks, pada akhirnya, hanya akan berubah menjadi kesombongan yang berbalut kebaikan.

Karena itu, kebijaksanaan tidak hanya terletak pada kemampuan menunjukkan jalan yang dianggap benar, tetapi juga pada kemampuan memahami mengapa seseorang berjalan di jalan yang berbeda. Setiap pilihan memiliki sebab, kebutuhan, konsekuensi, dan lingkungan yang melahirkannya. Memahami hal ini bukan berarti membenarkan segala tindakan, melainkan menyadari bahwa penilaian yang adil membutuhkan pemahaman yang jauh lebih luas daripada sekadar melihat hasil akhirnya dari luar.

Jika kita mampu menjamin keturunan seekor lalat, ketika ia diajak bermain bersama bunga alih-alih sampah, barangkali dengan senang hati ia akan melakukannya. Namun jika kita tidak mampu menjamin hal itu, mungkin yang perlu kita hentikan bukanlah lalatnya, melainkan kebiasaan kita menilai tanpa memahami.

Pada akhirnya, sebelum memaksa kehidupan lain mengikuti ukuran kita tentang kebaikan, kita perlu bertanya lebih dulu, apakah kita benar-benar memahami kehidupan tersebut. Jika kita mampu menjamin bahwa jalan yang kita tawarkan tidak menghancurkan kehidupannya, barulah kita memiliki alasan yang layak untuk mengajaknya berpindah. Jika tidak, boleh jadi yang selama ini kita sebut sebagai "kebaikan" hanyalah keinginan kita untuk menjadikan dunia serupa dengan diri sendiri.

Sebab memahami kebenaran bukan berarti memaksa semua makhluk untuk melihat melalui mata kita, melainkan mampu melihat mengapa setiap makhluk memandang dunia ini dengan caranya sendiri. Berhenti menilai tanpa memahami bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda dari kebijaksanaan yang sesungguhnya.