Menciptakan Lebih Sulit daripada Menghancurkan

Mahasiswa UIN Jakarta Fakultas Syari'ah dan Hukum Prodi Ilmu Hukum.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ghiyats Azzumar Ghuffron tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Puluhan nada yang berbeda bisa berkumpul dan menciptakan sebuah melodi yang indah, sementara jutaan sel yang berbeda berkumpul dan berbaur untuk membentuk diri kita masing-masing. Dua hal yang tampak begitu jauh ini, musik dan tubuh, sesungguhnya lahir dari satu prinsip yang sama.
Keselarasan adalah inti dari keindahan semesta. Bukan kebetulan yang menciptakan sesuatu menjadi indah, melainkan hubungan yang tepat antara setiap bagiannya. Sebagaimana nada-nada yang berbeda membentuk sebuah melodi, dan jutaan sel yang saling bekerja sama membentuk kehidupan, seluruh alam semesta berdiri di atas keteraturan yang menghubungkan setiap unsur di dalamnya. Tidak ada keindahan tanpa hubungan, dan tidak ada kehidupan tanpa keselarasan.

Namun ada satu kenyataan yang jarang disadari di balik semua itu: menghancurkan selalu jauh lebih mudah daripada menciptakan. Mengurai selalu lebih mudah daripada menyatukan. Menyesatkan selalu lebih mudah daripada mencerahkan. Membunuh selalu lebih mudah daripada menghidupkan.
Kehancuran tidak memerlukan banyak pemahaman untuk terjadi. Ia bisa lahir dari satu tindakan ceroboh, satu kata yang salah, atau bahkan hanya dari kelalaian yang dibiarkan berlarut-larut. Penciptaan justru sebaliknya. Ia menuntut keteraturan, keseimbangan, dan keterhubungan yang harus dijaga secara sengaja, sebab tanpa kesengajaan itu, segala sesuatu secara alami akan kembali menuju kekacauan.
Keselarasan menuntut setiap bagian memahami perannya masing-masing. Setiap unsur harus hadir pada tempat dan waktu yang tepat, membentuk satu pola yang utuh, bukan sekadar kumpulan bagian yang berdiri sendiri-sendiri. Bahkan kesalahan yang tampak kecil dapat merusak keseluruhan tatanan yang sudah susah payah dibangun, sebagaimana satu nada yang sumbang bisa merusak seluruh melodi, sekalipun nada-nada lainnya sudah tepat.
Oleh sebab itu, penciptaan selalu merupakan proses yang jauh lebih kompleks daripada perusakan, sebab ia bergantung pada hubungan yang benar di antara setiap bagiannya, bukan sekadar pada kekuatan yang dipakai untuk mewujudkannya.
Kesadaran ini memperlihatkan betapa naifnya manusia ketika membayangkan bisa menciptakan keadilan, kesetaraan, atau kedamaian dunia hanya lewat slogan dan kehendak baik semata. Jangan bercanda dengan gagasan ini, sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar konsep di atas kertas, melainkan menyentuh langsung soal kehidupan itu sendiri, dan sejauh ini belum ada satu pun yang benar-benar berhasil mewujudkannya secara utuh.
Persoalan kehidupan jauh lebih rumit daripada sekadar menyatukan pendapat lewat perdebatan atau kesepakatan di atas kertas. Ia menyangkut manusia dengan kepentingan, sejarah, budaya, dan kehendak yang berbeda-beda, yang masing-masing membawa nadanya sendiri, sering kali tanpa peduli apakah nada itu selaras dengan nada yang lain di sekitarnya.
Selama seluruh unsur itu belum mampu bergerak dalam keselarasan, cita-cita akan keadilan dan kedamaian dunia akan tetap menjadi harapan yang sulit diwujudkan, bukan karena manusia kekurangan niat baik, melainkan karena niat baik saja tidak pernah cukup untuk menciptakan sesuatu yang sekompleks keselarasan.
Memahami hal ini bukan sekadar mengetahui secara konsep bahwa mencipta itu sulit, melainkan sebuah penyingkapan yang lebih dalam tentang hakikat penciptaan itu sendiri: bahwa ia bukan terletak pada kekuatan, melainkan pada kemampuan menyelaraskan. Semakin besar sesuatu yang ingin diciptakan, semakin besar pula tuntutan akan keselarasan di antara bagian-bagiannya, dan semakin sedikit ruang yang tersisa untuk kecerobohan.
Pada akhirnya, keindahan, kehidupan, dan peradaban lahir bukan karena satu unsur berhasil mendominasi unsur yang lain, melainkan karena semuanya menemukan tempatnya masing-masing dalam satu tatanan yang utuh. Dan barangkali di situlah letak mahakarya yang sesungguhnya, bukan pada kemegahan satu bagian, melainkan pada keselarasan yang menghubungkan semuanya menjadi satu.
