Konten dari Pengguna

Petapa yang Tenang, Raja yang Gelisah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ghiyats Azzumar Ghuffron tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada yang aneh dan sulit dijelaskan pada seorang petapa yang hidup jauh dari segala kesejahteraan. Tanpa kemewahan, tanpa keintiman, bahkan tanpa banyak kebaikan yang biasa didambakan manusia, ia tetap bisa duduk tenang, tanpa mengharapkan surga sebagai imbalan atas kesabarannya. Sementara itu, tidak sedikit orang yang tampak memiliki segalanya, dikelilingi kebaikan, keintiman, dan kemewahan, namun hidupnya penuh keluhan dan angan-angan tentang surga yang belum juga terasa di dunia ini. Bagaimana mungkin hidup yang tampak begitu lengkap justru terasa begitu buruk dari dalam.

Ilustrasi: William Rainey, "Alexander Mengunjungi Diogenes" (1910). Domain Publik. (Sumber: [https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:William_Rainey,_Alexander_and_Diogenes.jpg])
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: William Rainey, "Alexander Mengunjungi Diogenes" (1910). Domain Publik. (Sumber: [https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:William_Rainey,_Alexander_and_Diogenes.jpg])

Seolah olah justru merekalah yang berdiri di puncak yang paling sengsara. Semakin tinggi seseorang mendaki tumpukan pencapaian, kekayaan, dan pengakuan, semakin ia lupa bahwa puncak itu tidak pernah dijanjikan sebagai tempat ketenangan, hanya tempat yang lebih terlihat dari kejauhan.

Dunia memang sering menipu manusia dengan ukuran-ukuran lahiriah. Kekayaan dianggap otomatis membawa kebahagiaan, kemiskinan dianggap otomatis membawa penderitaan, kebaikan diyakini selalu berbuah ketenangan, sementara kesulitan dipandang sebagai hukuman yang harus dihindari dengan segala cara. Namun kenyataan menunjukkan hal yang jauh lebih rumit dari itu. Ada orang yang memiliki sedikit tetapi hidup damai, dan ada pula yang memiliki segalanya namun tetap gelisah setiap malam. Ini menunjukkan bahwa hakikat kebahagiaan tidak pernah benar-benar ditentukan oleh keadaan di luar diri, melainkan oleh keadaan di dalam batin.

Penderitaan lahir tepat pada saat manusia menggantungkan ketenangannya pada sesuatu yang terus berubah. Selama hati masih sibuk mengejar kenikmatan, pengakuan, atau bahkan sekadar harapan akan balasan di masa depan, ia akan selalu merasa ada yang kurang, sebesar apa pun yang sudah berhasil ia kumpulkan. Sebaliknya, seseorang yang telah mengenal dirinya sendiri dengan jujur tidak lagi hidup karena harapan maupun ketakutan. Ia menerima hidup sebagaimana adanya, sehingga kedamaian yang ia rasakan tidak lagi bergantung pada apa yang terjadi di luar dirinya.

Segala sesuatu di dunia memang selalu hadir berpasangan dengan lawannya. Baik dan buruk, kaya dan miskin, sepi dan ramai, terasing dan terkenal, kuat dan lemah, pintar dan bodoh, lembut dan kejam, hidup dan mati, semuanya berjalan berdampingan sejak dunia ini ada, mewarnai setiap babak kehidupan manusia tanpa terkecuali.

Dualitas semacam ini bukanlah musuh yang harus dimusnahkan, melainkan bagian dari tatanan kehidupan itu sendiri. Keduanya sama-sama membentuk pengalaman manusia, tetapi tidak satu pun dari keduanya merupakan kebenaran yang mutlak. Melekat terlalu erat pada salah satu sisi, entah demi mengejar yang satu atau demi menghindari yang lain, hanya akan membuat manusia kehilangan kebebasan batinnya sendiri.

Karena itu, jalan menuju kebenaran bukanlah memilih satu sisi dan menolak sisi yang lainnya, seolah salah satu dari keduanya bisa dihapus dari kehidupan. Jalan itu justru dimulai dari memahami keduanya secara utuh, sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan tanpa membuat gambarannya menjadi timpang.

Ada sebuah cara memandang yang lahir bukan dari penalaran, melainkan dari sebuah melihat yang lebih dalam daripada sekadar berpikir, yang menyadari bahwa setiap keadaan, betapa pun berat atau ringannya, memiliki tempat dan fungsinya masing-masing dalam kehidupan. Saat seseorang berhenti menghakimi setiap pengalaman berdasarkan untung dan rugi semata, ia mulai bisa melihat keteraturan yang selama ini tersembunyi di balik setiap peristiwa yang ia alami.

Yang sesungguhnya membedakan seorang petapa yang tenang dari seorang raja yang gelisah bukanlah apa yang mereka miliki atau tidak miliki. Yang membedakan keduanya adalah tingkat keselarasan batin mereka dengan kenyataan, seberapa jauh mereka mampu berhenti menuntut dunia untuk selalu berpihak pada keinginan mereka.

Keselarasan itu melampaui seluruh dualitas yang membentuk kehidupan, sebab ia tidak bergantung pada kondisi apa pun untuk tetap hadir. Di titik itulah seseorang tidak lagi diperbudak oleh dunia, kaya maupun miskin, dipuji maupun dicela, sebab ia telah berhenti menjadikan salah satu sisi dari dualitas sebagai penentu tunggal atas nilai dirinya.

Maka barangkali kisah tentang petapa yang tenang dan raja yang gelisah bukan sekadar dua nasib yang kebetulan berbeda. Ia adalah cermin bagi setiap orang yang masih mengira bahwa kedamaian harus dicari di luar dirinya, padahal sejak semula kedamaian itu menunggu untuk ditemukan kembali, tepat di tempat yang paling dekat dengan dirinya sendiri.