Konten dari Pengguna

Inovasi Mahasiswa UNNES GIAT16 dalam Pembuatan Alat Ukur Tinggi Badan Digital

Caesania Restu Meilita

Caesania Restu Meilita

Mahasiswa Universitas Negeri Semarang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Caesania Restu Meilita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kegiatan Posyandu Dusun Domban dengan penggunaan alat ukur tinggi badan digital (Sumber. Dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan Posyandu Dusun Domban dengan penggunaan alat ukur tinggi badan digital (Sumber. Dokumen pribadi)

Magelang – Mahasiswa KKN Universitas Negeri Semarang (UNNES), Rekta Audrey Pratama, melaksanakan program kerja bertajuk Teknologi Pembuatan Alat Ukur Tinggi Badan Digital di Posyandu Dusun Domban, Desa Sukosari, pada Rabu (5/8/2026). Inovasi ini dikembangkan untuk membantu proses pengukuran tinggi badan anak menjadi lebih praktis, cepat, dan nyaman, khususnya bagi anak-anak yang sering merasa takut atau tidak tenang saat dilakukan pengukuran secara manual.

Program diawali dengan sosialisasi mengenai pentingnya pemantauan pertumbuhan anak melalui pengukuran tinggi badan secara rutin sebagai salah satu indikator perkembangan fisik. Dalam kesempatan tersebut, Rekta Audrey Pratama juga memperkenalkan alat ukur tinggi badan digital yang dirancang menggunakan sensor ultrasonik dan mikrokontroler sebagai komponen utama.

Setelah pemaparan mengenai cara kerja alat, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi penggunaan. Anak-anak yang hadir di Posyandu Dusun Domban diberi kesempatan mencoba alat ukur tinggi badan digital secara langsung dengan didampingi kader posyandu dan mahasiswa KKN. Proses pengukuran berlangsung lebih cepat dan praktis sehingga anak-anak terlihat lebih nyaman dibandingkan saat menggunakan alat ukur konvensional.

Alat ini bekerja dengan memanfaatkan sensor ultrasonik untuk mendeteksi jarak antara sensor dan kepala anak ketika berdiri tepat di bawah alat. Data yang diperoleh kemudian diproses oleh mikrokontroler sehingga hasil pengukuran tinggi badan dapat ditampilkan secara otomatis pada layar LCD. Selain itu, alat ini dilengkapi dengan fitur hold, yaitu sistem yang memungkinkan hasil pengukuran pada layar LCD tetap ditampilkan meskipun anak telah bergerak dari posisi pengukuran. Fitur tersebut memudahkan kader posyandu dalam mencatat hasil pengukuran dengan lebih akurat.

Menurut Rekta Audrey Pratama, inovasi ini dikembangkan untuk membantu kader posyandu dalam melakukan pengukuran tinggi badan dengan lebih mudah, sekaligus menciptakan proses pengukuran yang nyaman dan menyenangkan bagi anak-anak.

"Alat ini dirancang agar proses pengukuran tinggi badan menjadi lebih praktis dan nyaman. Harapannya, anak-anak tidak lagi merasa takut saat diukur, sementara kader posyandu dapat memperoleh hasil pengukuran yang lebih mudah dibaca dan dicatat," ujar Rekta

Inovasi sederhana ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi dapat mendukung pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat desa. Dengan memanfaatkan sensor ultrasonik dan mikrokontroler, alat ukur tinggi badan digital diharapkan menjadi alternatif yang lebih efisien dalam membantu kegiatan pemantauan tumbuh kembang anak di posyandu.

Program ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being) melalui peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dasar bagi anak serta pemanfaatan teknologi tepat guna dalam kegiatan posyandu.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian mahasiswa KKN GIAT 16 UNNES Desa Sukosari yang berada di bawah koordinasi Pusat Pengembangan Kuliah Kerja Nyata LPPM UNNES. Melalui berbagai inovasi yang dikembangkan, mahasiswa berupaya memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta mendukung peningkatan kualitas pelayanan di tingkat desa.