Konten dari Pengguna

Kenalkan Briket Sekam Padi, Mahasiswa UNNES GIAT16 Rangkul Kelompok Tani Al Huda

Caesania Restu Meilita

Caesania Restu Meilita

Mahasiswa Universitas Negeri Semarang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Caesania Restu Meilita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kegiatan sosialisasi kepada kelompok tani Al-Huda, Desa Sukosari (Sumber. Dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan sosialisasi kepada kelompok tani Al-Huda, Desa Sukosari (Sumber. Dokumen pribadi)

Magelang– Mahasiswa KKN Universitas Negeri Semarang (UNNES), Diah Patra Ayu, melaksanakan program kerja bertajuk Pemanfaatan Sekam Padi untuk Pembuatan Briket Biomassa kepada Kelompok Tani Al Huda, Desa Sukosari, pada Kamis (6/8/2026). Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi kepada para petani mengenai pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk yang bernilai guna sekaligus memiliki nilai ekonomi.

Sekam padi selama ini lebih dikenal sebagai limbah hasil penggilingan padi yang umumnya dimanfaatkan sebagai media tanam, campuran pupuk kompos, bahan penyaring, dan alas kandang ternak. Namun, melalui kegiatan sosialisasi ini, para petani diperkenalkan bahwa sekam padi juga dapat diolah menjadi briket biomassa, yaitu bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomi.

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai potensi sekam padi sebagai sumber energi terbarukan. Peserta diberikan pemahaman mengenai manfaat briket biomassa, mulai dari mengurangi limbah pertanian, meningkatkan nilai ekonomi sekam padi, hingga menyediakan bahan bakar yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga maupun usaha kecil.

"Alasan saya memilih membuat briket adalah karena mayoritas masyarakat di Desa Sukosari berprofesi sebagai petani. Jadi saya memanfaatkan limbah yang ada, karena di Desa Sukosari sekam padi selama ini hanya dimanfaatkan sebagai pupuk, padahal sekam padi juga dapat diolah menjadi briket yang mempunyai nilai jual," ujar Diah Patra Ayu.

Menurut Diah, program ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru kepada masyarakat bahwa limbah pertanian yang selama ini dianggap kurang bernilai dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat dan berpotensi memberikan nilai tambah bagi para petani.

Setelah sesi pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan briket biomassa. Pada tahap awal, sekam padi dibakar secara perlahan hingga menjadi arang tanpa dibiarkan hangus agar kualitas sekam tetap terjaga. Arang sekam kemudian dihaluskan dan dicampurkan dengan larutan tepung tapioka sebagai perekat sebelum dicetak menjadi briket dan dikeringkan.

Peserta sosialisasi antusias mempraktikkan pembuatan briket (Sumber. Dokumen pribadi)

Metode tersebut dipilih karena mudah diterapkan oleh masyarakat dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Bagi petani padi, sekam merupakan limbah yang selalu dihasilkan setiap musim panen sehingga berpotensi diolah menjadi produk yang lebih bermanfaat dibandingkan hanya dibuang atau dibakar. Selain membantu mengurangi limbah pertanian, pemanfaatan sekam padi sebagai briket biomassa juga dapat menjadi alternatif untuk menghemat biaya penggunaan bahan bakar sekaligus membuka peluang usaha berbasis potensi lokal.

Selama kegiatan berlangsung, anggota Kelompok Tani Al Huda menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta mengikuti setiap tahapan praktik pembuatan briket. Antusiasme tersebut menunjukkan adanya ketertarikan masyarakat terhadap inovasi sederhana yang dapat diterapkan secara mandiri dengan memanfaatkan potensi yang tersedia di Desa Sukosari.

Pelaksanaan program ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth). Melalui pemanfaatan sekam padi menjadi briket biomassa, masyarakat didorong untuk mengembangkan inovasi berbasis potensi lokal yang mampu meningkatkan nilai tambah limbah pertanian, membuka peluang usaha, serta mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat desa secara berkelanjutan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian mahasiswa KKN GIAT 16 UNNES Desa Sukosari yang berada di bawah koordinasi Pusat Pengembangan Kuliah Kerja Nyata LPPM UNNES. Melalui berbagai program pemberdayaan yang dilaksanakan, mahasiswa berupaya menghadirkan solusi sederhana yang aplikatif sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat desa.