Konten dari Pengguna

Rawan Tanah Longsor: Mahasiswa KKN UNNES GIAT 12 Buatkan Peta Kerawanan Longsor

 Sumber : Dokumen Pribadi. Foto bersama relawan ANTASENA Desa Terban
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Dokumen Pribadi. Foto bersama relawan ANTASENA Desa Terban

Rawan Tanah Longsor: Mahasiswa KKN UNNES GIAT 12 Buat Peta Kerawanan Longsor dan Sosialisasi Kebencanaan di Desa Terban

Semarang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Semarang (UNNES) GIAT 12 membuat peta kerawanan longsor serta kegiatan sosialisasi penguatan relawan tanggap bencana di Desa Terban, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat, 8 Agustus 2025 dan melibatkan berbagai unsur masyarakat desa. Kegiatan dirancang oleh Levin Novemdru, mahasiswa program studi Geografi UNNES yang sekaligus menjadi narasumber dalam kegiatan sosialisasi.

Kegiatan ini selaras dengan tema KKN yang diusung oleh Universitas Negeri Semarang yaitu Desa Tangguh Bencana (DESTANA). Konsep DESTANA merupakan desa yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi ancaman bencana, serta memulihkan diri dengan segera dari dampak bencana yang merugikan, jika terkena bencana. Di Desa Terban sendiri sebelumnya sudah terbentuk anggota DESTANA yang diberi nama "ANTASENA" oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang pada tahun 2022. Terbentuknya tim ANTASENA dilatarbelakangi karena pada saat itu Desa Terban mengalami longsor yang sangat parah serta belum adanya tim yang mampu untuk menanggulangi dan juga masyarakat belum memiliki pengetahuan terkait dengan kebencanaan. “Waktu itu longsornya cukup parah sampai beberapa rumah tertimbun, itu sempat didatangkan alat berat sekaligus diberi pelatihan dari BPBD” ujar Adi Suseno sebagai sekretaris Desa Terban.

Kegiatan diawali dengan mengundang seluruh perangkat desa, perwakilan karang taruna dari setiap dusun, serta relawan tanggap bencana yang tergabung dalam kelompok “ANTASENA” Desa Terban. Para peserta diberikan sosialisasi berupa materi dasar kebencanaan yang meliputi faktor-faktor yang memicu terjadinya tanah longsor di wilayah tersebut, potensi bencana wilayah, video edukasi terkait mitigasi tanah longsor, serta pemaparan peta kerawanan longsor di Desa Terban. Kegiatan ini juga bertujuan agar anggota ANTASENA yang sudah pernah dibentuk oleh BPBD sebelumnya mendapat penyegaran kembali terkait materi kebencanaan serta diberikan

Levin Novemdru menjelaskan bahwa peta kerawanan tanah longsor menjadi alat penting untuk perencanaan tata ruang desa dan pengambilan keputusan saat potensi bencana terdeteksi. “Dengan adanya peta kerawanan, masyarakat bisa lebih waspada dan memahami area yang memiliki risiko tinggi sehingga dapat meminimalisir kerugian jiwa dan harta, serta menjadi dasar bagi pemerintah desa dalam membuat kebijakan yang aman untuk masyarakat” ujarnya. Pembuatan peta ini dilatarbelakangi oleh belum adanya peta kerawanan longsor di Desa Terban dan memang sangat dibutuhkan oleh desa saat ini untuk dasar pengambilan keputusan dan kesiapsiagaan.

Narasumber memeparkan materi. Foto Dokumen Pribadi

Peta kerawanan longsor disusun atas 5 parameter yaitu, curah hujan, kemiringan lereng, jenis tanah, jenis batuan, serta penutupan lahan. Parameter yang digunakan semuanya merupakan data sekunder yang didapatkan dari beberapa sumber seperti Digital Elevation Model Nasional (DEMNAS), BMKG, KLHK, FAO, Badan Informasi Geospasial (BIG), dll. Data tersebut kemudian diolah menggunakan ArcGis 10.8 menggunakan metode skoring dan overlay. Skoring dilakukan menggunakan parameter PERMEN PU No.22/2007 sehingga dihasilkan peta kerawanan longsor untuk Desa Terban

Peta Kerawanan Longsor Desa Terban, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang. Foto Levin Novremdu

Sosialisasi ini tidak hanya memberikan pengetahuan teknis, tetapi juga menguatkan koordinasi antarwarga. Tim KKN UNNES GIAT 12 menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah desa, karang taruna, dan relawan Antasena dalam membangun desa tangguh bencana. Partisipasi aktif warga menjadi kunci keberhasilan program mitigasi yang berkelanjutan.

Levin Novemdru sebagai narasumber dan pembuat peta menuturkan bahwa pembuatan peta ini diharapkan dapat membantu pemerintah desa dalam mengambil keputusan, serta menigkatkan kesiapsiagaan masyarakat Desa Terban untuk menuju Desa Terban yang semakin tangguh dan sigap dalam menghadapi bencana.

Audiens bertanya terkait materi yang dipaparkan. Foto Dukumen Pribadi

Giat 12 Universitas Negeri Semarang (UNNES) di Desa Terban ini dilaksanakan dengan bimbingan langsung dari Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Tri Astuti, M.Pd.

Kegiatan Sosialisasi ini terselenggara berkat kolaborasi 12 mahasiswa yang penuh semangat, yaitu Levin Novemdru, Jonathan Siahaan, Muhammad Praditiya Mursid, Davina Aisyah Nur Kamila, Jauza Rahmatika Putri, Davina Agustine Putri Ensu, Tri Navisa Amalia, Femi Presila Awalia, Sabrina Eka Salsabila, Nadia Alisna Putri, Salma Khairunnisa’ Anugerah, , dan Deswa Havid Fernando. Seluruh mahasiswa berperan aktif mulai dari tahap perencanaan, persiapan, hingga pelaksanaan kegiatan, sehingga setiap rangkaian acara dapat berjalan lancar, tertata, dan penuh antusiasme.