Doa yang Tersesat di Jakarta dalam Cerpen Lelaki yang Terus Berdoa

Mahasiswa UIN Syarif Hidayattullah Jakarta, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Gibran Khairuzaad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kehidupan di kota besar sering dipandang sebagai jalan menuju masa depan yang lebih baik. Namun, di balik gemerlap kota, banyak orang harus menghadapi kerasnya persaingan hidup hingga terpaksa mengambil keputusan yang bertentangan dengan hati nuraninya. Cerpen Lelaki yang Terus Berdoa karya Andi Wirambara menggambarkan kenyataan tersebut melalui kisah seorang lelaki yang datang ke Jakarta untuk membawa pulang adiknya, tetapi justru kehilangan arah akibat tekanan hidup yang terus menghimpit.
Menurut Robert Stanton dalam Teori Fiksi, makna cerita dibangun melalui keterpaduan fakta-fakta cerita, tema, dan sarana-sarana sastra. Fakta cerita berupa karakter, alur, dan latar menjadi dasar berkembangnya cerita, sedangkan sarana sastra membantu pengarang menyampaikan makna kepada pembaca. Melalui ketiga unsur tersebut, cerpen ini menghadirkan pergulatan moral seorang manusia yang berusaha tetap mempertahankan nuraninya di tengah kerasnya kehidupan kota.
Karakter Lelaki yang Tetap Menjaga Nurani
"Tak henti menggamit doa untuk ibunya, ibunya, ibunya, barulah untuk keselamatannya hingga tiba di Jakarta."
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa tokoh utama merupakan pribadi yang penuh kasih sayang dan menjadikan doa sebagai pegangan hidup. Bahkan sebelum memikirkan keselamatan dirinya sendiri, ia lebih dahulu mendoakan ibunya. Menurut Robert Stanton, karakter merupakan salah satu fakta cerita yang membangun keseluruhan peristiwa. Pengarang tidak menjelaskan sifat tokoh secara langsung, melainkan memperlihatkannya melalui tindakan dan kebiasaan tokoh. Doa yang terus dipanjatkannya menjadi penanda bahwa tokoh masih memiliki hati nurani meskipun kemudian dipaksa menghadapi berbagai tekanan hidup.
Alur yang Mengubah Harapan Menjadi Penyesalan
"Tak lama usai ia turun dari bus, liarnya terminal langsung melahap dirinya dengan kemunculan copet yang menyambar ranselnya."
Peristiwa tersebut menjadi titik balik dalam cerita. Sejak kehilangan ransel, seluruh rencana tokoh mulai berantakan. Ia gagal menemukan adiknya, kehabisan uang, dan akhirnya mengambil keputusan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Stanton menjelaskan bahwa alur merupakan rangkaian peristiwa yang saling berhubungan secara sebab-akibat. Dalam cerpen ini, pencopetan yang dilakukan tokoh bukanlah tindakan yang muncul tanpa alasan, melainkan hasil dari serangkaian peristiwa yang terus mempersempit pilihan hidupnya.
Jakarta sebagai Latar yang Membentuk Konflik
"Jakarta tak memberi waktu untuk merasa iba, apalagi berharap."
Kalimat tersebut tidak hanya menggambarkan kondisi kota, tetapi juga memperlihatkan suasana batin tokoh. Jakarta hadir sebagai ruang yang keras, penuh ketidakpedulian, dan memaksa setiap orang bertahan hidup dengan caranya sendiri. Menurut Stanton, latar merupakan fakta cerita yang memberikan dasar konkret bagi berlangsungnya peristiwa. Dalam cerpen ini, latar tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya cerita, tetapi juga menjadi penyebab berkembangnya konflik yang dialami tokoh utama.
Pengulangan Doa sebagai Sarana Sastra
"Doanya makin pendek. Makin sunyi."
Pengulangan kalimat tersebut menjadi salah satu sarana sastra yang paling menonjol dalam cerpen. Robert Stanton menjelaskan bahwa pengarang menggunakan sarana sastra untuk memilih dan menyusun detail cerita sehingga menghasilkan makna tertentu. Kalimat yang terus diulang ini menunjukkan perubahan batin tokoh. Pada awal cerita, doa dipenuhi harapan dan keyakinan, sedangkan menjelang akhir cerita doa berubah menjadi lirih dan singkat. Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan hidup perlahan mengikis optimisme tokoh, meskipun ia tidak pernah benar-benar meninggalkan imannya.
Ironi dalam Doa Seorang Pencopet
"Semoga pemilik dompet ... diberikan rezeki berlimpah tak terputus-putus."
Kutipan tersebut menjadi ironi paling kuat dalam cerpen. Tokoh utama baru saja mengambil dompet seseorang, tetapi pada saat yang sama ia mendoakan agar korban pencopetan memperoleh rezeki yang lebih baik. Ironi ini memperlihatkan pertentangan antara tindakan dan hati nurani tokoh. Menurut Stanton, konflik merupakan salah satu sarana sastra yang membangun makna cerita. Konflik terbesar dalam cerpen ini bukan sekadar pencopetan, melainkan benturan antara nilai moral yang dimiliki tokoh dengan kenyataan hidup yang memaksanya melakukan kejahatan.
Ketika Keadaan Mempersempit Pilihan Moral
"Ia merasa masihlah seorang lelaki baik yang tak memiliki pilihan lain demi mendamaikan lapar dan hampa perutnya."
Kutipan tersebut memperlihatkan tema utama cerpen, yaitu pergulatan manusia dalam mempertahankan moral ketika dihadapkan pada tekanan hidup. Menurut Robert Stanton, tema merupakan makna utama yang dibangun melalui keseluruhan unsur cerita. Dalam cerpen ini, karakter lelaki tanpa nama, alur yang penuh cobaan, latar Jakarta yang keras, serta pengulangan doa saling mendukung untuk menunjukkan bahwa kejahatan tidak selalu lahir dari niat jahat. Terkadang, keadaanlah yang mempersempit ruang pilihan seseorang hingga ia harus mengorbankan prinsip yang selama ini diyakininya.
Makna Sebuah Doa
Cerpen Lelaki yang Terus Berdoa tidak mengajak pembaca membenarkan tindakan pencopetan, tetapi mengajak memahami bahwa setiap tindakan memiliki latar belakang yang kompleks. Melalui fakta cerita, tema, dan sarana sastra sebagaimana dijelaskan Robert Stanton, Andi Wirambara memperlihatkan bahwa doa menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh perjalanan tokohnya. Doa yang pada awalnya dipenuhi harapan berubah menjadi bisikan lirih yang lahir dari rasa bersalah. Dengan demikian, cerpen ini mengingatkan bahwa di balik sebuah kejahatan sering kali tersimpan perjuangan panjang untuk tetap menjadi manusia yang tidak kehilangan nurani.
Daftar Pustaka
Stanton, R. (2022). Teori Fiksi (Terj. Sugihastuti & Rossi Abi Al Irsyad). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Wirambara, A. (2026, 18 Maret). Lelaki yang Terus Berdoa. Kompas.
