Konten dari Pengguna

Jangan-Jangan Kita Salah Mendefinisikan Arti Belajar

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gideon Budiyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto : dok. pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Foto : dok. pribadi

Pernah tidak kita melihat atau mengalami sendiri anak-anak kita saat di sekolah terlihat begitu rapi dan disiplin namun saat kembali di rumah malah malas dan berantakan atau saat di sekolah, karena habis mendapatkan pelajaran tentang membuang sampah pada tempatnya, anak-anak begitu antusias membuang sampahnya atau bahkan mengumpulkan sampah yang berserakan untuk kemudian dibuang ke tempat sampah namun saat sampai ke rumah, dengan seenaknya menumpuk sampah di mana-mana.

Mungkin di antara kita akan berkomentar seperti ini,"Orang tua juga harus memberi teladan saat anak ada di rumah, tidak semua beban dilimpahkan ke pihak sekolah.” Atau, "Anak terlalu dimanjakan di rumah sehingga terkesan tidak memiliki tanggung jawab, kalau di sekolah beda, anak diajar untuk bertanggung jawab.”

Semua pendapat itu benar, tidak ada yang salah.

Namun, kalau kita cermati lebih dalam, kejanggalan mulai muncul.

Kenapa saat anak berada di sekolah, mereka mau melakukan tugas yang disuruh oleh guru namun saat di rumah, pelajaran itu tidak bisa mereka aplikasikan sama seperti di sekolah.

Berikutnya adalah kasus tentang perundungan.

Penulis percaya, sekolah di manapun sudah berkali-kali mengingatkan dan memberikan pelajaran tentang bahaya perundungan.

Namun, tetap saja kita pasti pernah membaca, mendengar atau bahkan melihat sendiri perundungan tetap terjadi di sekolah.

Jadi, siapa yang salah? (Kalau memang mau dicari pihak yang salah dari kedua kasus di atas).

Mungkin jawabannya, tidak ada yang salah. Sekolah sudah mengupayakan yang terbaik untuk anak-anak didiknya. Anak-anak pun, sampai dalam tahap tertentu, masih senang eksplorasi dan mencari jati diri.

Satu-satunya hal yang bisa kita benahi adalah mendefinisikan kembali apa itu artinya belajar.

Selama ini, kita terlanjur memahami bahwa belajar adalah sebuah kegiatan yang dilakukan untuk memahami hal yang awalnya tidak diketahui menjadi mahir atau setidaknya menjadi tahu. Ukuran keberhasilan sebuah proses pembelajaran, bagi anak-anak sekolah, adalah nilai.

Semakin nilai bagus, semakin seorang anak dianggap mampu dan pintar dalam memahami pelajarannya di sekolah.

Karena ukurannya hanya nilai, kita terkadang lupa mengevaluasi kembali pemahaman anak-anak tentang sebuah pelajaran. Mereka benar-benar mengerti sampai memahami dan bertanggung jawab atau hanya sekedar mengerti saja tanpa memahami apalagi bertanggung jawab.

Misalkan, ada materi pelajaran di sekolah tentang aturan di rumah.

Guru di sekolah memberikan pertanyaan : Apa yang harus dilakukan setelah bermain?

Anak-anak diberikan pilihan berganda untuk menjawab :

A.Tidur

B.Merapikan mainan

C.Menonton TV

D.Bermain lagi

Tentu saja, anak akan dengan gampangnya menjawab yang paling ideal yaitu jawaban B. tanpa benar-benar memahami kenapa ia harus memilih jawaban B.

Lain halnya kalau anak diberikan situasi seperti ini,”Kamu sudah selesai bermain. Ibu sedang memasak dan mainanmu berserakan. Apa yang akan kamu lakukan?”

Jawaban si anak akan menentukan konsekuensi yang akan terjadi sehingga anak akan benar-benar mengetahui apa yang seharusnya ia lakukan saat menghadapi situasi seperti itu dengan penuh rasa tanggung jawab.

Inilah yang disebut sebagai deep learning.

Dengan kata lain, anak dilatih bukan hanya bisa menjawab namun bisa memahami situasi demi situasi sehingga pilihan-pilihan yang diambil oleh anak benar-benar bisa dipahami dan dimengerti oleh anak, bukan hanya karena itu pilihan ideal yang bisa dipilih.

Mungkin, anak bisa saja salah memilih tindakannya namun justru di sinilah proses belajar itu menjadi efektif. Saat anak salah memilih, biarkan dia melihat konsekuensi dari pilihan yang salah itu. Kasih kesempatan anak untuk mencoba lagi sampai menemukan jawaban baru yang lebih sesuai.

Belajar seharusnya tidak diukur hanya dari apa yang bisa dijawab anak, tetapi juga dari apa yang mampu mereka lakukan setelah mendapatkan jawaban itu. Apakah anak bisa menjadi lebih bertanggung jawab dalam kehidupannya atau malah sebaliknya?