Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
29 Ramadhan 1446 HSabtu, 29 Maret 2025
Jakarta
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Konten dari Pengguna
Menjaga Lisan dengan Tulisan
25 Maret 2025 7:25 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Gideon Budiyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Beberapa waktu belakangan, banyak sekali kejadian di negara ini yang membuat kita sedih, marah dan kecewa. Mulai dari bensin yang dioplos, pengurangan tenaga kerja dimana-mana, kasus korupsi yang seakan tidak ada habisnya serta masih banyak lagi masalah-masalah lainnya.
ADVERTISEMENT
Belum lagi munculnya kebijakan-kebijakan pemerintah yang malah membuat rakyat semakin bingung mau dibawa kemana sebenarnya negara ini?Jangan lupa, kondisi perekonomian pun disinyalir tidak semakin baik di tahun ini, meski tidak dapat dipungkiri, hal ini bisa terjadi karena imbas dari kondisi perekonomian global yang memang sedang tidak baik-baik saja.
Di antara semua itu, satu hal yang paling membuat miris adalah statement-statement dari pejabat pemerintah saat memberikan tanggapan terhadap suatu peristiwa. Terkesan tidak serius dan 'asal bunyi'. Tidak memberikan solusi atau ketentraman malah berpotensi menimbulkan masalah baru.
Padahal, seharusnya saat seorang pejabat pemerintah memberikan suatu pendapat atau statement, haruslah sebijaksana mungkin karena itu merupakan pendapat dari pemerintah itu sendiri. Kalau statement dari pemerintah saja seperti main-main, bagaimana nasib rakyat yang dipimpinnya?
ADVERTISEMENT
Dari sejak kita duduk di bangku sekolah, kita sering kali mendengar istilah cepat berpikir namun lambat untuk berkata-kata. Ini bukan berarti kita diajarkan untuk menjadi orang yang pasif, tidak berani untuk mengeluarkan pendapat atau berdiri teguh membela apa yang kita anggap benar dengan suara lantang.
Istilah ini mau mengajarkan kita untuk berpikir dulu sebelum berkata-kata supaya kata-kata yang kita keluarkan penuh makna. Bukan omong kosong atau sebatas janji belaka tanpa ada realisasinya.
Selain itu, kata-kata yang kita keluarkan bisa mencerminkan siapa kita yang sesungguhnya.
Apakah kita orang yang penuh dengan perhitungan, sembrono, tidak beretika atau bahkan malas untuk berpikir.
Semua itu, sebenarnya, bisa terlihat dari cara kita berbicara.
Memang, ada kursus-kursus tertentu yang bisa memoles gaya orang berbicara dan tutur katanya sehingga bisa menampilkan image yang baik, santun, pintar serta berwawasan luas.
ADVERTISEMENT
Namun, biasanya, saat diperhadapkan kepada situasi tertentu yang tidak nyaman, karakter asli orang tersebut akan muncul dan sirnalah semua hasil dari kursus-kursus tersebut.
Tidak mudah memang untuk mengubah karakter seseorang karena itu sudah terbentuk dari berbagai macam hal yang kita alami sejak terlahir di dunia.
Tapi, kita bisa meminimalkan dampak buruk yang bisa terjadi terhadap orang lain terutama saat kita berbicara.
Salah satu caranya ialah dengan menulis.
Saat menulis, kita dipaksa untuk mencari kata-kata atau kalimat yang baik yang bisa mewakili apa yang ingin kita sampaikan. Apakah kita bisa menulis dengan kata-kata atau kalimat yang tidak baik? Tentu saja bisa namun yang kita harus pikirkan saat mulai menulis adalah apakah tulisan kita itu bisa dinikmati oleh orang lain? Apakah tulisan kita bisa menyampaikan apa yang kita ingin sampaikan dengan baik? Apakah tulisan kita layak apabila dibaca oleh orang lain?
ADVERTISEMENT
Disiplin seperti itulah yang membuat otak kita terbiasa berlatih dengan menggunakan kata-kata sampai akhirnya tersusun kalimat-kalimat yang baik dan tepat sasaran.
Sehingga, karena sudah terbiasa, saat berbicara pun, kita bisa mengeluarkan statement-statement yang baik, tidak menyakiti apalagi sampai meremehkan orang lain dan yang lebih penting, saat kita menghadapi situasi yang buruk namun di saat yang bersamaan kita diharuskan untuk berbicara, niscaya kata-kata yang kita keluarkan menjadi jauh lebih bermakna dan bermanfaat bagi orang-orang yang mendengarnya.