Banyu Biru Dukung Kemenperin Bangun Ekosistem Industri Semiconductor & AI

Menulis merangsang pemikiran, jadi saat Anda tidak bisa memikirkan sesuatu untuk ditulis, tetaplah mencoba untuk menulis.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Gie Wahyudi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jakarta, Senin, 26 Januari 2026 Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Banyu Biru Djarot menyampaikan pandangannya dalam Rapat Kerja Komisi VII DPR RI bersama Menteri Perindustrian. Dalam forum tersebut, Banyu Biru menegaskan dua poin utama, yakni apresiasi terhadap kinerja industri nasional dan penguatan kebijakan strategis ke depan.
Dalam pernyataannya, Banyu Biru menyampaikan apresiasi atas capaian sektor industri nasional yang dinilai menunjukkan tren positif. “Saya ingin menyampaikan dua hal, pertama apresiasi dan kedua penguatan. Apresiasi pertama untuk IPNM yang kurva pertumbuhannya di atas pertumbuhan ekonomi nasional, kedua ranking manufacturing value added nomor satu di ASEAN tahun 2024, ketiga terima kasih sudah gercep menangani pasca bencana dengan restart industri kecil di Sumatera,” ujar Banyu Biru.
Pada poin penguatan, Banyu Biru menyoroti pengenalan Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC) oleh Menteri Perindustrian sebagai langkah strategis pembangunan industri masa depan. Ia menekankan pentingnya dukungan insentif bagi sektor-sektor kunci.
“Pada poin penguatan, ICDEC Indonesia Chip Design Collaborative Center yang dikenalkan oleh Menteri Perindustrian, saya memberikan penekanan pada insentif industri semikonduktor, AI, cloud infrastruktur, dan pengembangan hilirisasi logam tanah jarang,” katanya.
Menurut Banyu Biru, arah kebijakan industri nasional sudah berada di jalur yang tepat. “Menurut saya arahnya sudah sangat bagus, dari digital economy ke intelligence economy,” ujarnya.
Ia juga merujuk teori hype dari Jensen Huang, CEO NVIDIA, sebagai kerangka pengembangan ekosistem industri berbasis teknologi tinggi.
“Teori hype dari Jensen Huang NVIDIA itu ada lima poin yang meliputi energinya seperti apa, chip-nya, model AI seperti apa, cloud infrastruktur, dan apps-nya seperti apa,” jelas Banyu Biru.
Selain itu, Banyu Biru juga mengapresiasi keterlibatan dunia pendidikan dalam pengembangan ICDEC.
“Saya juga mengapresiasi 16 kampus atau universitas yang ikut dalam pengembangan ICDEC. Mengacu data Kementerian Ekonomi Kreatif 2025, untuk apps pencapaian investasi dan dukungan anggaran sudah Rp40 triliun lebih. Potensinya sangat luar biasa,” ujarnya.
Ia menambahkan, secara komparatif Indonesia dapat belajar dari praktik global. “Secara komparasi studi di Taiwan dengan TSMC, SMIC di China, Samsung, dan Intel. Apabila kita bisa mengadopsi seperti ini, akan menjadi luar biasa,” kata Banyu Biru.
Lebih lanjut, Banyu Biru mendorong perancangan insentif fiskal dan nonfiskal yang selektif dan strategis. “Saya mendorong penguatan dan support untuk kita belajar lebih jauh bagaimana insentif fiskal dan nonfiskal dirancang secara selektif dan strategis, sehingga tidak hanya menarik investasi tetapi juga memastikan pembangunan ekosistem industri dari hulu ke hilir, termasuk hilirisasi logam tanah jarang yang berorientasi nilai tambah dan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Banyu Biru menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif ICDEC. “Terakhir, saya ucapkan selamat. ICDEC-nya ini keren dan paten,” tutup Banyu Biru Djarot.
